Keliling Bangko (1) : Jam Gento dan Sungai Misang

 Setelah urusan kantor selesai, saatnya menikmati objek wisata kota Bangko, ibukota kabupaten Merangin. Tujuan saya yang pertama adalah Jam Gento di kawasan Pasar Atas. Saya naik motor berboncengan dengan Thomas, kawan dari komunitas Backpacker Bangko. Jalan menuju Jam Gento cukup terjal meski bisa dilalui oleh motor. Di dekat Jam Gento rupanya ada Ayu, kawan Thomas.

Ikon kota Bangko ini terletak di puncak bukit. Dari atas tampak pemandangan sebagian kota Bangko. Jam Gento adalah bangunan yang dilengkapi dengan tugu jam dan menara pemancar radio.

pemandangan dari Jam Gento

vandalisme

Sayangnya bangunan ini luput dari perhatian pemkab. Sekeliling gedung yang dipenuhi relief penuh dengan coretan cat semprot. Warna catnya kusam. Sampah menyeruak dimana-mana. Ketika saya mendekati gedung, terdengar musik dari dalam. Pertanda masih ada kehidupan di dalam sana. Kabarnya tempat ini hanya dijadikan mabuk-mabukan oleh segelintir anak muda Bangko dan untuk tempat pacaran!

Saya, Thomas dan Ayu selanjutnya menuju Sungai Misang. Disini merupakan bekas arena MTQ tingkat provinsi Jambi tahun lalu. Saya menyaksikan upacara pembukaan MTQ ini lewat TVRI stasiun Jambi yang menyiarkannya secara langsung.

Tidak ada yang istimewa dari tempat ini. Hanya sebuah tanah lapang yang dilengkapi beberapa bangunan. Bekas arena MTQ ini berada dekat kompleks pesantren Al Munawaroh Sungai Misang.

We are in England, not Bangko(k) 😀

Masih di Sungai Misang, Ayu mengajak kami menuju balai adat Melayu Sarko di samping eks MTQ. Untuk mencapai tempat ini kami harus melalui jalan kecil tidak beraspal lewat belakang balai adat.

Tidak terurus dan tidak bertuan. Demikian kondisi bangunan ini. Dulunya bangunan berupa rumah panggung ini merupakan gedung Lembaga Adat Melayu kabupaten Sarolangun Bangko (Sarko). Setelah kabupaten Sarko dipecah menjadi kabupaten Sarolangun dan Merangin, gedung ini dibiarkan merana.

rumput tebal


Gedung ini masih nampak kokoh meski sebagian anak tangga tampak sudah mulai rapuh dimakan usia. Cat berwarna merah mulai memudar. Rumput tinggi menyeruak di halaman.


detail ukiran bermotif  tumbuhan

Iklan

5 comments

  1. Padahal bagus banget rumahnya, sayang gak keurus. Ah di Palembang juga gitu. Tuh rumah2 di komplek Dekranasda Jakabaring yang dulu katanya mau dibikin kayak TMII, nasipnya sama juga 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s