Keliling Bangko (4) : Rantau Panjang

no (2)ย 

Selamat Datang Kawasan Rumah Tuo, begitu tulisan yang saya baca di papan nama gapura desa ini. Di desa Rantau Panjang, Tabir kabupaten Merangin. Sekitar setengah jam perjalanan dari Bangko menuju Muara Bungo. Saya ke Tabir ditemani Thomas dan Ayu, kawan dari komunitas Backpacker Bangko.

Pintu gerbang tadi seolah mengantarkan saya menuju masa lampau. Desa Rantau Panjang bukanlah desa biasa. Desa ini merupakan desa tertua di provinsi Jambi yang telah dihuni paling tidak sejak 680 tahun yang lalu. Penduduk desa ini adalah suku Batin yang merupakan suku asli Jambi yang berbudaya matrilinial. Suku Batin adalah keturunan proto Melayu. Berbeda dengan mayoritas penduduk Jambi yang merupakan suku Melayu keturunan Melayu muda (deutro Melayu) dan berbudaya patrilinial.

Suku Batin konon merupakan ‘saudara’ suku Kerinci. Mereka bermigrasi dari Cina selatan ribuan tahun lalu ke Indonesia. Menyusuri sungai Batanghari di Jambi menuju hulu. Di Bangko, rombongan ini berpisah. Satu kelompok berbelok menuju Tabir dan yang lainnya terus ke hulu menuju Kerinci.

Perlahan saya menyusuri setiap rumah demi rumah. Menangkap dialek bahasa yang sama sekali lain dari bahasa Melayu Jambi pada umumnya. Ah..saya seperti terlempar ke masa lalu. Melihat deretan perumahan kuno berupa rumah panggung tradisional dari kayu. Kaum perempuan memakai tutup kepala dan menggendong keranjang rotan pulang dan pergi dari hutan.

Rumah disini hampir seragam. Berbentuk memanjang ke samping dengan sebuah tangga di depan. Terbuat dari kayu meskipun atapnya sudah diganti seng. Memiliki hanya satu pintu di depan dan terdapat banyak jendela. Jendela disini ukurannya cukup besar.

Tidak semua rumah dalam kondisi dihuni. Satu dua rumah tampak ditinggalkan oleh penghuninya. Warga desa Rantau Panjang kebanyakan masih satu saudara. Beberapa rumah masih mempertahankan ukiran khas yang bermotif sulur dan flora.

Sejumlah rumah tampak dipenuhi dengan tumpukan kayu bakar pada bagian kolong rumah. Akhirnya nanti saya ketahui bahwa kayu ini hanya dipakai jika ada warga yang sedang menggelar pesta atau tertimpa kesusahan.

Langkah saya akhirnya berhenti di sebuah rumah besar berwarna cokelat susu di sudut kampung. Saya disarankan ke rumah ini karena ini adalah rumah tertua disini yang telah berumur 680 tahun. Rumah ini juga difungsikan sebagai museum suku Batin.

Di bawah rumah ditumpuk banyak sekali kayu bakar. Di sebuah sudut saya menemukan sebuah tabuh (beduk) dan bubu untuk menjala ikan.

Sementara saya dan Ayu mengambil foto, Thomas naik ke atas rumah dan langsung berbincang-bincang dengan pemilik rumah. Beberapa saat kemudian kami menyusul Thomas naik ke atas rumah lewat tangga. Sementara Thomas terlibat obrolan hangat dengan pemilik rumah, saya dan Ayu memilih untuk berkeliling melihat-lihat isi rumah.

Rumah ini terdiri dari serambi depan, serambi tengah yang lantainya lebih tinggi dan ruang belakang. Serambi dipakai untuk memamerkan peralatan dan perlengkapan hidup suku batin. Sedangkan ruang belakang untuk ruang tidur dan dapur. Rumah ini ditopang oleh beberapa tiang utama. Dinding dibuat miring. Seluruh ruangan dibangun tanpa menggunakan paku.

 

Benda-benda yang dipamerkan disini sangat unik dan jadul. Saya seperti sedang main ke rumah nenek. Seperti carano (tempat sirih), bulu burung kuau, dan aneka keramik kuno. Di rumah ini koleksi ditampilkan apa adanya. Tanpa disimpan dalam wadah khusus untuk mencegah dari debu dan kerusakan karena cuaca.

