Sayonara Kincai (1)

I cry for you, Kerinci ..

demi apa?
karena tak akan sering lagi kunikmati udara
sesegar paru-paru baru keluar dari freezer
surga megalitik, hamparan sawah sejauh mata memandang
bukit barisan mengepung
ku harap ini hanyalah mimpi buruk
sungguh aku masih ingin disini … 

Demikian racauan, umpatan, kegalauan atau apapun itu yang keluar dari hati saya. Lalu saya tuliskan sebagian di catatan facebook saya. Waktu semakin mengingatkan saya bahwa akhirnya saya harus pindah kerjaan dari kota yang amat saya cintai ini, Sungai Penuh dan Kerinci.

Kaki saya masih agak capek habis dari danau Kaco kemarin. Sepatu kets saya jebol gara-gara trekking tiga jam ke danau kaco dan trekking dua jam pulangnya. Sampai rumah langsung saya rendam kaki pakai air hangat campur garam.

Tiba di rumah, telah menanti Afif, seorang bikepacker dari Curup, Bengkulu. Dia hendak pulang kampung dari Padang ke Curup lewat Sungai Penuh, Tapan dan Bengkulu. Afif adalah mahasiswa seni rupa di UBH Padang.


pernak-pernik sepeda Afif 🙂

Jumat, 10 Mei 2013
Saya masuk kantor seperti biasa. Hari ini hari terakhir saya berdinas di Sungai Penuh. Minggu depan saya akan berkantor di Bangko, empat jam perjalanan dari Sungai Penuh ke arah kota Jambi. Siangnya saya ajak Afif jumatan di masjid Taqwa Koto Renah.

Sorenya, saya temani Afif ke bukit Khayangan. Karina dan Sergey memilih untuk tinggal di rumah. Sepertinya mereka masih kecapekan jalan dari danau Kaco kemarin. Gunung Kerinci tampak jelas dari bukit Khayangan, membuat hati ini berat meninggalkan Kerinci.


air terjun Bukit Khayangan; gunung Kerinci ditutupi awan

Dari Bukit Khayangan, kami tidak langsung pulang. Melainkan jalan-jalan keliling kota. Kami singgah sebentar di masjid agung Pondok Tinggi. Rupanya menjelang kenduri sko, tabuh larangan di dalam masjid telah dikeluarkan ke samping masjid.


tabuh larangan masjid agung Pondok Tinggi

Di samping masjid agung baru ngeh saya kalau ada rumah laheik (larik) khas Kerinci milik seorang kadus Kemanyan Jaya desa Permanti. Masih lengkap dengan ukiran-ukiran flora khas Kerinci.


ukiran flora

Malamnya saya mengundang teman-teman kantor untuk menghadiri acara makan malam di kafe mini. Mungkin sekaligus acara pelepasan saya. Tidak ingin saya bilang perpisahan. Saya masih belum ingin berpisah dengan kawan-kawan dan kota ini 😦

Seusai acara kawan-kawan kantor saya pulang duluan. Tinggal saya, Afif, Karina, Sergey dan Luke. Luke hadir karena ingin bertemu Karina dan Sergey.

Habis makan Afif mau langsung pulang ke rumah. Sementara saya dan Luke menemani Karina dan Sergey ke kantor Kodim Kerinci untuk mendapatkan informasi latihan paralayang di Sungai Penuh. Jika bisa, mereka akan mendaftar untuk mendapat kursus dasar paralayang.

Beruntung sekali kedatangan mereka disambut hangat oleh pak Eko, dandim Kerinci sekaligus ketua Kerinci Aero Club. Klub yang membidani lahirnya olahraga paralayang di Kerinci. Surprise lagi, mereka langsung diajak bergabung untuk latihan esok pagi di lapangan Kumun. Dan asyiknya lagi, mereka boleh bergabung tanpa perlu membayar biaya pendaftaran dan latihan. Semuanya cuma-cuma 😀

Malam itu sedang ada gathering di Kodim, kami larut dalam hangatnya persahabatan dan kekompakan klub. Seperti tidak ada jarak untuk kami. Untuk pertama kalinya saya menari rentak kudo di Kerinci. Sebuah tarian pergaulan yang kerap ditampilkan saat upacara adat di Kerinci dan Sungai Penuh.


menari rentak kudo 😀

Pulang dari Kodim,Karina harus mencari sendal gunung untuk berlatih paralayang esok hari. Untungnya masih ada satu toko yang buka di samping kafe mini.

Iklan

4 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s