Pindah dari Sungai Penuh ke Bangko

Tidak pernah terbayangkan bahwa suatu ketika saya akan ‘terbuang’ dari kota yang saya cintai. Saat saya masih tinggal di Sungai Penuh, melihat masjid kuno terbuat dari kayu, rumah panggung berlantai dua, batu-batu menhir yang banyak tersebar di seluruh kota adalah pemandangan biasa. 

Menjadi ‘luar biasa’ ketika kita melihat semua itu dari sudut pandang lain. Ketika saya pindah ke Bangko yang notabene lebih ‘modern’ dari Sungai Penuh. Melihat lebih banyak bangunan beton bertingkat daripada rumah panggungnya, maka saat kembali menjejakkan kaki di Sungai Penuh semuanya menjadi ‘luar biasa’. 

Pun dengan makanan. Saya termasuk orang yang suka pilih-pilih dalam makanan. Saya tidak suka pedas. Alasannya simpel karena perut saya amat sensitif dengan rasa pedas. Namun, alhamdulillah meski sering diare selama di Sungai Penuh, lidah saya cocok dengan masakan Padang yang memang mendominasi disini. Masalah timbul saat saya pindah ke Bangko. Saya memperlakukan semua makanan sesuai standar yang saya buat ketika masih tinggal di Sungai Penuh. Akibatnya, banyak makanan yang kata teman saya enak terasa biasa saja buat lidah Sungai Penuh saya. Kecuali bakso dan mie ayam menurut saya lebih enak di Bangko karena minyaknya tidak terlalu banyak. Makan mie ayam di Sungai Penuh, saya seperti memancing ayam di antara kubangan minyak. Wekks

Selanjutnya, saya yang terbiasa tinggal di Sungai Penuh yang berhawa sejuk terpaksa kurang nyenyak tidur karena udara Bangko yang panas. Awal-awal di Bangko, saya sampai harus tidur nyaris tanpa busana dan membuka jendela saking tidak tahan panas. Sampai sekarang memang saya belum berniat membeli kipas angin di kamar saya. Uniknya, menjelang subuh udara di Bangko akan berubah menjadi dingin penuh angin. 

Terakhir, pindah dari Sungai Penuh ke Bangko berarti ‘jatuh miskin’ buat saya. Maaf, yang ini lebay 🙂 Kantor di Sungai Penuh menyediakan sejumlah fasilitas untuk pegawainya. Antara lainada rumah dinas (meski banyak hantunya), mobil dan motor (meski sering rewel) dan volume pekerjaan yang tidak sebanyak di Bangko. Di Bangko, saya harus ngekos, jalan kaki ke kantor tiap hari, panas lagi. Tidak, bukan berarti saya tidak bersyukur dengan apa yang saya dapatkan selama ini. Namun, untuk kasus pindahan saya dari Sungai Penuh ke Bangko ini saya butuh proses. Saya perlu beradaptasi ‘turun kasta’ dari tinggal di surga ke neraka. 🙂

Terimakasih


pemandangan seperti ini biasa saja kalau di Kerinci…

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s