Torehan Sejarah di Goa Kasah

Cara terbaik untuk mengusir rasa takut adalah dengan menghadapi rasa takut itu. Sekian lama saya mendengar pepatah itu baru sekarang saya benar-benar ‘berani’ melaksanakannya. Pengalaman ke goa Kasah kemarin mengajarkan saya bahwa rasa ketakutan itu harus dilawan jika kita mau untuk mengusir rasa takut itu.

Ibarat manusia, Kerinci ibarat pacar buat saya. Saya jatuh hati dengan alam Kerinci, peninggalan sejarah, budayanya dan lidah saya cocok dengan masakan Kerinci. Kebetulan sekali waktu saya pulang ke Sungai Penuh ada tawaran pergi ke goa Kasah di Kayu Aro dari Luke. Luke mungkin tertarik dengan kehidupan liar di dalam goa, sementara saya penasaran dengan jejak prasejarah di goa Kasah. Ini akan menjadi pengalaman pertama saya menyusuri goa.

Dari Sungai Penuh kami berkumpul di rumah mas Hendi di Koto Renah. Mas Hendi pergi naik vespa sedangkan saya memboncengkan Luke yang hari itu sedang sakit leher. Tiba di Kersik Tuo kami bertemu dengan pak Rapani, guide kami yang akan membawa kami ke goa Kasah.


pagi yang cerah di kaki Kerinci, para petani menuai daun teh

Dari Kersik Tuo saya dibonceng pak Rapani naik motor ladang menuju desa Sungai Sampun. Mas Hendi memboncengkan Luke pakai motor bebek kawannya di Kersik Tuo. Dari Sungai Sampun perjalanan sesungguhnya dimulai.

Dari Sungai Sampun ke Renah Kasah jalan amat buruk. Awalnya berupa jalan tanah lebar. Lama-lama berubah menjadi jalan lumpur. Motor harus lewat di tengah titian kayu yang dibuat seadanya. Luke, kawan saya terperosok ke dalam lumpur karena mencoba ‘kreatif’ mencari jalan alternatif.


terperosok ke dalam lumpur setinggi lutut

Luke akhirnya memilih berjalan kaki menyusuri jalan yang ‘ajaib’ ini. Dari jalan berlumpur berganti menjadi jalan penuh potongan kayu. Jalan kayu ini sebenarnya tepian Rawa Bento. Tanpa potongan kayu mustahil tanah menjadi keras dan bisa dilewati motor. Alhasil motor kami berguncang-guncang hebat membuat perut saya terkocok-kocok melintasi jalan kayu ini.

Di sebelah kiri kami terbentang rawa Bento. Membentang dari desa Sungai Sampun hingga menjelang masuk desa Renah Kasah. Rawa ini hampir seluruhnya ditumbuhi rumput Bento. Membuat siapapun bisa tercebur ke dalamnya tanpa disadari. Beberapa kali kami berpapasan dengan warga desa Renah Kasah yang mengangkut hasil panen ke Kersik Tuo.


rawa bento, motor berasap

Terus mengikuti satu-satunya jalan yang ada, kami menyusuri pinggiran bukit yang berbelok-belok hingga akhirnya sampai di desa Renah Kasah. Desa ini sangat terpencil dari kota kecamatan. Total satu jam perjalanan naik motor dari Sungai Sampun ke Kersik Tuo. Perjalanan yang tidak bisa dibilang menyenangkan.


sawah, lembah dan bukit sejauh mata memandangmasjid desa Renah Kasah

Tanpa membuang waktu, setelah mengisi perut dengan bekal nasi dari rumah kami segera menuju rumah pak Muhtaroman, guide kami. Saya meminjam sepatu boots miliknya karena saya hanya membawa sendal dari rumah. Beberapa anak desa turut menyertai langkah kami menuju goa.


sendal dan sepatu boots; lumbung padi tradisional

Dari rumah pak Muhtar, kami melintasi jalan setapak yang membelah sawah. Seluruh masyarakat Renah Kasah adalah petani. Mereka menanam padi payo, varietas endemik padi khas Kerinci. Kami lalu masuk ke dalam ladang yang ditanami sayuran dan kayu manis.


melewati ladang; bebatuan vulkanik

Jalanan semakin menanjak membelah bukit. Sepanjang perjalanan kami banyak sekali menemukan batu-batu vulkanik berwarna putih keabuan. Setelah melewati sebuah tebing batu dan cerukan kecil, kami harus masih memanjat punggung bukit. Butuh kehati-hatian karena jalannya cukup licin.


tebing batu; ceruk batu 

Akhirnya kami sampai di mulut goa kasah setelah empat puluh menit perjalanan. Mulut goa berupa celah sempit di antara dinding batu. Pintu masuknya berupa teralis besi sederhana. Pak Mustar membaca mantera-mantera tertentu sebelum kami masuk. Saya pinjam senter kepala milik pak Rapani.


