Jejak Pilu di Lubang Buaya

Tiada akhir pekan terlewat tanpa jalan-jalan. Rugi rasanya Sabtu Minggu hanya tiduran dan malas-malasan di kosan. Untung saya punya teman yang minat dan kesukaannya sama. Indra, nama kawan saya yang sama-sama suka lihat museum dan sejarah, tiap minggu kami buat daftar tempat-tempat yang bisa dikunjungi. Mengunjungi semua museum di Jakarta menjadi obsesi kami.

Kali ini kami berencana ke Monumen Pancasila Sakti di Jakarta Timur. Setelah gugling dan berdiskusi, diputuskan dari kosan kami naik Koantas Bima ke terminal kampung Rambutan lalu sambung mikrolet jurusan Lubang Buaya. 

Saya yang mengalami masa anak-anak pada dekade 90-an sangat akhrab dengan kata PKI. Tiap tahun setiap tanggal 30 September saya diharuskan guru sekolah menonton film Pengkhianatan PKI, meski saya tidak pernah selesai karena sudah tidur duluan.


Indra di depan pintu gerbang 

Monumen ini terletak di jalan raya Pondok Gede. Setelah membayar tiket, kami berjalan sekitar lima ratus meter menuju tempat pertama yaitu museum komunis. Di sepanjang jalan  pohon peneduh membuat udara tidak begitu panas.

Museum ini dibangun pada 1 Oktober 1981. Panel pertama di lobi menggambarkan pemberontakan PKI di Madiun, penggalian jenazah korban G30S di sumur tua lubang buaya dan pengadilan pimpinan PKI oleh Mahkamah Militer Luar Biasa.

Selanjutnya saya melihat puluhan diorama yang menggambarkan sepak terjang PKI di Indonesia. Dimulai dari tahun 1945, kemenangan PKI pada pemilu tahun 1955, peristiwa G 30S dan pembubarannya tahun 1965. Suasana ruangan cukup gelap dan agak seram. Di salah satu diorama, digambarkan kekejaman PKI yang menelanjangi warga dan memenggal kepala warga dengan bambu.


foto kekejaman PKI dan diorama sejarah PKI

Keluar dari museum komunis terdapat museum memorabilia yang memajang barang-barang peninggalan para Pahlawan Revolusi dan diorama peristiwa G 30S. Musem ini sendiri diresmikan tahun 1992 dan memajang pakaian terakhir yang dipakai para jenderal yang berlumur darah. Seperti sarung Mayjen Suprapto dan celana Jend. A Yani yang berlumur darah kering. Ada juga dompet milik S Parman yang memajang foto beliau. Dipajang juga foto kondisi jenazah para jenderal yang ditemukan dalam kondisi mengenaskan dilengkapi daftar otopsi masing-masing. Sungguh membuat saya merasa nyinyir, ngeri menatap foto-foto itu.


museum pakaian dan bekas darah; sebagian foto Pahlawan Revolusi

Museum ini dilengkapi dengan diorama detik-detik peristiwa G 30S. Mulai dari penculikan para jenderal, penyiksaan di Lubang Buaya, hingga pembubaran PKI dengan terbitnya Supersemar dan pelantikan Mayjen Soeharto sebagi presiden RI menggantikan Ir. Soekarno. Jenderal AH Nasution yang juga diincar PKI lolos dari penculikan, namun putrinya Ade Irma Suryani Nasution gugur. Museum ini dibangun pada rezim Soeharto. Tidak heran jika disini seolah-olah museum memposisikan Bung Karno adalah pihak yang salah dan mendudukkan Soeharto sebagai pahlawan.


diorama penembakan A Yani, penyiksaan di Lubang Buaya dan penyerahan Supersemar

Keluar dari museum, saya berjalan melewati lapangan hijau yang setiap tahun dipakai sebagai tempat peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap tanggal 1 Oktober 1965.

Selanjutnya terdapat rumah yang dipakai sebagai ruang eksekusi para jenderal. Tampak diorama yang menggambarkan Pierre Tendean, R Suprapto, Soetojo Siswomihardjo dan S Parman yang wajahnya berlumur darah, disaksikan oleh simpatisan PKI. Saya merinding melihat diorama ini apalagi mendengar rekaman audio yang menjelaskan kronologi peristiwa ini.


diorama penyiksaan

Tidak jauh dari serambi penyiksaan terdapat rumah warga yang dijadikan pos komando. Di dalamnya masih bisa dilihat lampu petromaks, mesin jahit dan lemari.  Di sebelahnya terdapat dapur umum.

 
pos komando dan dapur umum

Bangunan selanjutnya adalah pendopo yang menaungi sumur maut Lubang Buaya. Di sumur tua sedalam 12 meter ini jenazah para jenderal dibuang sebelum ditemukan.  Sumur ini sudah ditutup dan dijadikan monumen.


sumur maut

Di dekat monumen sumur maut dibangun monumen pahlawan revolusi untuk mengenang ketujuh jenderal. Mereka berdiri gagah membela Garuda. Mereka adalah Jenderal Ahmad Yani, Letjen Suprapto, Letjen MT Haryono, Letjen S Parman, Mayjen DI Pandjaitan, Mayjen Sutoyo Siswomiharjo, dan Kapten Pierre Tendean.

Masih di museum ini, bisa ditemui beberapa kendaraan yang digunakan pada peristiwa G 30S diantaranya sedan bernomor AD-01 yang merupakan mobil dinas LetJen A. Yani, panser PCMK-2 Saracreen yang pernah dipakai mengangkut jenazah korban G30S menuju RSPAD Gatot Subroto Jakarta.


mobil sedan A Yani, mobil panser

Berikutnya terdapat replika truk Dodge buatan Amerika tahun 1961 milik PN Arta Yasa yang dirampas PKI untuk menculik Brigjen DI Pandjaitan dari rumahnya lalu terakhir ada mobil dinas Jeep Toyota Kanvas yang pernah digunakan Mayjen Soeharto pada 4 Oktober 1965 saat memimpin pengangkatan jenazah dari sumur maut Lubang Buaya.


replika truk Dodge dan mobil dinas Mayjend Soeharto

Darah tujuh jenderal dibayar dengan darah lima ratus ribu simpatisan PKI di seluruh Indonesia. Waktu terus bergulir dan sejarah kelam PKI masih akan terus menimbulkan kontroversi.

Monumen Panca Sila Sakti
Jl. Raya Pondok Gede, Lubang Buaya Jakarta Timur
Buka :
Selasa – Minggu 08.00-16.00
Senin tutup.

Hari libur nasional buka.
Tiket : Rp.2.500

Rombongan lebih dari 50 orang : Pelajar Rp. 1.500, umum Rp. 2.000

Iklan

14 comments

  1. Baru selesai baca buku anaknya MayJen Sutojo yg ternyata saking traumanya gak pernah nginjak lubang buaya dan baru2 ini berani mendatangi lubang buaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s