Monas : Monumen Nasional Indonesia

Sudah berapa kali ke Monas? Sepertinya saya sudah lima kali kesana. Pertama kali waktu ada konsinyering pertama kali di Jakarta beberapa tahun yang lalu. Kemudian saat awal pertama hijrah ke ibukota. Lalu saat ada pawai ogoh-ogoh di Monas, menemani adik liburan di Jakarta dan terakhir jalan ke Monas bareng Inder, kawan kuliah saya.


saya dan Inder

Jika kita ke Monas naik busway pasti akan melihat patung ksatria berkuda. Nama aslinya adalah patung Arjuna Wijaya. Melukiskan sosok tokoh wayang yaitu Arjuna dan Batara Kresna dalam perang Bharatayudha. Delapan kuda melambangkan asta brata yaitu delapan elemen alam yang meliputi bumi, laut, api, angin, hujan, matahari, bulan dan bintang.


adik saya di depan patung Arjuna Wijaya 

Monas dibangun di bekas lapangan Gambir yang sering diubah nama menjadi lapangan Ikada, lapangan Merdeka dan terakhir bernama Taman Monas. Dibangun di depan Istana Merdeka sebagai simbol halaman negara Indonesia.

Tinggi Monas adalah 123 meter. Dibangun mulai tahun 1961 dan diresmikan pada tahun 1975. Ide pembangunan Monas kabarnya datang saat presiden Soekarno melihat menara Eiffel di Perancis. Arsitek di balik kemegahan Monas adalah F Silaban dan Sudarsono. Konsepnya adalah lingga yoni sebagai perpaduan dua elemen yaitu lingga pada badan Monas dan yoni sebagai dasar Monas. Lingga yoni sendiri adalah lambang kesuburan dan keserasian hidup. Di puncak Monas terdapat bentuk api dari emas yang melambangkan semangat perjuangan melawan penjajah yang menyala-nyala.


patung Diponegoro

Untuk masuk ke Monas, saya berjalan menuju pintu masuknya yang berada di dekat patung Pangeran Diponegoro. Saya harus berjalan melewati terowongan bawah tanah menuju tempat penjualan tiket. Setelah tiket di genggaman saya segera menuju museum sejarah nasional. Pada ruangan ini terdapat puluhan diorama yang menceritakan sejarah Indonesia. Mulai dari zaman prasejarah, kerajaan Hindu Buddha, Islam, pergerakan nasional, kemerdekaan hingga Orde Baru saja. Belum ada diorama zaman reformasi.


diorama Perang Aceh dan terbentuknya Budhi Utomo (1908)


diorama Sumpah Pemuda (1928) dan Proklamasi kemerdekaan RI (1945)

diorama KAA (1955) dan KTT Non Blok (1992)  

Tidak itu saja, di ruangan paling bawah ini juga ditampilkan foto-foto sejarah pembuatan Monas. Mulai dari perencanaan, konstruksi hingga pembuatan tugu emas dan pembuatan diorama. Dari foto-foto ini saya jadi tahu kalau warga Jakarta dulu menggunakan kolam air di halaman Monas untuk mandi dan mencuci. 😀


foto pembuatan Monas, tugu lidah api emas, pembuatan diorama

Ruangan selanjutnya di Monas adalah ruang kemerdekaan. Jika dilihat dari luar ruang ini berbentuk cawan segi empat. Tinggi ruangan 17 meter, lalu jarak antara ruangan museum dengan dasar cawan adalah 8 meter. Lalu panjang sisi cawan masing-masing 45 meter mencerminkan angka keramat hari Proklamasi kemerdekaan RI (17-8-1945).

Di ruangan kemerdekaan ditampilkan simbol-simbol negara seperti peta Indonesia berlapis emas, lambang negara Garuda berlapis emas, teks asli Proklamasi. Disini pengunjung berkesempatan mendengarkan rekaman pembacaan proklamasi oleh presiden Soekarno. Namun, hanya jam-jam tertentu saja dapat mendengarnya. Beruntung saya datang bersama dengan rombongan sebuah SMP yang saat itu sedang mendengarkan rekaman pembacaan teks proklamasi. Rasanya, hm..merinding mendengar suara Bung Karno.


gerbang emas berisi teks asli Proklamasi, peta Indonesia, garuda 

Sebenarnya di ruangan ini telah disiapkan wadah kaca anti peluru untuk menyimpan bendera pusaka yang pernah dikibarkan waktu proklamasi. Namun, sampai sekarang bendera pusaka itu masih disimpan di Istana Negara.


wadah kaca untuk bendera pusaka

Ruangan terakhir yang saya masuki adalah puncak Monas yang berupa tugu lidah api. Untuk naik ke atas saya perlu membeli tiket tambahan. Saya bergiliran naik lift menuju puncak. Dalam keadaan darurat pengunjung diharuskan naik tangga karena hanya tersedia satu lift.


halaman Monas 

Dari lantai atas tampak pemandangan sebagian Jakarta. Di ujung utara tampak laut Jawa dan teluk Jakarta. Pengunjung bisa menggunakan teropong dengan membeli koin khusus. Tidak pakai teropong pun tak jadi soal. Tersedia penjelasan dan foto nama-nama gedung di sekitar Monas. Angin berhembus cukup kencang. Saya tidak bisa berlama-lama disini.



Masjid Istiqlal


gedung Pertamina dan Istana merdeka  

Puas melihat Jakarta dari atas, masih ada satu lagi atraksi di Monas. Yaitu relief di sekeliling Monas yang menceritakan sejarah Indonesia. Detail dan lengkap sekali. Mulai dari zaman prasejarah, kerajaan, perjuangan hingga masa kini. 🙂 Sayang sekali keindahan ini agak ternoda karena ide meletakkan kolam air di bawah relief justru membuat sebagian relief rusak karena pengkaratan.


relief kerajaan Buddha dan VOC

penderitaan bangsa Indonesia jaman penjajahan, perang Diponegoro

relief penjajahan Jepang dan revolusi fisik

toleransi agama di Indonesia ?

 

Monumen Nasional (Monas)
Buka setiap hari : 08.00 – 15.00 WIB
Senin minggu terakhir setiap bulannya tutup.
Tiket :
Museum :
Dewasa : Rp 5.000,-
Mahasiswa/pelajar : Rp 3.000,-
Anak : Rp 2.000,-
Puncak Monas :
Dewasa : Rp 10.000,-
Mahasiswa/pelajar : Rp 5.000,-
Anak : Rp 2.000,-

Iklan

13 comments

  1. monas ya?
    ejie lupa udah pernah naik ke atas belum ya? lagian ud lama banget ngga kesana.
    kalo main di sekitarannya ya ngga usah disebut. wkkk…

    kl macetnya gmn, isna? 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s