Menjadi Turis di Sungai Penuh (2)

 Saya bangga tinggal di Sungai Penuh. Keanekaragaman budaya bahkan bahasa ada bahkan di level desa atau kampung. Jangan heran karena beda desa, beda juga bahasanya meski sama-sama bahasa Kerinci. Perbedaan bahasa ini makin nampak ketika saya jalan-jalan sore di wilayah kecamatan Pondok Tinggi. Saya jalan-jalan keliling desa Permanti, Aur Duri dan Pondok Agung.


rumah laheik desa Permanti

Sebagai sebuah kecamatan baru hasil pemekaran, wajar saja jika camat Pondok Tinggi belum memiliki kantor tetap.

Melintas di desa Aur Duri, banyak dipasang ajakan hidup sehat dalam bahasa Kerinci. Rupanya desa ini merupakan pemenang lomba kebersihan dan kesehatan lingkungan tingkat provinsi Jambi. Oleh karenanya, desa ini maju ke lomba sejenis ke tingkat nasional.



Di Kerinci dan kota Sungai Penuh, rumah-rumah panggung tradisional seperti ini masih banyak dijumpai. ( I love Kerinci)

Iklan

2 comments

  1. Dulu pertama mendengar nama Sungai Penuh setengah ga percaya klo itu nama daewrah. Kukira itu becandaan teman. Sekarang, gara2 sering mampir dsini, jd lebih tahu ttg Sungai Penuh walopun blm pernah kesana.

    • hihihihihi … ibukota kabupaten dulu mbak, kurang terkenal dibanding kerinci, soalnya kerinci nama gunung,danaiu,sungai, sukunya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s