Danau Kaco, Secuil Surga

Ada sebagian orang yang tak percaya adanya surga. Namun, sebagian lagi percaya surga ada di bumi. Definisinya bermacam-macam. Biasanya tentang sebuah tempat yang sangat indah, tidak biasa sekaligus susah dijangkau. Persis seperti sebuah ungkapan tentang surga dan neraka. Pergi ke neraka seperti membalikkan telapak tangan dan pergi ke surga membutuhkan banyak dana dan usaha.

Di Kerinci, saya percaya surga itu ada. Lewat berbagai ciptaan-Nya yang sering membuat kita takjub dan sadar akan kebesaran-Nya. Salah satu surga di Kerinci itu adalah danau Kaco.


Farid, berenang di danau Kaco

Danau Kaco adalah salah satu dari sekian banyak danau di Kerinci. Lokasinya jauh masuk ke dalam rimba. Keistimewaannya ada pada airnya yang sangat jernih yang menyerupai kaca. Danau yang memiliki kedalaman sekitar dua puluh meter ini nampak dasarnya saking beningnya. Airnya sangat dingin menyegarkan dan seolah-olah berwarna biru muda. Konon karena kandungan mineral yang tinggi.

Untuk mencapai danau Kaco tidaklah mudah. Kami perlu menempuh perjalanan sekitar satu jam naik mobil sewaan dari Sungai Penuh ke desa Manjuto Lempur, Gunung Raya Saya jalan bareng bang Jamie sebagai guide, bersama Farid, Sergey dan Karina dari Rusia, serta bang Bongkeng dan Kopral yang baru kami kenal di Konco Lamo. Keindahan danau ini sudah lama saya dengar, tetapi baru sekarang saya bisa menjelajahinya.

Kami memarkir mobil begitu saja di semak-semak di dekat pintu air desa Manjuto Lempur. Selanjutnya kami harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar dua jam kata bang Jamie. Dari pintu air ke tugu Depati Parbo kondisi jalan cukup terjal dengan kondisi medan jalan tanah yang rusak. Disini kabarnya tempat pertempuran pahlawan Kerinci Depati Parbo melawan serdadu Belanda yang datang dari Bengkulu.


tugu Depati ParboΒ 

Lepas dari tugu Depati Parbo kami melewati jembatan yang dibawahnya mengalir sungai Manjuto yang berarus cukup deras. Lewat sungai ini dulu Belanda pertama kali datang ke Kerinci. Jalanan yang tadi terjal sekarang agak landai. Jika tadi jalanan masih cukup lebar sekarang telah menyempit. Kami beberapa kali harus melewati sungai kecil dan lewat di atas tanah berlumpur. Karina yang memakai rok panjang tampak kerepotan berjalan.

Suara serangga hutan samar-samar terdengar dengan kiri kanan kami yang berupa hutan yang cukup lebat. Danau Kaco memang terletak di jantung rimba Taman Nasional Kerinci Seblat. Saya rasa jalanan makin sempit saja membentuk jalan setapak. Aneka jenis pepohonan berbatang besar saya jumpai. Beberapa pohon kadang tumbang menutup jalan. Inilah perjalanan yang sesungguhnya.

Bukan hanya pohon-pohon besar, beragam bunga hutan juga saya jumpai. Bunga berwarna merah, kuning, pakua-pakuan yang semuanya belum pernah saya lihat. Saya menebak sepertinya saya telah melihat anggrek hutan. Saya makin kagum dengan keanekaragaman hayati di Kerinci.

Di antara pesona keindahan hutan, saya mendengar suara auman. Entah apa itu suara harimau atau beruang. Bang Jamie yang melihat saya cemas berusaha menenangkan saya. Katanya manusia dan mereka mempunyai tempat hidup sendiri dan tidak akan mengganggu asalkan tidak diganggu. Penjelasan bang Jamie membuat saya sedikit bernafas lega.

