Jejak Muhammad Zhe di Sam Po Kong

 Pernah dengar Muhammad Zhe? Saya kira tidak banyak yang mengenalnya. Namun, jika disodorkan nama Cheng Ho atau Sam Po Kong pikiran sebagian masyarakat Indonesia akan langsung terpaut kepada sosok laksamana besar zaman Dinasti Ming dari Cina.

Cheng Ho terlahir dengan nama Ma He. Lahir pada tahun 1371 di Yunnan, Cina selatan. Lahir dari orang tua keturunan suku Hui yang beragama Islam. Kisah hidupnya cukup pilu karena sebelum menjadi laksamana, dia ditangkap saat peperangan dengan suku Ming dan dikebiri. Selanjutnya Cheng Ho menjadi orang kepercayaan raja Ming dan memimpin berbagai ekspedisi persahabatan ke berbagai negara hingga wafat tahun 1433.

Di Indonesia, Cheng Ho telah berkunjung tujuh kali. Di antaranya ke Aceh, Cirebon, Semarang dan Surabaya. Peninggalan Cheng Ho di Aceh adalah lonceng Cakra Donya untuk Sultan Aceh yang kini disimpan di Museum Negeri Aceh. Pemberian Cheng Ho untuk sultan Cirebon adalah sebuah keramik bertuliskan ayat kursi yang disimpan di keraton Kasepuhan. Di Surabaya dibangun masjid Cheng Ho oleh masyarakat muslim Tionghoa.

Di Semarang, jejak Sam Po Kong bisa dilihat dari replika kapal Cheng Ho di kali Garang. Disitu dibangun replika kapal dalam ukuran yang lebih kecil dari aslinya. Selanjutnya terdapat kelenteng Sam Po Kong di daerah Simongan,

Indra, kawan saya di depan gerbang kelenteng

Adalah Indra, kawan saya yang mengajak saya menengok kelenteng ini. Dari Jakarta kami naik kereta ekonomi menuju stasiun Semarang Poncol. Singkatnya, kami memutuskan naik taksi menuju kelenteng.

Kelenteng ini awalnya adalah sebuah masjid dan goa yang pernah disinggahi oleh Cheng Ho selama lawatan ke Semarang tahun 1405. Ceritanya waktu kapal Cheng Ho melintasi Semarang, nahkodanya yang bernama Wang Jinghong sakit keras sehingga Cheng Ho memutuskan buang sauh di Semarang.

Di desa Simongan, Cheng Ho tinggal di sebuah goa batu yang sekarang disebut goa Gedung Batu. Di situ Cheng Ho menunggui Wang Jinghong sampai sembuh hingga akhirnya Wang Jinghong memutuskan menetap di Semarang beserta sebagian awak kapal. Awak kapal Cheng Ho lalu mengubah masjid Cheng Ho menjadi kelenteng.

Tiket masuk ke kelenteng tiga ribu rupiah per orang. Untuk menikmati bagian dalam kelenteng perlu membeli tiket lagi dua puluh ribu rupiah. Saya membeli tiket biasa sementara Indra membeli tiket tambahan untuk melihat isi kelenteng. Kami ditawari untuk berfoto ala raja-raja Cina,  tetapi melihat harganya yang sangat mahal mencapai Rp 75.000,- per orang termasuk cetak foto membuat kami geleng-geleng kepala.

kelenteng Sam Po Kong

Bangunan utama di kelenteng ini adalah kelenteng Sam Po Kong atau Sam Po Tay Djien. Ukurannya paling besar dengan ukiran paling rumit dan jumlah atap tiga tingkat. Warnanya dominan merah menyala.Saya hanya bisa mengamati dari luar karena kelenteng ini hanya boleh dipakai untuk beribadah. Di depan kelenteng berdiri gagah patung Cheng Ho setinggi sepuluh meter.

Di samping kelenteng utama adalah kelenteng Juru Mudi yang didedikasikan untuk Wang Jinghong atau Dampo Awang. Kelenteng ini berukuran lebih kecil. Wang Jinghong sendiri dimakamkan di dekat kelenteng ini.

Berikutnya terdapat kelenteng Dewa Bumi atau Tho Tee Kong. Dipakai sebagai pemujaan untuk Dewa Bumi yang menguasai bumi, tanah dan hasil pertanian. Berikutnya terdapat kelenteng Kyai Tumpeng dan Nyai Tumpeng yang berbentuk pendopo. Kyai dan Nyai Tumpeng adalah nama lokal dari juru masak kapal Cheng Ho.

goa Gedung Batu

Selain sejumlah kelenteng, daya tarik kelenteng Sam Po Kong adalah goa yang dulu pernah dipakai sholat oleh Cheng Ho. Goa ini hanya bisa dinikmati jika pengunjung membeli tiket seharga Rp 20.000,-. Goa aslinya tidak bisa dimasuki pengunjung karena selalu terendam air. Sebagai gantinya, dibangun replika goa Gedung Batu tidak jauh dari goa aslinya. Lagi-lagi, menurut penuturan Indra, replika goa ini tidak boleh dimasuki oleh pengunjung nontionghoa.

Di sebelah pintu masuk goa Gedung Batu terhampar relief sejarah Cheng Ho yang dipajang di dinding sepanjang lima puluh meter. Menceritakan sejarah lawatan Cheng Ho di berbagai tempat di Indonesia. Sangat menarik sekali. Relief ini dilengkapi dengan keterangan dalam bahasa Indonesia, Inggris dan Mandarin. Untuk pecinta sejarah, tempat ini sangat sayang dilewatkan jika berkunjung ke Semarang. Terlepas dari harga tiketnyanya yang cukup mahal.

Foto oleh Indra A.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s