Museum Nasional RI

Punya kesempatan mengunjungi Museum Nasional rasanya seperti dream come true buat saya. Saya ingat jaman SD saya pernah membaca buku cerita tentang sebuah keluarga yang suka piknik ke tempat bersejarah, salah satunya ke museum nasional. Kenangan itu masih membekas dalam benak saya. Selain itu, museum ini merupakan museum pertama dan terbesar di Asia Tenggara. Wow banget! Jalan-jalan ke berbagai museum di Indonesia sepertinya belum sempurna jika belum ke museum nasional.

Ditengok ke belakang, museum ini dirintis mulai tahun 1778 dengan gedung pertama di jalan Kalibesar. Pada masa kolonial Inggris, museum dipindahkan ke jalan Majapahit yang sekarang menjadi Sekretariat Negara RI. Terakhir pada tahun 1868 Belanda membangun gedung baru di tempat museum berdiri sekarang dengan nama  Royal Batavian Society of Arts and Sciences Batavia Museum. Sejak tahun 1979, museum ini diganti lagi menjadi Museum Nasional Republik Indonesia.

Sebagai museum yang memiliki koleksi terlengkap di Asia Tenggara, museum nasional telah mengoleksi lebih dari 140.000 benda kuno dan bernilai sejarah dari seluruh Indonesia. Saking banyaknya, hanya sepertiga dari total koleksi yang bisa dipamerkan di dalam gedung museum. Ada dua gedung yang bersebelahan di dalam museum nasional. Gedung pertama disebut gedung gajah terdiri dari dua lantai. Gedung baru disebut gedung arca yang terdiri dari lima lantai.

Well, museum ini sering juga disebut museum atau gedung gajah. Persis di halaman depan dipajang patung gajah sebagai hadiah dari raja Thailand Chulalongkorn yang datang ke Indonesia pada tahun 1871.

Gedung Gajah
Penjelajahan saya mulai dari gedung gajah. Setelah membayar tiket masuk, saya menitipkan tas dan mengambil brosur di lobi. Jujukan saya yang pertama adalah taman arca. Sesuai namanya, disini dipajang ratusan arca dari batu zaman kerajaan Hindu-Buddha dari seluruh Indonesia. Sebagian ditaruh di halaman dan sisanya diletakkan di dalam gedung.

Fototaman arca

Koleksi arca terbesar yaitu arca raja Pagaruyung Adityawarman sebagai Buddha Bhairawa setinggi empat meter. Sosoknya digambarkan sebagai dewa yang berdiri di atas tengkorak dan mayat. Seraam! Arca ini ditemukan di Dharmasraya, Sumbar.

Foto
arca Bhairawa, Ganesha, Garuda dan kepala Buddha

Berikutnya saya menuju ruangan prasejarah. Dipamerkan replika fosil dan benda-benda peninggalan manusia purba di Indonesia sebelum masa kerajaan Hindu-Buddha.

FotoFotoFotoFoto
replika fosil, nekara, arca perunggu dan kapak batu dan gerabah

Di belakang ruang prasejarah terdapat ruangan yang menyimpan miniatur rumah-rumah adat tradisional berbagai suku di Indonesia. Ruamh-rumah mini ini diletakkan begitu saja dalam sebuah ruangan besar tanpa kaca pelindung. Sebagian tampak kotor dan berdebu.

FotoFotoFoto
rumah adat Batak Karo, Mandailing dan Simalungun

FotoRuangan selanjutnya adalah ruangan keramik dan gerabah. Ditampilkan aneka produk keramik tempo dulu dari berbagai negara seperti Cina, Arab dan Eropa. Tidak ketinggalan produk gerabah dari berbagai daerah di Indonesia.

Ada ruangan lain di lantai pertama yaitu ruangan tekstil dan ruang Thailand. Kedua ruangan ini hanya bisa diakses dari taman arca. Saat kesana ruang Thailand sedang tutup. Ruang tekstil berisi aneka ragam produk tenun, sulam dan batik tradisional seluruh Indonesia.

Fotoulos sibolang; ulos duka cita

Berikutnya saya menuju ruangan koleksi numismatika atau koleksi uang dan koin kuno, koleksi heraldika atau piagam dan medali kuno dan koleksi historis atau koleksi benda-benda zaman sejarah.

Fotoarca Buddha dari Mamuju, Sulawesi Barat

Saya lalu melangkah ke lantai dua yang bertema khasanah atau harta karun. Dinamakan demikian karena di ruangan ini disimpan kekayaan bangsa Indonesia yang tidak ternilai harganya. Tidak heran sarana pengamanan berupa kamera pengawas diperbanyak dan pintu detektor logam sengaja dipasang. Tidak lain agar kekayaan bangsa tidak dicuri dan dijual ke luar negeri.

Disini dipamerkan koleksi benda-benda yang terbuat dari emas seperti regalia, perhiasan, uang. Selain itu dipamerkan benda-benda purbakala yang mempunyi nilai historis sangat tinggi. Misalnya arca Ken Dedes dalam sosoknya sebagai Prajnaparamitha.

