Jalan-jalan (Geje) ke Ismail Marzuki

Sudah terlalu sering ke museum, saya dan Indra ingin mencoba datang ke Taman Ismail Marzuki (TIM) di Cikini, Jakarta Pusat. Kebetulan hari Minggu itu akan ada gathering komunitas Backpacker Dunia di kafe Pondok Penus dekat kompleks TIM.

Dari kosan di Bintaro kami naik metromini jurusan Senen. Panik sampai Cikini lewat Taman Menteng bus tidak lewat TIM membuat kami berinisiatif turun di stasiun Gondangdia. Saya lihat di peta dari stasiun ke TIM masih jauh. Indra mengajak saya naik bajaj. Setelah tawar-menawar, kami naik bajaj dan setelah belok kanan-kiri-kanan beberapa kali sampai juga di TIM.

Indra dan Bajaj 

Ternyata TIM ini luas sekali. Sebelum keliling saya seret ke Indra ke pondok Penus dulu. Rupanya di dalam acara sharing info backpacker sedang berlangsung. Tema hari ini adalah keliling India dan Nepal. Mbak Elok hadir juga. Indra beli satu buku Backpacking Hemat ke Australia karya mbak Elok. Sekitar satu jam nongkrong disitu kami cabut meski acara belum selesai.


Sadar kami narsis, kami berfoto-foto dulu di TIM. Berikutnya kami mau menuju ke planetarium. Sialnya karena malas googling, kami tidak tahu bahwa planetarium sedang tutup. Yaaah…penonton kecewa. 😦


Tidak ingin kecewa sudah jauh-jauh ke TIM tidak mendapatkan sesuatu, kami menyambangi sebuah pameran benda pusaka dan lukisan di samping planetarium. Namun, tiket masuknya cukup mahal buat kantong mahasiswa kami. Rp 10.000,- per orang tidak pakai diskon 😦

Pertama, kami melihat-lihat foto-foto Jakarta tempo dulu.

SMA 1-2 Jakarta, gereja Kathedral, stasiun Jakarta Kota

fakultas kedokteran UI, trem listrik, pasar baru

Selanjutnya ada keris-keris dengan harga jual mencapai jutaan rupiah.


Di tempat lain ada mushaf Al Qur’an sepanjang satu setengah meter, pohon jati yang membentuk kalimat Alloh dan barang-barang lain. Khusus pohon jati ini ditawarkan sebesar Rp 150.000.000,- saja 😀

Kemudian saya lihat banyak sekali lukisan yang mendominasi pameran. Ada berbagai aliran yang saya tangkap. Mulai dari naturalisme, realisme, ekspresionisme, dekoratif bahkan abstrak juga ada. Objek lukisannya juga bermacam-macam.



Terakhir, yang bikin pameran ini agak geje dan apa-apaan adalah wahana rumah hantu. Karena kami datang siang hari, rumah hantu ini belum buka. Sudah keburu masuk, Indra malah minta foto-foto sama ibu yang jadi aktris hantunya. Namun, riasannya malah kaya badut ketimbang hantu 🙂

 


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s