3D2N Sandi di Kerinci 2 : Jelajah Kerinci Hilir

Sabtu, 30 Maret 2013

Pagi ini saya sudah lupa bahwa kemarin saya sempat dibuat kesal oleh seseorang. Hari ini saya hanya ingin berbahagia. Ingin berjalan-jalan mengenalkan keindahan Kerinci dan Sungai Penuh.

Dengan naik motor, saya pergi bersama bang Sandi ke spot terdekat dari rumah yaitu menhir Sumur Anyir. Lalu bergerak ke rumah adat Kerinci yang disebut umoh laheik atau rumah larik di Rio Jayo, kelurahan Sungai Penuh. Disebut demikian karena rumah ini memanjang di kiri dan kanan jalan membentuk larik atau baris. Di kota Sungai Penuh, hanya rumah di lingkungan Rio Jayo inilah yang kondisinya masih bagus dan masih memiliki ukiran khas Kerinci.

umah laheik Rio Jayo

Material umah laheik dibuat dari kayu tanpa menggunakan paku. Penutup dinding bawah dibuat dari anyaman bambu. Sedangkan atap dulunya dibuat dari ijuk.

Ada tiga bagian umah laheik. Lantai bawah disebut umin. Dipakai sebagai kandang ternak atau tempat menyimpan alat pertanian. Lantai atas merupakan tempat tinggal manusia. Sedangkan langit-langit disebut parra. Para merupakan tempat penyimpanan harta pusaka. Adanya pembagian fungsi lantai bawah, lantai atas dan langit-langit melambangkan hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan, sesama manusia dan dengan Tuhan. Umah laheik biasanya dilengkapi dengan beranda yang disebut pelasa untuk menerima tamu laki-laki. Untuk naik ke pelasa dilengkapi dengan tangga kayu.\


ukiran flora dan tali khas Kerinci

Umah laheik biasa dihuni oleh satu keluarga besar. Satu rumah terbagi atas beberapa rumah kecil yang disebut sikat. Antar sikat dalam satu rumah dipisahkan oleh pintu kecil menyerupai gerbong kereta api. Satu sikat terdiri dari kamar, ruang depan, ruang belakang dan dapur.

umah laheik 

Masih di Sungai Penuh, kami berpindah ke lapangan Tanah Mendapo dan tabuh larangan Sigantou Alang. Hari itu bang Sandi ingin memperoleh banyak foto. Jadi prinsipnya jepret banyak foto lalu pindah ke tempat lain. 🙂

Selanjutnya kami bergerak ke masjid agung Pondok Tinggi. Sayang masjid sedang tidak dibuka untuk umum sehingga kami melihat masjid dari luar. Waktu mau ke makam Depati Payung, rupanya sedang ada kemalangana disana sehingga kami menuju tempat lain.
Sebelum ke situs megalitik Koto Beringin, kami sarapan pical dulu di Batu Lumut. Di desa ini sedang ada lomba kebersihan. Setiap rumah memasang lampion dari bola warna-warni. 🙂

Tanjung Pauh Hilir menjadi tujuan kami selanjutnya. Obyek yang mau kami sambangi adalah masjid kuno Tanjung Pauh, sungai Batang Merao, kincir air dan perahu Cina serta persawahan. Bukan perahu dari Cina, tetapi perahu berpenutup mirip dengan perahu dari Cina.


kincir air, sungai Batang Merao dan persawahan

Desa Pulau Tengah menjadi incaran kami selanjutnya. Melihat jembatan merah yang menjadi tempat perjuangan pejuang Kerinci, batu dolmen baturajo dan masjid keramat Pulau Tengah. Masjid ini sedang direhab pada bagian berandanya.

jembatan merah Pulau Tengah

Lepas dari Pulau Tengah, pemandangan Danau Kerinci mulai tampak. Beberapa kali kami berhenti untuk mengabadikan keindahan danau. Di desa Jujun kami singgah sebentar untuk membeli perbekalan snack. Lalu kami menuju desa Lolo Kecil. Disini terdapat makam dan replika rumah kelahiran pahlawan Kerinci Depati Parbo serta situs megalitik batu silindrik. Disini banyak dijumpai hutan kayu manis yang daunnya berwarna kemerahan.

Dari Lolo Kecil kami berbelok arah ke kanan jalan menuju desa Talang Kemuning. Disini masih bisa dijumpai rumah-rumah kuno warga Kerinci hilir yang terbuat dari kayu.

Desa Lolo Gedang dan Pasar Kerman menjadi tujuan berikutnya. Disini juga masih ada rumah-rumah kuno, ruko jaman dulu dari kayu dan lumbung-lumbung padi yang sebagian sudah tidak dipakai lagi.


lumbung padi dan ruko di Lolo Gedang dan Pasar Kerman

Kami lalu bergerak ke arah Gunung Raya tepatnya di desa Lempur Mudik. Melihat masjid kuno Lempur Mudik yang berwarna-warni, mengamati batu meriam Lempur Mudik lalu akhirnya singgah sebentar di danau Lingkat. Nuansa mistis masih saya rasakan menyelimuti permukaan danau. Baru seminggu yang lalu seorang pengunjung tenggelam di danau ini. Kami hanya mengamati permukaan danau yang tampak tenang …

Beberapa saat terpaku dengan keindahan danau, kami pulang lewat Jujun. Saya sempat mengambil foto masjid Baitul Ihsan Koto Agung di dekat Jujun yang mempunyai arsitektur India.

Kembali kami menyusuri tepian danau Kerinci lalu singgah di bukit Tanjung Repelita. Dari atas tampak pemandangan danau Kerinci meski tertutup semak dan pohon tinggi. Di bukit ini terdapat pohon berelief.


danau Kerinci, pohon berelief dan pohon di Tanjung Repelita

Samapi di Sanggaran Agung, hujan deras turun. Dengan berlindung di bawah jas hujan, kami melaju naik motor ke Sungai Penuh. Agak terlambat saat kami makan siang di rumah makan danau Kaco. Sorenya kami mandi air panas di Sungai Medang. Pulang dari Sungai Medang kami keliling kota. Melihat sumur pulai dan rumah gedang Dusun Bernik Sumur Anyir serta melihat makam Depati Payung yang kami lewatkan tadi pagi.


sumur pulai dan rumah gedang Dusun Bernik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s