Regentslaan Salatiga : Jalan Sukowati

Buat sebagian besar orang, Salatiga hanyalah kota kecil biasa di tengah-tengah jalur ramai Semarang-Solo. Namun, sejak jaman kolonial kota yang berhawa sejuk karena terletak di kaki gunung Merbabu ini merupakan kota favorit para pejabat Belanda untuk menghabiskan hari tua.

Menurut berbagai sumber yang saya baca, Salatiga ditetapkan sebagai kotapraja pada tahun 1917. Selanjutnya kota ini ditata sesuai dengan pedoman tata kota ala Belanda. Misalnya jalan Tuntang (sekarang jalan Diponegoro) difungsikan sebagai kawasan hunian warga Eropa, jalan Solo (jalan Sudirman) sebagai kawasan hunian dan perdagangan warga Tionghoa) dan lain-lain. Sejak saat itu Salatiga berkembang pesat.


peta lama kota Salatiga; sumber dari sini

Salah satu kawasan kota tua Salatiga adalah jalan Sukowati yang dulu bernama Regentslaan (jalan raya bupati). Dinamai demikian karena di kawasan ini dulu tinggal bupati Salatiga. Sebenarnya Bupati hanya memimpin secara de jure. Namun, secara de facto Salatiga dipimpin oleh asisten residen. 

Kompleks tempat tinggal bupati sekarang telah menjadi gedung Polres Salatiga. Terletak di sebelah utara lapangan Pancasila yang berfungsi sebagai alun-alun kota. Dulunya gedung berupa pendopo dan rumah tinggal ini disebut kepatihan. Gedung ini dibangun pertama kali oleh bupati Sidoamuk yang bergelar Tumenggung Prawirokusumo pada tahun 1810.


gambar kantor walikota diambil dari sini

Di sebelah tenggara lapangan Pancasila berdiri kantor walikota Salatiga. Gedung ini awalnya dibangun pada tahun 1850 sebagai mansion milik seorang pengusaha bernama Baron van Hikkeren. Setelah berganti-ganti kepemilikan, gedung ini akhirnya dipakai sebagai kantor walikota Salatiga. Bangunan bergaya renaisans / neo klasik ini dijuluki gedung papak oleh masyarakat karena atapnya yang rata. Sayang saya tidak bisa masuk ke dalamnya karena sedang ada upacara bendera di halaman kantor walikota.

Persis di seberang kantor walikota terdapat gereja zending yang sekarang bernama Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU). Berarsitektur gotik dan dibangun pada tahun 1918.

Agak menjauh dari kantor walikota, tetapi masih di jalan Sukowati terdapat rumah-rumah tua yang dulu merupakan rumah saudagar Tionghoa. Disinilah pusat oleh-oleh khas Salatiga, terutama enting-enting gepuk. Beberapa bangunan kuno di kawasan ini diantaranya adalah rumah toko Ong Hwa Djay (1890), perpustakaan daerah (1890) dan hotel Slamet (1918). Semuanya berarsitektur oriental.

Di depan toko Ong Hwa Djay berdiri satu-satunya kelenteng di Salatiga. Dibangun tahun 1872 dengan nama Hok Tek Bio. Pada masa Orde Baru dimana semua kebudayaan Tionghoa diblok, nama kelenteng ini diubah menjadi Amurvabumi. Sekarang namanya telah dikembalikan ke nama aslinya. Kelenteng ini sekarang dipakai beribadah umat Kong Hu Cu, Buddha dan Tao. Seorang bapak-bapak dengan ramah mempersilakan saya untuk masuk untuk mengambil foto. Seperti kelenteng pada umumnya, aroma dupa dan warna merah sangat menonjol di indera.


Kelenteng ini mempunyai dua hoolo (tungku pembakaran abu). Jumlah hoolo ini akhirnya menjadi salah satu nama merk enting-enting gepuk yang cukup kondang di Salatiga.

 

Iklan

6 comments

  1. Saya tinggal di pastori GKJTU selama 20th. Sejak msh baru lahir, hingga Papa saya meninggal dan tdk menjabat sebagai pendeta setempat lg. Kenangan masa kecil yg tak terlupakan. Saya merasa bangga dibesarkan di daerah “elit” dan “eksklusif” kota salatiga ini. Dari jaman belanda, sampai sekarang pun, daerah ini tetap terjaga keeksklusifannya.
    Rindu Salatiga selalu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s