Di tengah-tengah ruangan saya melihat sebuah lemari kaca. Di dalamnya tersimpan sebuah mushaf Al Qur’an yang ditulis tangan, kain kuno yang dipakai saat pesta adat, keramik dan olala..gelas bertuliskan nama sebuah stasiun tv swasta.

Saya melihat setidaknya ada tiga motif ragam hias di rumah ini. Motif sulur, keluk paku dan tali bapilin tigo. Motif keluk paku merupakan motif yang sering dijumpai di rumah adat Kerinci. Sedangkan motif tali bapilin tigo sering dijumpai di rumah gadang.

Ragam hias keluk paku melukiskan tanaman paku yang keloknya seakan tidak mempunyai ujung dan pangkal. Melambangkan semangat berkesinambungan (terus menerus). Lalu tali bapilin tigo (tali berpilin tiga) melambangkan persatuan kaum agama, kaum adat dan ninik mamak.

Selesai berkeliling saya dan Ayu bergabung dengan Thomas dan pak Iskandar, sang pemilik rumah. Beliau merupakan keturunan dari pemilik pertama rumah ini. Tiang utama rumah menurut penelitian seorang ilmuwan dari Jerman telah berumur 680 tahun. Sedangkan lantai dan dinding kayu berusia lebih muda.

Ada banyak sekali kebijakan hidup suku Batin yang dijelaskan oleh pak Iskandar. Beliau dengan sangat sabar dan sesekali melempar humor menjawab seluruh pertanyaan kami tentang rumah ini dan adat istiadat suku Batin. Salah satunya adalah tentang tanduk kerbau yang dipajang di salah satu tiang. Tanduk ini berasal dari sebuah kerbau bunting yang dipotong sebagai denda adat karena seseorang telah menggoda istri orang. Wew. Zaman dulu, jika seorang anak berlaku kurang sopan ke orang tua maka bisa didenda dengan hukuman memotong kambing!

Zaman telah berubah, suku Batin yang dulu sekali memeluk animisme dan dinamisme sekarang semuanya merupakan pemeluk Islam yang taat. Modernisasi telah lama masuk ke kampung ini. Namun, semangat melestarikan rumah adat ini masih terus terpatri. Jangan heran jika dengan mudah di depan rumah adat kita temukan parabola dan tv telah dipunyai oleh banyak keluarga.

Ketika saya menanyakan gelas bertuliskan Trans TV, buru-buru pak Iskandar menunjukkan kami foto seorang artis ibukota. Rupanya rumah ini pernah dipakai syuting acara Ethnic Runaway yang kala itu dibintangi oleh Ricky Perdana dan Lilis Karlina.

Waktu dua jam cepat berlalu. Hari telah bergerak senja. Kami harus pulang ke Bangko untuk melanjutkan perjalanan ke Kerinci. Sebelum pulang, kami melihat-lihat lumbung padi dan kuburan kuno di belakang rumah. Kuburan ini menggunakan batu semacam menhir sebagai nisannya. Wow..

Iklan

12 comments

  1. […] Rumah Tuo Rantau Panjang Rumah tuo yang berlokasi di kelurahan Kampung Baruh kecamatan Tabir merupakan rumah tertua di provinsi Jambi. Dibangun oleh Puyang Bungkuk pada tahun 1333. Puyang Bungkuk sendiri dipercaya sebagai leluhur masyarakat suku Batin. Rumah ini sekarang dihuni oleh keturunan ke-14 dari Puyang Bungkuk. Lihat juga : https://djangki.wordpress.com/2013/04/14/keliling-bangko-4-rumah-kuno-rantau-panjang/ […]

  2. […] Rumah Tuo Rantau Panjang Rumah tuo yang berlokasi di kelurahan Kampung Baruh kecamatan Tabir merupakan rumah tertua di provinsi Jambi. Dibangun oleh Puyang Bungkuk pada tahun 1333. Puyang Bungkuk sendiri dipercaya sebagai leluhur masyarakat suku Batin. Rumah ini sekarang dihuni oleh keturunan ke-14 dari Puyang Bungkuk. Lihat juga : https://djangki.wordpress.com/2013/04/14/keliling-bangko-4-rumah-kuno-rantau-panjang/ […]

  3. Terimakasih bang sudah membantu menyebarkan informasi seputar sejarah rumah tuo rantau panjang, , , , #salah satu anak rantau panjang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s