Lidah Berdendang di Dendeng Batokok

Waktu pertama kali pindah ke Sungai Penuh, ketika saya bertanya kepada kawan tentang makanan khas Sungai Penuh. Mereka akan berpikir lama lalu sepakat mengatakan dendeng batokok.

Kenyataan yang saya dapat di internet dendeng batokok awalnya merupakan masakan yang dibawa perantau dari Minang ke Sungai Penuh. Bedanya dendeng batokok di Minang menggunakan daging sapi dan cabe hijau. Dendeng batokok di Sungai Penuh awalnya menggunakan daging rusa dan cabe merah. Seiring kelangkaan daging rusa, digunakan daging sapi sebagai penggantinya.


rumah makan dendeng batokok Tuah Sepakat

Dendeng batokok berbeda dengan dendeng balado maupun dendeng di Jawa. Dendeng balado dimasak dengan cara digoreng. Di Jawa dendeng rasanya sangat manis. Dendeng batokok dibuat dengan cara daging sapi diiris tipis, ditokok (dipukul-pukul) dibumbui lalu dipanggang. Dendeng batokok dimakan ditemani dengan nasi panas dan sambal cabe cair. Mantap rasanya. Dendeng ini rasanya manis-asin. Cocok dipadu dengan sambal cabe yang tidak terlalu pedas. Aman buat yang tidak terlalu suka sambal 🙂


sepiring nasi dan sepotong dendeng batokok 

Di Sungai Penuh setidaknya ada dua rumah makan yang menyediakan menu spesial dendeng batokok. Pertama di jalan Soekarno-Hatta dekat pom bensin Pelayang Raya. Satunya RM Tuah Sepakat di simpang jalan Pancasila tepatnya di samping patung pahlawan Depati Parbo.

Kembali ke soal selera. Saya lebih suka dendeng yang di Pancasila daripada di Pelayang Raya. Lebih berasa bumbunya menurut saya. Biarpun banyak juga orang yang lebih menyukai dendeng di Pelayang Raya.

Tidak hanya menyediakan dendeng batokok, di RM Tuah Sepakat juga menyediakan menu lain seperti perkedel, ikan bakar, gulai lambung, gulai ayam, ayam goreng dan lain-lain.


Seperti tipe masakan Minang pada umumnya, jumlah sayuran dan lalapan berbanding terbalik jika dibandingkan dengan jumlah lauknya. Hati-hati ya buat yang kolesterol tinggi 🙂


Puas melahap dendeng batokok, saya biasanya memesan teh talua atau teh telur. Bukan teh dicampur telur loh. Namun, teh dicampur telur ayam kampung, susu kental manis dan perasan jeruk lemon. Dijamin bau amisnya hilang sama sekali. Malah menurut saya agak enek karena susu manisnya kadang terlalu banyak. Bagaimana soal harga? Cukup terjangkau kok. Cukup merogok kocek Rp 14.000,- saya sudah bisa menyantap sepiring nasi dan dendeng batokok, tambah Rp 7.000,- untuk teh talua. Tambuah ciek! 😀


segelas teh talua

Iklan

4 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s