Menggalau Bersama Padli

 Dari Koto Tebat saya melanjutkan perjalanan menuju Hiang. Saya berhentikan motor di dekat jembatan Betung Kuning. Saya lalu masuk ke halaman belakang masjid Betung Kuning. Dari halaman belakang ini biasanya orang-orang datang kesini untuk menikmati pemandangan tepian sungai. Tebing sungainya runcing dan bolong-bolong. Saya tidak bisa turun karena aliran sungai sangat deras.

 

Dari sini juga tampak sisi tebing yang tergerus aliran sungai. Menciptakan sebuah penampang lapisan-lapisan tanah mulai dari lapisan teratas hingga lapisan paling bawah. 

 
lapisan tanah

Saya lalu bergegas ke rumah Padli kawan saya di desa Angkasa Pura. Dinamai demikian karena di desa ini terletak bandara perintis kebanggaan masyarakat Kerinci; bandara Depati Parbo. Bandara ini melayani penerbangan ke kota Jambi dengan pesawat kecil berisi dua belas orang. Ongkosnya Rp 330.000,- sekali jalan. Saya sendiri belum pernah naik. Menuju rumah Padli, saya melihat rumah adat Kerinci yang terbengkalai. Mungkin sudah lama sekali tidak dihuni.

 
puing rumah adat Kerinci 

Untunglah Padli sedang di rumah. Saya minta dia mengantarkan saya ke bukit Sumur Tujuh sebelum saya pindah ke Bangko. Saya pernah ke tempat ini sebelumnya dan memang pemandangan dari atas sini selalu ngangenin. Dari atas bukit ini tampak pemandangan kota Hiang dan sekelilingnya. Rumah-rumah panggung Kerinci seakan membentuk formasi perumahan modern. Dikelilingi sawah, sungai dan bukit. 🙂 

]

 

Di atas bukit ini terdapat situs punden berundak dan batu menhir yang dipercayai masyarakat sebagai makam nenek Jaburiah. Beliau adalah nenek moyang masyarakat Kerinci terutama warga Hiang.

 
makam nenek Jaburiah

 

Bukit ini juga dihubungkan dengan situs sumur tujuh, sebuah mata air yang terdiri dari tujuh lubang di puncak bukit yang selalu mengeluarkan air menyerupai sumur. Sumur ini tidak pernah surut meski di musim kemarau.

 
situs sumur tujuh

 

Dari bukit sumur tujuh Padli membawa saya menuju SMA-nya yang merupakan SMA tertua di Kerinci yaitu SMA Negeri 1 Kerinci.

 

Terakhir saya meminta Padli menemani saya ke desa Seleman di pinggiran Danau Kerinci. Kata Padli pantai disana lebih bagus dari pantai Koto Petai. Pantai disini adalah tepian danau Kerinci.

  

Benar saja, di Koto Petai tidak ada sawah di tepi pantainya. Hanya ada batu berajut penahan gelombang. Musim panen hampir tiba. Sejauh mata memandang yang ada hanyalah hamparan sawah menguning. Kontras dengan langit biru yang cerah dengan berselimut awan.

 

Semakin menuju ke arah pantai, semakin jelas wujud sebuah pulau kecil. Bukan pulau sebenarnya, hanya sebuah daratan yang tergenang air di sekelilignya saat musim hujan. “Pulau” ini akan menyatu dengan daratan begitu musim kemarau datang.

 

Dalam perjalanan pulang ke Hiang, saya melihat sebuah kedai roti canai. Masakan Malaysia yang bentuknya mirip martabak. Penasaran, kami mampir. Rupanya abang-abang penjualnya pernah merantau di Malaysia sehingga punya pengalaman membuat roti canai. Fyi, banyak orang Kerinci yang merantau disana dan membuat kampung bernama kampong Kerinchi.

Ada berbagai jenis roti yang dijual. Roti yang biasa harganya Rp 3000,- roti planta (manis, pakai gula) Rp 4000,- pakai telur Rp 5000,- dan yang isi sarden Rp 7000,-. Saya pesan roti sarden, telur dan planta untuk berdua. Biar harganya minimalis rasanya lumayan meski kuah karinya cukup pedas buat lidah Jawa saya. Recommended kok 🙂 

Dari abang penjual canai, saya mendapat info adanya rumah kuno di Seleman. Tidak jauh dari kedai roti canai ini. Tepatnya di seberang pasar sore Seleman. Tepatnya di dekat masjid Nurul Hasanah. Di samping masjid terdapat makam Abas bin Tengku Sembah, seorang depati atau pemimpin adat desa Seleman.

Rumah ini sepertinya sudah tidak ditempati. Pagar bambu menutupi hampir semua dinding rumah. Namun, ukiran flora dan geometris khas Kerinci masih bisa diamati dengan jelas.

 

Di dekat rumah ini terdapat rumah dengan keadaan jendela kaca yang penuh lubang. Sepertinya juga ditinggalkan karena gempa Kerinci tahun 1995.

Iklan

6 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s