Berjalan sekitar satu jam kami sampai di sebuah tempat kosong seukuran lapangan badminton. Shelter 1 namanya. Kami istirahat sebentar. Menurut penjelasan bang Jamie, jika berjalan santai seperti tadi kami akan sampai di danau Kaco sore dan pulang ketika hari sudah malam. Tidak ingin dianggap lambat, Karina memutuskan mengganti roknya dengan celana trekking.


istirahat di Shelter 1

Jika tadi kami berjalan agak santai kini kami berjalan agak cepat. Rombongan yang berjumlah tujuh orang ini sekarang berjalan tidak lagi beriringan. Sesekali kami harus berhenti karena ada satu dua kawan yang tertinggal di belakang. Kaki saya sudah mulai pegal-pegal menempuh perjalanan jauh masuk rimba. Kami akhirnya bertemu dengan tanah agak lapang yang disebut shelter 2.

Perjalanan makin berat dari shelter 2. Lagi jalan-jalan menanjak dengan jalur yang tidak terlalu jelas. Pohon tumbang makin banyak saja. Rasanya kaki ini sudah tidak mau lagi diajak jalan. Namun, saya fokuskan pikiran bahwa saya harus sampai ke danau Kaco. Untungnya jalur yang tadi menanjak sekarang mulai menurun. Kami juga harus berhati-hati karena gangguan bisa saja muncul dari pacet, sejenis lintah hutan yang haus darah. Mereka banyak bersembunyi di tanah-tanah basah.


Bang Jamie dan pacet

Korban pertama pacet adalah bang Jamie. Dia tidak sadar ada pacet menempel di tengkuknya hingga akhirnya saya lihat tengkuk bang Jamie berwarna merah. Beberapa kali saya menemukan jejak kaki anak kecil di tanah yang basah? Jejak siapakah ini?

Selanjutnya saya melintasi hutan bambu. Setelah hutan bambu ini kami melintasi sungai Manjuto. Kedalamannya hanya setinggi lutut, tetapi alirannya cukup deras sehingga kami harus ekstra hati-hati.


melintasi Sungai Manjuto

Lepas dari sungai, katanya danau sebentar lagi sampai. Saya makin bersemangat berjalan dengan sisa tenaga yang ada. Benar saja, di bawah sana telah terbentang danau kecil berwarna biru muda. Gembira dan bahagia perasaan saya. Dari bibir jurang kami berjalan menuruni bibir tebing yang sangat curam dengan hati-hati. Selamat datang di danau Kaco! πŸ˜€


bertemu rombongan dari KAMMI

Β 
terimakasih Bang Jamie

Β 
jernih seperti kristal


Tuhan, terima kasih telah menciptakan Danau Kaco


rasa capek tiga jam jalan kaki sirna seketika

Β 
Farid digigit pacet

Β 
Sergey dan Karina

Danau ini luasnya hanya seukuran dua kali lapangan tenis. Dasar danau yang berkedalaman dua puluh meter terlihat dengan jelas. Ikan-ikan semah berenang dengan bebas. Seakan-akan sebuah akuarium alam yang dibuat oleh Tuhan. Anda mungkin tidak percaya, tetapi apa yang saya lihat benar-benar membuat saya takjub luar biasa.Sayagnya beberapa pohon besar tumbang ke dalam danau.

Saya tidak bisa berenang sehingga hanya mandi di tepian danau. Dinginnya air danau akhirnya membuat saya tidak bisa mandi berlama-lama. Surga ini benar-benar nyata, meski mungkin hanya secuil. Namun, surga-Mu pasti lebih indah dari tempat ini.

Hari beranjak sore dan kami terpaksa meninggalkan surga ini.

Iklan

42 comments

  1. itu bule pake rok akhirnya ganti celana ya..
    wuih ku kangen digigit pacet hahaha..
    asik ya penuh perjuangan kesananya dan banyak pohon unik..
    ternyata fotonya itu orang KAMMI toh ya.. jadi keren..
    surga beneran ini..

  2. Gileeeeeeeeeeeeeeeeeee tumbangnya pohon jadi makin menambah kesan danaunya gimana gitu… biruuuuuuuuuuu… asli mupengggg… sama seperti surga yang Tuhan janjikan, tidak mudah menuju ke surga…. itu harus susah payah trekking dulu… jadi inget film blue lagoon yang di tengah pulau tak berpenghuni terdapat seiprit danau kecil yg biru…

    Ah saya kepengeeeeeeeeeennnnn…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s