Jalan-jalan ke Pusat Primata Schmutzer

 Tahukah Anda kalau Indonesia mempunyai pusat konservasi primata terbesar di dunia? Bukan di Sumatera atau di Kalimantan melainkan di Jakarta. Ya, selamat datang di Pusat Primata Schmutzer. Pusat Primata ini dibangun oleh Pauline Antoinette Schmutzer, seorang pecinta satwa terutama primata. Seluruh hartanya disumbangkan untuk pembangunan pusat primata ini sebelum akhirnya diserahkan ke kebun binatang Ragunan.

Pusat primata ini dibuka tahun 2002 dan memiliki koleksi sekitar 25 spesies dari 5 famili ordo Primata. Terletak di kompleks kebun binatang Ragunan.

Setelah membayar tiket, saya harus menitipkan barang bawaan berupa makanan dan minuman. Jadi, jangan harap bisa memberi makan kepada hewan-hewan disini. Patung gorila besar siap menyambut setiap pengunjung.


Selamat Datang di Pusat Primata Schmutzer

Selanjutnya saya melewati semacam anjungan bernama Gorilla Walk. Berupa jembatan layang yang dibangun di atas kandang gorila. Kandang ini sangat besar agar para gorila disini merasa bebas berkeliaran seperti di tempat aslinya dan tidak terganggu dengan kehadiran manusia. 


Rizal kawan saya di atas jembatan, gorila sedang bersantai

Di salah satu sudut saya menemukan trivia kepanjangan gorila yaitu :
Gorilla di Pusat Primata Schmutzer adalah jenis Gorila dataran rendah barat
Orang sering menyebutnya King Kong
Rambut di punggungnya berwarna keperakan (silver black) dan dimiliki oleh jantan dewasa
Ia adalah salah satu kera terbesar di dunia
Larangan untuk tidak memburunya sering diabaikan
Ancaman terhadap Gorila di alam antara lain hilangnya habitat, perburuan ilegal untuk dikonsumsi dagingnya, dan penyakit seperti Ebola


Keterangan Gorila

Selanjutnya saya melihat kandang aneka primata seperti Ungko, Owa Jawa, Wau-wau, Kera Hitam, Siamang dan lain-lain.

Selanjutnya saya melihat danau buatan yang dilengkapi jembatan dan pulau buatan. Sayang danau ini sedang ditutup untuk renovasi. Ketika melewati ruang teater, sedang tidak ada pertunjukan sehingga saya berlalu berlalu begitu saja.

Saya lalu menuju ke museum. Di sini dipamerkan berbagai penjelasan tentang dunia primata, peta persebaran primata di dunia dan contoh-contoh primata.

Ordo primata terdiri atas 5 famili yaitu Prosimian, Kera, Monyet daun, Gibbon, dan Ape. Yang termasuk famili prosimian adalah kukang dan tarsius. Jenis famili kera adalah makaka (monyet ekor panjang). Lalu famili jenis monyet daun adalah lutung yang memakan daun-daunan. Sedangkan gibon adalah monyet bertangan panjang. Di antaranya adalah siamang dan owa. Terakhir adalah ape yaitu primata tidak berekor. Antara lain gorila, orang utan dan wau-wau.


Contoh leaf monkeys (monyet daun) dan peta persebaran primata di dunia

 Di salah satu sisi saya menemukan patung gorila yang dicat warna-warni. Hasil karya peserta lomba lukis anak-anak. Sangat menarik! 😀

Terakhir saya melihat testimonial para pengunjung musem. Beberapa di antaranya adalah komentar, pesan dan pesan dari selebritas terkenal. Salah satunya dari pemandu acara jalan-jalan favorit saya, Riyanni Djangkaru.

   
berpose bersama gorila; pesan dari Riyanni Djangkaru

Dari museum, saya menjelajahi goa buatan menyerupai terowongan. Goa ini agak gelap. Rupanya di lantai terdapat sensor lampu yang akan menyala jika dilewati oleh pengunjung. Namun, di dalam terdapat pendingin ruangan dan cctv untuk kenyamanan pengunjung. Di beberapa dinding terdapat jendela untuk mengintip aneka primata.

 
pintu masuk goa buatan
 
mengintip orang utan

Yang agak aneh adalah di goa buatan yang gelap ini terdapat patung gorila dan ular! Saya terkejut melihat ular sebesar paha orang dewasa yang dibuat menyerupai aslinya. Benar-benar patung yang apa-apaan -_- Tentu tidak lucu untuk pengunjung yang tajut gelap, takut ular dan mungkin membawa anak-anak,


patung ular di goa yang gelap

Dari terowongan, saya melihat sebuah jembatan kanopi. Saya kecewa karena rupanya jembatan yang menghubungkan sebuah rumah pohon ini rusak berat dan tidak bisa dilalui pengunjung. Di dekatnya terdapat papan yang menggambarkan seberapa besar badan gorila. Jika mau bergantungan ala gorila juga bisa. Gorila bisa bergantung selama 15 menit dengan dua tangan dan 5 menit satu tangan. Namun, ketika mencoba belum lima menit saya sudah tidak kuat hahaha.


bergantung ala gorila, siluet gorila

Bosan dengan kebun binatang yang biasa saja? Pusat primata Schmutzer akan memberikan pengalaman baru kepada pengunjung.


lantai bermotif siamang


lambang toilet unik

Pusat Primata Shmutzer
Komp. Taman Margasatwa Ragunan
Jalan Margasatwa, Ragunan, Jakarta Selatan
Buka : Setiap Hari
Tiket :
Kebun Binatang Ragunan : Rp 4.500,-
Pusat Primata Schmutzer : Rp 5.000,-

Iklan

3 comments

  1. masih baguskah di PPS? terakhir ke sana kecewa melihat pengelolaannya tak seperti waktu masih dikelola Yayasan Gibbon *sekarang ditangani pemprov kan*

    • keseluruhan bagus, tapi ada beberapa fasilitas yg ditutup seperti kolam dan pulau buatan, rumah pohon dan jembatan kanopi ….ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s