Anjungan Papua : Honai, Kariwari & Rumsram

89c82ff543873a89b3a668260219bb57.jpg
pegunungan bersalju di Papua, foto dari sini 

Miniatur pegunungan bersalju terlihat di halaman anjungan Papua. Pegunungan ini merupakan ikon Papua karena Puncak Jaya atau yang sering disebut Carstenz Pyramid adalah salah satu dari tujuh puncak tertinggi di dunia. Tingginya 4884 meter di atas permukaan air laut. Uniknya, puncak ini diselimuti salju dan satu-satunya gunung bersalju di khatulistiwa.

Ketika saya di anjungan Papua, sedang ada pameran kerajinan tangan khas Papua di panggung serbaguna. Tampak seorang pria asli Papua mengenakan riasan dan pakaian adat sedang membuat kerajinan khas suku Asmat. Ada tarif berfoto, tetapi saya mengambil foto pria itu diam-diam.


Papua adalah provinsi terluas di Indonesia, mencakup 21% wilayah Indonesia. Terletak di paling timur Indonesia. Berbatasan langsung dengan provinsi Papua Barat dan negara Papua Nugini. Penduduk Papua merupakan ras Melanosoid. Terdiri dari sekurang-kurangnya 193 suku dengan 250 bahasa daerah. Sebagian penduduk Papua di pedalaman masih semiprimitif. Kaum perempuan tidak memakai atasan dan kaum laki-laki hanya menggunakan penutup kelamin berupa labu kering yang disebut koteka.

Ada tiga tipe rumah adat yang ditampilkan di anjungan Papua. Satu adalah tipe rumah di pegunungan, tipe rumah pesisir dan rumah di kepulauan.

Rumah pertama adalah honai. Merupakan kompleks rumah adat suku Dani di lembah Baliem, di pegunungan Puncak Jaya. Suku Dani mengenal konsep pemukiman yang disebut sili. Sili merupakan lingkungan yang dihuni oleh sebuah keluarga. Terdiri dari honai sebagai rumah kaum laki-laki, ebei honai untuk rumah kaum perempuan, dapur, wanai honai untuk ternak hewan terutama babi. Honai untuk laki-laki lebih besar daripada ebei honai. Aslinya honai terdiri dari dua lantai. Lantai pertama untuk kegiatan sehari-hari dan lantai dua untuk tempat tidur. Halaman honai sering dipakai untuk upacara bakar batu.


honai dan kandang babi

Rumah adat kedua di anjungan Papua adalah kariwari. Kariwari merupakan rumah adat suku Tobati-Enggros di tepi danau Sentani,  Jayapura. Mewakili daerah pesisir Papua. Berbeda dengan honai yang berbentuk bulat, kariwari berbentuk limas segi delapan. Aslinya dibuat dengan menggunakan atap dari daun sagu. Terdiri dari dua lantai. Rumah ini dilengkapi dengan replika danau Sentani dan perahu suku Asmat. Meskipun suku Asmat sendiri tinggal di pesisir Papua.

kariwari dan miniatur danau Sentani

Di Taman Mini, kariwari menjadi bangunan utama yang menampilkan pameran seni dan budaya Papua. Ada banyak sekali kerajinan khas Papua seperti ukiran kayu, patung nenek moyang, senjata tradisional, koteka, awetan binatang buas seperti buaya, burung cenderawasih dan lain-lain.


mahkota dan awetan burung cenderawasih

Di lantai dua saya menyaksikan diorama upacara inisiasi yang sangat unik. Upacara ini dihelat untuk memperingati proses kedewasaan pemuda Papua. Caranya, seorang anak yang beranjak remaja akan ditelungkupkan dan ditoreh tato tradisional oleh pawang.


ukiran Papua, pakaian adat dan diorama upacara tato

Rumah adat ketiga di anjungan Papua adalah rumsram, model rumah panggung yang banyak ditemui di pulau Biak. Rumah ini dipenuhi dengan ukiran khas Papua yang menggambarkan sosok nenek moyang. Rumah ini khusus dipakai sebagai kantor anjungan.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s