Karina Sergey : Sebuah Janji

Medio April
Kami bertemu pertama kali di sebuah kafe di Pekanbaru. Sepasang CouchSurfer sekaligus biker dari Rusia, Sergey dan Karina. Mereka hobi paralayang dan berencana akan menghabiskan waktu beberapa minggu di Sumatera Barat. Saya ajak mereka jalan-jalan ke Kerinci. Sebagai tanda ikatan kami saling bertukar koin dengan janji mereka akan ke Kerinci menukar kembali koinnya.

…..

Selasa, 7 Mei 2013
Ponsel saya berbunyi. Saya baca ada sebuah sms dari Sergey. Mereka sedang dalam perjalanan dari Painan ke Sungai Penuh. Sejurus kemudian ada suara dalam bahasa Indonesia menanyakan alamat saya di Sungai Penuh. Rupanya mereka naik truk angkutan.

Bunyi klakson mobil membuat saya keluar dari rumah. Menjelang senja Sergey dan Karina tiba di Sungai Penuh. Sepeda mereka tinggal di rumah kawannya di Padang. Awalnya saya ingin mengembalikan koin yang mereka beri untuk saya, tetapi mereka menolaknya. Dan akhirnya mereka memenuhi janji mereka beberapa minggu yang lalu di Pekanbaru.

Sebenarnya saya tidak enak hati menerima tamu perempuan. Sergey dan Karina mengaku bukan suami istri, hanya kawan dekat. Pertentangan dengan adat membuat saya sedikit galau. Namun, dengan rasa kemanusiaan saya terima Karina bermalam di rumah. Tentu saja terpisah ruang. Malam itu saya traktir mereka makan di kafe Minie. Banyak yang kami diskusikan. Karina mengaku seorang ortodoks tetapi enggan pergi ke gereja. Sergey seorang pejalan ‘nyantai’. Dia tidak mau berpikir akhir perjalanannya bersama Karina. Akhirnya ketika saya singgung status relasinya dengan Karina, Sergey mengaku hanya teman dekat.

Rabu 8 Mei 2013
Saya harus kerja dari pagi sampai sore. Dari pagi sampai siang mereka hanya di dalam rumah nonton tv sambil online di laptop masing-masing. Baru saat istirahat siang saya jalan bersama mereka ke Bukit Sentiong. 

Waktu istirahat saya hanya satu jam. Bukit Sentiong terletak tidak jauh dari rumah dan bisa dicapai berjalan kaki sepuluh menit hingga ke puncaknya. Dari puncak yang serupa lapangan kecil penuh pohon pinus pada pinggirnya, tampak pemandangan kota Sungai Penuh yang dikelilingi sawah dan Bukit Barisan. Sesekali angin sepoi berhembus. Saya amati lekat-lekat rumah-rumah dan gedung-gedung dibawah sana. Jika saya sudah pindah dari Bangko, pemandangan bukit ini hanya bisa saya pandangi dari deretan foto di album komputer saja.


Turun dari bukit Sentiong kami langsung menuju CFC untuk santap siang. Tidak banyak menu yang bisa dipilih. Agak jahat saya sebenarnya karena mereka sedang mencoba menjadi vegetarian. Sebelum ngantor saya sempatkan singgah di toko bang Jamie, kawan yang akan menemani saya ke Danau Kaco esok hari.

Malamnya Karina dan Sergey minta ijin membuat makan malam untuk kami. Mereka akan masak pasta. Sebelumnya mereka telah membeli aneka bahan-bahan untuk memasak pasta. Katanya pasta merupakan makanan yang cukup beken di Rusia. Saya sebenarnya agak under estimate takut makanan mereka tidak cocok dengan lidah Kincay saya. Namun, saya dan Farid kawan saya cukup antusias membantu mereka masak. 😀


Cara membuat pasta sangat simpel. Cukup merebus pasta dan dihidangkan dengan saus tomat. Saus ini dibuat dari tomat cincang yang digoreng dan dicampur bawang dan garam. Meski sedikit hambar, masakan ini cukup bersahabat dengan lidah saya.


Habis makan kami minum teh dan makan martabak. Karina sangat suka martabak manis. Mereka asyik diajak ngobrol. Topik apapun selalu nyambung dengan mereka. Lebih menyenangkan buat saya ngobrol dengan kawan dari negara yang bukan penutur bahasa Inggris aktif dibandingkan dengan kawan dari negara-negara berbahasa Inggris seperti Inggris, Amerika dan Kanada. Orang dengan keseharian berbahasa Inggris cenderung memakai bahasa Inggris yang rumit dan tidak saya pahami, ngomongnya terlalu cepat dan cenderung ingin menguasai pembicaraan. Namun, di CouchSurfing tentu saja saya tidak boleh rasis dan membeda-bedakan orang. 🙂


Masih sambil ngobrol, kami nonton film. Saya keluarkan koleksi film Modus Anomali yang dibintangi Rio Dewanto dari hardisk . Karina ternyata tidak suka film slasher. Setelah pilah pilih film di laptop Karina, saya putuskan nonton film Darjeeling Limited karena mereka juga belum pernah menontonnya. Sialnya meski filmnya cukup bagus, tidak ada subtitle di film itu. Beberapa dialog tidak saya pahami dan Karina menjelaskan maksud beberapa dialog.

Belum selesai film ditonton, bang Jamie menelpon saya suruh ke rumah makan Konco Lamo untuk membahas rencana ke Danau Kaco besok. Saya segera meluncur ke Konco Lamo. Disana sudah ada bang Jamie dan kawan-kawannya. Mereka sedang berdiskusi transportasi kesana besok.

Saya yang memang orangnya introvert tidak bisa langsung berbaur dengan mereka. Butuh waktu untuk bisa langsung nyebur dalam pembicaraan itu. Namun,  bukan berarti saya orangnya sombong. Sama sekali bukan. Hanya sekali lagi butuh waktu untuk berkomunikasi dengan orang baru 🙂 Akhirnya malam itu kami putuskan menyewa mobil dari Sungai Penuh keesokan harinya.

Iklan

4 comments

  1. […] Ketika kalian memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke tanah Jawa -pulang ke Rusia- baru kusadari bahwa aku ternyata sangat kehilangan kalian. Kalian sangat beda dengan CouchSurfer-couchsurfer sebelumnya. Bukan hanya kawan, kalian adalah sahabat. Kisah Karina-Sergey selengkapnya bisa diintip disini lalu disini juga dan disini.   […]

  2. eh sama loh Isna, aku butuh waktu bbrp saat untuk menyesuaikan diri dgn orang baru 😀

    Sepertinya CS menyenangkan ya? blm ikut nih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s