Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah adalah tujuan terakhir kami di kota Semarang. Dari kota lama kami naik angkot menuju masjid agung. Rupanya kami kebablasan. Sehingga saya dan Indra harus berbalik arah dan berjalan kaki menuju masjid. Sekitar lima belas menit berjalan, rupanya gerbang samping masjid ditutup. Jika memutar, maka jarak yang harus ditempuh cukup jauh. Tidak kurang akal, kami merayap melewati pagar karena tingginya pagar tidak memungkinkan kami untuk memanjat.

Status masjid ini adalah masjid provinsi. Merupakan masjid terluas di Jawa Tengah dengan luas total sepuluh hektar terdiri dari luas bangunan tujuh hektar dan luas lahan tiga hektar. Masjid ini diresmikan oleh presiden SBY pada tahun 2006 setelah melewati proses pembangunan secara bertahap selama enam tahun.

http://indraprawiranegara.files.wordpress.com/2012/07/img_4804.jpgpilar bergaya Romawi

Arsitektur masjid ini campuran Jawa, Arab dan Romawi. Bangunan utama beratap limas khas rumah joglo di Jawa Tengah. Dilengkapi dengan sebuah kubah dan empat menara yang berjumlah lima. Melambangkan rukun Islam. Pilar di halaman masjid berjumlah 25 buah melambangkan jumlah nabi dan rasul.

Masjid ini dilengkapi dengan ruang pertemuan yang bisa dipakai untuk berbagai keperluan. Saat itu sedang digelar audisi acara talent show Pildacil oleh sebuah tv swasta. Banyak anak kecil sedang menunggu giliran audisi. Setelah menunaikan shalat Dhuhur, saya berkeliling masjid.

http://indraprawiranegara.files.wordpress.com/2012/07/img_4811.jpgbangunan utama bergaya Jawa, kubah, pilar dan payung raksasa

Keunikan masjid ini yang tidak dimiliki masjid lain adalah adanya enam payung raksasa di halaman masjid. Payung ini berdiameter 14 meter dan bisa dibuka secara elektrik. Payung ini biasanya dibentangkan saat shalat Jumat dan shalat ied.

payung elektris masjid agung Jawa Tengah

Puas berkeliling masjid, saya menuju menara Al Husna yang terletak di depan masjid. Disebut Al Husna karena mempunyai ketinggian 99 meter. Sesuai dengan jumlah nama Alloh yang berjumlah 99 buah. Setiap pengunjung dipungut tiket masuk Rp 5.000,- untuk naik ke menara.

Kami antri untuk naik lift menuju puncak menara. Saat di dalam lift, seorang pramuwisata berjilbab menjelaskan kepada pengunjung bagian-bagian menara. Menara ini terdiri dari 19 lantai. Lantai pertama adalah stasiun radio dakwah, lantai 2 dan 3 adalah museum langsung lantai 18 adalah restoran yang bisa berputar 360 derajat dan lantai 19 adalah gardu pandang.

http://indraprawiranegara.files.wordpress.com/2012/07/img_4807.jpg
menara Al Husna, teropong pengintai, masjid agung dilihat dari atas

Dari puncak menara di lantai 19, tampak panorama masjid agung, persawahan dan kota Semarang. Serta laut Jawa dan kesibukan pelabuhan Tanjung Emas. Jika kurang jelas terdapat teropong untuk melihat detail kota Semarang lebih jelas. Cukup dengan memasukkan koin sebesar Rp 500,- maka pemandangan akan terbentang jelas. Namun, durasi teropong ini hanya beberapa menit saja.

Dari menara, saya turun menuju museum. Nama lengkapnya adalah museum kebudayaan Islam Jawa Tengah. Diresmikan setahun setelah pembangunan masjid agung. Isinya adalah sejarah perkembangan Islam di Jawa Tengah, artefak, foto dan miniatur masjid-masjid bersejarah di Jawa Tengah. Cukup menarik dan sangat informatif.


perjuangan Islam di Jawa Tengah dan ilustrasi buraq


senjata tradisional ulama dan model pakaian santri


masjid agung Surakarta dan miniatur menara masjid Kudus

Foto oleh Indra A.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s