4D3N Chris Miranda di Kerinci 1

Minggu, 14 April

Habis jalan-jalan dengan Poppy dan Maya siang harinya, saya akhirnya bertemu Chris. Chris telah seminggu di Kerinci. Dia sudah naik gunung Kerinci, gunung Tujuh dan baru saja pulang dari danau Kaco. Wow. Dia ke danau Kaco bersama bang Riko, kawan saya.

Sekitar jam lima sore Chris sampai rumah dengan naik ojek dari rumah bang Riko. Padahal kalau jalan kaki juga cuma lima menit hehehe. Ada selang kecil menyembul dari balik ranselnya. Rupanya itu selang untuk tempat minum 😀

Malamnya kami makan di kafe Mini depan hotel Yani. Kami pesan kuetiaw dan teh susu kayu manis andalah kafe ini. Rasanya segar, manis dan hangat. 🙂

Christophorus William Miranda atau minta disebut Chris adalah orang Thailand keturunan Amerika. Dia tinggal di Ban Kruut terdengar seperti bangkrut, kota kecil di Thailand selatan sebagai pekerja NGO Amerika di Thailand. Orang tuanya campuran Anglo-Saxon dan Hispanik. Tidak heran kulitnya gelap dan berambut hitam. Oya, Chris adalah penganut atheis. Meski demikian, Chris pernah menjadi biarawan di sebuah vihara Thailand selama sebulan! Nah, jadi menurutnya Buddha bukanlah agama melainkan hanya filosofi. Menurutnya, tujuan agama Buddha adalah membebaskan manusia dari penderitaan. Namun, agama Buddha tidak mengenal Tuhan. Benarkah ?

Sebelum di Kerinci, Chris landing di Medan. Lalu naik gunung Sibayak, ke Bukittinggi, tinggal seminggu di Mentawai. 🙂

Senin, 15 April

Pagi-pagi kami bangun dan langsung sarapan Indomie buatan sendiri. Chris suka masakan pedas karena terbiasa dengan masakan Thailand yang katanya lebih pedas dari Indonesia.

Habis sarapan saya harus kerja sementara Chris nonton tv di rumah. Agak siang ketika kerjaan sudah kelar saya mengantar Chris ke dinas pariwisata dan TNKS untuk meminta brosur wisata Kerinci dan Taman Nasional Kerinci Seblat.

Sampai di dinas pariwisata, petugas yang bawa kunci lemari tidak ada di tempat. Sementara brosur itu cuma ada di lemari. Jadilah sembari menunggu ibu itu datang, kami bengong sambil melihat-lihat ruangan tamu dinas pariwisata.


souvenir khas Kerinci, fragmen gerabah, kuluk

Ada beberapa souvenir dan benda purbakala yang dipamerkan di etalase. Salah satunya miniatur orang pendek, makhluk mitologi yang kabarnya menyerupai monyet dan berkaki aneh. Konon mereka banyak tinggal di hutan gunung Kerinci dan gunung Tujuh.

Di dinding banyak dipajang foto wisata alam dan sejarah Kerinci beberapa di antaranya adalah batu megalitik peninggalan prasejarah. Salah satunya adalah megalitik batu belang yang ada di dalam danau Lingkat dan batu berelief di desa Pendung Mudik.


batu bersurat Pendung Mudik

Sekitar tiga puluh menit kami menunggu kami tidak mendapat kepastian kapan ibu petugas akan datang. Kami lalu pergi ke TNKS untuk meminta brosur wisata tentang TNKS.

 

Samoai di bagian P2, katanya Bagian Umum yang bertugas mengurusi brosur sedang ada tamu jadi kami disuruh menunggu sebentar sigh. Sambil menunggu saya melihat sekeliling dan memotret poster pelestarian alam di lobi. TNKS juga menjual gantungan kunci dan pin tentang aneka hewan dan alam di Kerinci.

Beberapa saat menunggu, datanglah seorang pegawai yang rupanya kepala humas TNKS. Dipikirnya kami mau ada wawancara dengan beliau, padahal hanya ingin minta brosur. Rupanya ada salah paham dengan petugas di lobi. Wew.

Setelah memperoleh brosur, saya mengantar Chris ke pasar karena ia ingin melihat aneka produk lokal di pasar. Kami janjian untuk bertemu lagi saat jam makan siang.

Saat istirahat segera saya jemput Chris yang telah menunggu di terminal dekat pasar. Chris membei golok. Katanya golok ini akan diberikan kepada temannya sebagai souvenir. Kami lalu menuju kedai Sate Amir di jalan Muradi. Sate ini bisa dibilang sate Padang pertama di Sungai Penuh. Sate ini kuahnya merah khas Pariaman.

Habis makan, kami meluncur ke desa Koto Petai. Chris ingin melihat danau Kerinci. Beruntung cuaca sangat cerah sehingga keindahan danau ini sangat bisa dinikmati. Air yang biru dikelilingi puncak gunung Raya dan gunung Raja di kejauhan. 

  

Di musim hujan, air danau meluap sekitar satu meter dari ketinggian normal saat kemarau. Uniknya, terbentuk ‘pulau’ kecil dari tanaman pandan di tepi danau.


Pulau Pandan 

Terendam 

Hanya sebentar di danau kami pulang karena saya harus masuk kerja sampai sore. Selepas pulang kerja, kami berencana ke Bukit Khayangan. Saya sudah lama tidak ke bukit Khayangan sejak jatuh dari motor beberapa bulan yang lalu. Kali ini turut serta Luke, kawan saya orang Amerika yang sudah lama tinggal di Sungai Penuh. Chris ikut bersama Luke naik motor yang sudah dimodif sedang saya naik motor sendirian.

Jalan menuju bukit Khayangan rupanya sudah diaspal hingga tempat penjualan tiket masuk.  Jarak tempuh menjadi semakin singkat. Bukit Khayangan adalah salah satu puncak tertinggi di kota Sungai Penuh. dari sini tampak jelas Danau Kerinci dan Gunung Kerinci jika cuaca sedang cerah. 


Danau Kerinci dari puncak Bukit Khayangan


jalan meliuk menuju Bukit Khayangan

Angin bertiup sepoi-sepoi, terkadang menusuk tulang. Pemandangan dari atas begitu sempurna. Sejauh mata memandang adalah Bukit Barisan yang mengepung kota Sungai Penuh. Tidak heran banyak yang bilang; jangan ke Sungai Penuh tanpa ke Bukit Khayangan.


Luke dan Chris; sungai di Renah Kayu Embun

Dari Bukit Khayangan kami meneruskan langkah ke Renah Kayu Embun, desa tertinggi di Sungai Penuh. Angin bertiup makin kencang. Dari desa ini tampak pemandangan kebun sayur dan buah-buahan milik warga. Berjalan lagi tampak puncak Gunung Raya.


Gunung Raya

Beberapa saat kemudian matahari terbenam di balik Gunung Kerinci. Menutup senja yang indah dengan guratan-guratan kekuningan dari sinarnya.

Iklan

2 comments

    • iyo ….. kalu hobi treking biso ke danau kaco ( glass lake), danau lingkat (green lake) samo yg paling bagus katonyo danau gunung tujuh ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s