Pekanbaru, Kembali Lagi

Entah, sudah berapa kali saya ke kota ini. Mungkin lebih dari lima kali. Dulu saya sering ada urusan kerjaan kesini karena kantor saya merupakan bagian dari kanwil di Pekanbaru. Setelah saya pindah kantor ke kanwil Jambi dan Sumbar, otomatis untuk urusan kantor lebih banyak dapat tugas ke Padang.

Namun, rupanya saya masih ‘berjodoh’ dengan Pekanbaru. Saya masih sering dikirim untuk mengikuti berbagai pelatihan dan diklat. Kali ini saya mendapat tugas lagi ke Pekanbaru. Biasanya dari Sungai Penuh ke Pekanbaru orang naik travel langsung lewat Solok. Kali ini saya ingin mencoba ke Pekanbaru lewat Muara Bungo. Pulangnya baru lewat Solok.

Di Pekanbaru saya nebeng di rumah bang Sandi. Teman dari CS Pekanbaru yang dulu pernah main ke Sungai Penuh. Rumahnya di kawasan Pandau, dekat bandara Pekanbaru. Tidak heran setiap beberapa menit akan terdengar deru pesawat terbang yang mendarat atau terbang dari bandara. Hanya semalam saya tinggal di rumah bang Sani karena malamnya sudah masuk hotel untuk acara pelatihan.

Tidak banyak yang ingin saya lihat di Pekanbaru. Secara Pekanbaru bukan kota tujuan wisata yang menonjol. Saya hanya melihat-lihat stadion utama Riau yang rupanya biasa saja. Tampak sekali aroma penyimpangan dan karut marut di stadion bekas PON ini.

Pagi kami sarapan lontong sayur dekat rumah. Siangnya makan gudeg Jogja di sebuah kedai makan di bilangan Sudirman. Gudegnya enak, opor ayamnya gurih tetapi sambal kreceknya pedasnya bukan main. Huh hah. 😦

Malam sebelum saya masuk hotel, saya dan bang Sandi janjian dengan bang Aldo di bakmi Jogja Pandawa di Sisingamangaraja. Tempat makan favorit saya jika main ke Pekanbaru. Selain pesan bakmi menu andalan rumah makan ini, kali ini saya mencoba menu baru yaitu wedang uwuh. Merupakan minuman tradisional Jawa berupa jahe dibubuhi jahe, secang, dan aneka rempah-rempah. Rasanya mirip wedang jahe namun tidak terlalu pedas di mulut. Segar sekali dan bikin hangat di badan.

Saya ketemuan dengan bang Aldo karena dia menyimpan hadiah untuk saya. Jadi ceritanya saya pernah menang sayembara di grup Backpacker Pekanbaru dan hadiahnya harus diambil di Pekanbaru. Setelah hampir setahun rupanya hadiah itu masih disimpannya. Berupa sepasang sumpit makan hasil jalan-jalan bang Aldo ke Cina. Saya sendiri juga telah menyiapkan sesuatu untuk bang Aldo. Dodol kentang khas Kerinci dan gantungan kunci bergambar gunung Kerinci. Darinya saya tahu bahwa cara memegang sumpit di Cina melambangkan kedudukan dan status sosial seseorang 🙂

Kebersamaan saya dengan komunitas Backpacker Pekanbaru rupanya tidak berhenti sampai disitu saja. Keesokan harinya, saya diundang untuk mempresentasikan wisata Kerinci dan Sungai Penuh di sebuah burger kafe saat ada kopdar komunitas ini. Banyak sekali yang antusias bertanya-tanya tentang wisata Kerinci 🙂

Foto kopdar di ambil dari sini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s