Saya memilih turun setelah pak Mustar, mas Hendi dan Luke masuk. Memakai sepatu boots sepanjang betis di justru membuat saya kesulitan masuk dalam goa. Pintu masuk menuju ruangan utama goa berbentuk diagonal, bukan horizontal sebagaimana goa pada umumnya. Saya harus berpegangan pada bebatuan yang ada. Beberapa kali saya harus jalan sambil duduk karena jalan yang saya lalui sangat licin. 

Akhirnya kami sampai di ruangan utama yang berukuran cukup luas. Kira-kira cukup untuk menampung lima puluh orang sekaligus. Dingin, gelap, pengap dan sesekali air menetes dari atap goa. Beberapa kali klaustrofobia saya kambuh. Saya seakan-akan mau pingsan kehabisan nafas. Memori terkunci di kamar mandi waktu kecil seakan kembali. Sadar tak bisa kembali ke atas sendirian, saya hela nafas pelan-pelan. Mencoba menghalau ketakutan ini perlahan-lahan. Dinding goa yang berwarna kelam seakan ingin mengurung saya disini.


ruangan-ruangan kecil penuh orbs, gambar berwujud perempuan berambut panjang 

Dengan bantuan senter kepala, saya melihat sekeliling. Goa ini sepertinya terdiri dari banyak lorong dan kamar. Sekilas saya melihat cahaya lampu seperti kunang-kunang berwarna putih. Gerakannya sangat kilat dan hanya sepersekian detik tampak. Pada salah satu sisi kami ditunjukkan gambar alami seorang wanita yang berambut panjang. Seketika saya merinding. Selanjutnya kami dibuat kaget dengan bunyi benda jatuh tidak jauh dari tempat kami berdiri.

Goa ini sangat luas. Cukup untuk membuat orang tersesat jika tidak membawa guide. Dengan bantuan senter, kami diajak berkeliling oleh pak Muhtar. Masuk dari satu ruangan ke ruangan lain. Banyak sekali kelelawar dan beberapa burung penghuni goa. Mereka aktif bergerak terkena pancaran sinar senter kami. Luke berhasil menemukan laba-laba berwarna putih. Lagi-lagi, saya belum bisa beradaptasi dengan sepatu boots pinjaman ini. Permukaan goa yang becek dan kadang berlumpur menyulitkan pergerakan kaki saya. Saya sempat melihat potongan kabel yang dulu dipakai untuk menerangi goa saat bupati Kerinci datang berkunjung. Selepas kunjungan, kabel listrik, lampu dan genset diambil kembali. 😦

\

Tidak banyak stalaktit dan stalakmit di dalam goa. Goa ini merupakan salah satu benda cagar budaya di Kerinci. Permukaan kamar goa yang dihaluskan diperkirakan sebagai bukti keberadaan manusia purba penghuni goa ini. Selain itu ditemukan batu yang dibentuk menyerupai kursi di ruang utama goa. Meski kursi itu sudah tidak ada lagi. Di salah satu sudut pak Muhtar menunjukkan kepada kami salah satu torehan tulisan yang sampai sekarang belum bisa dipecahkan oleh ahli purbakala.


tulisan kuno

Selanjutnya kami dibawa ke salah satu ruangan dimana dulu pernah ditemukan benda pusaka berupa keris kuno. Sayang sekali banyak sekali coretan jahil pengunjung di dinding goa. Padahal saya yakin tidak semua orang mau bersusahpayah berkunjung ke tempat seperti ini. Kurang dari satu jam berada di dalam goa, kami keluar. Melihat kembali cahaya matahari dan menghirup udara segar pepohonan membuat saya menjadi orang paling bahagia saat itu.


foto bersama 

Sepanjang perjalanan menuruni bukit, meluncurlah cerita-cerita mistik dari mas Hendi dan pak Mustar. Mas Hendi menceritakan adanya sosok perempuan cantik dan laki-laki bertampang seram di dalam goa. Cerita ini rupanya diiyakan oleh pak Muhtar.


membelah sawah; pak Muhtaroman

Sebelum pulang, kami singgah di rumah seorang kakek yang akhrab disapa Nantan Adel. Nama aslinya saya lupa. Beliau sang penemu goa kasah pada tahun 1961. Menurutnya, goa ini ditemukan tidak sengaja saat beliau hendak mencari ladang baru untuk bertanam kayu manis. Sesuai adat desa saat itu, Nantan baru berani masuk goa satu minggu setelah ditemukan. Setelah persembahan berupa darah ayam yang dipotong langsung di pintu goa.


Nantan Adel

Hari telah beranjak sore. Kami harus menakhlukkan jalan menuju Sungai Sampun sebelum pulang ke Sungai Penuh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s