FotoFoto 
mahkota raja Kutai Kartanegara dan mahkota Sultan Siak Sri Indrapura
FotoFoto 
perhiasan suku Batak Karo; arca prajnaparamita

Sebenarnya di lantai dua terdapat larangan memotret. Oleh karena itu saya menggunakan kamera hp nggak boleh ditiru. Puas berkeliling, saya turun lagi di lantai satu.

Berjalan ke sayap kanan gedung gajah, saya sampai di ruangan terbesar di museum nasional yaitu ruangan etnografi. Tempat ini merupakan tempat favorit saya. Disini disajikan pernak-pernik benda-benda etnis dari Sabang sampai Merauke sebagai representasi budaya Indonesia.

Pertama ada ada peta Indonesia. Ada peta provinsi, peta persebaran suku bangsa dan peta bahasa daerah. Setiap peta dikelilingi lukisan wajah berbagai macam suku di Indonesia lengkap dengan pakaian adat masing-masing. 🙂

Foto

Bagian pertama adalah galeri Sumatera. Menampilkan benda-benda dari Aceh hingga Lampung. Termasuk patung nenek moyang dari pulau Nias yang berwujud manusia telanjang.

FotoFotoFoto
kain ulos dari Tarutung, pakaian perang Nias, patung Sigale-gale

patung nenek moyang, Nias

Galeri selanjutnya adalah galeri Jawa. Disini dipamerkan aneka benda kuno dari berbagai suku sepeeri Sunda, Banten, Baduy dan Jawa. Termasuk di dalamnya satu set panggung wayang kulit lengkap dengan anak wayang dan gamelan.

, pasren (kamar tidur pengantin), wayang kulit Jawa, gamelan Banten

Di galeri Bali, bisa disaksikan satu set gamelan Bali, wayang kulit Bali, barong dan bermacam-macam peralatan tradisional yang masih dipakai masyarakat Bali.

FotoFotoFoto
barong, gamelan Bali, wayang kulit Bali

FotoFotoFoto 
miniatur rumah adat Bali, topi pendeta, arca dari uang kepeng

Di  bawah ini benda-benda yang ada di galeri Nusa Tenggara. Meliputi provinsi Nusa Tenggara Barat dan Timur.

FotoFotoFotoFoto
patung raja Lombok, sasando Rote, tifa, topi daun lontar

Di galeri Kalimantan banyak sekali benda-benda khas dari suku Dayak yang menghuni pedalaman Kalimantan dan suku Melayu dan Pesisir yang tinggal di pesisir.

FotoFotoFoto 
tameng suku Dayak, baju dari kulit kayu Dayak Tinggalan, gamelan Banjar 

Masyarakat Banjar mengenal gamelan berawal pada abad ke-14 ketika seorang putri Banjar menikah dengan pangeran dari Majapahit.

Selanjutnya ada benda-benda dari pulau Sulawesi. Di bawah ini adalah alat musik lalosu dari Bugis. Di sebelahnya ada tau-tau, patung berwujud manusia sebagai perwujudan arwah nenek moyang.

FotoFoto 

Galeri Indonesia Timur yaitu kepulauan Maluku dan Papua menjadi galeri penutup. Kebudayaan Melanesia di Maluku dan Papua membuat daerah ini mempunyai corak kebudayaan yang lain dari daerah lain di Indonesia.

FotoFotoFoto
perahu suku Asmat, koteka, patung nenek moyang

FotoFotoFoto
tutup kemaluan wanita, tutup dada laki-laki, korwar (tengkorak nenek moyang)

Gedung Arca
Tidak terasa dua jam telah berlalu saya lewatkan di gedung gajah. Masih ada satu gedung lagi yang belum saya lihat yaitu gedung arca. Gedung ini berarsitektur modern. Terdiri dari empat lantai. Dimana setiap lantainya mengusung tema sendiri-sendiri.Antar lantai dihubungkan dengan eskalator dan lift.

Lantai satu  adalah ruang manusia dan lingkungan serta ruang Asean. Sayang ruang Asean tidak bisa dimasuki karena tutup.

FotoFoto
diorama manusia purba, model kuburan manusia purba, persawahan di Sumatera Barat

Sedangkan lantai dua menampilkan pameran hubungan antara manusia kaitannya dengan ilmu pengetahuan, ekonomi, teknologi.

FotoFotoFotoFoto 
tempat perhiasan, hiasan perahu Maluku, lemari Palembang, tabuik dari Pariaman

Naik ke lantai tiga bertema organisasi sosial dan pola pemukiman. Di lantai paling atas yang bertema emas keramik asing tidak bisa saya masuki karena sudah tutup.

FotoFotoFoto
miniatur rumah adat Kudus, lompat batu Nias, hiasan rumah di Jawa

Sekali lagi, saya berhasil mewujudkan impian masa kecil saya. Jalan-jalan keliling Indonesia dalam sekejap.

Museum Nasional RI
Buka :
Selasa-Kamis, Minggu : 08:30-14:30 WIBB
Jumat : 08:30-11:30 WIBB
Sabtu : 08:30-13:30 WIBB
Senin dan hari libur nasional tutup
TIket :
Dewasa : Rp 5.000,-
Anak-anak : Rp 2.000,-
Asing : Rp 10.000,-
Rombongan :
Dewasa : Rp 3.000,-
Pelajar : Rp 1.000,-

Fotosenyum wajah Indonesia 🙂

Iklan

26 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s