Anjungan Sumatera Utara : Rumah Delapan Suku

 Ah..Sumut masihol, Sumut yang kurindu. Demi melihat rumah-rumah adat di anjungan Sumatera Utara, sedikit mengobati rasa rindu akan kampung halaman nomor dua setelah kampung halaman di Jawa ini.

Sumatera Utara atau Sumut memiliki setidaknya delapan suku asli. Melayu, Mandailing, Nias, Pakpak / Dairi, Karo, Toba, Simalungun dan Pesisir. Hal ini tercermin di gapura masuk anjungan. Di puncaknya terdapat model atap rumah bagas godang dari etnis Angkola Mandailing. Berpijak pada landasan yang berciri hias Melayu warna kuning. Masing-masing di kiri dan kanan terdapat ornamen khas Karo yang berwarna hijau. Sedangkan tiangnya mencerminkan tiang rumah etnis Simalungun.

Masuk ke dalam anjungan, di sebelah kiri dekat pintu masuk terdapat jabu bolon Simalungun dan rumah panggung Melayu di sebelah kanan.

Jabu bolon Simalungun merupakan rumah adat yang dulu dihuni oleh raja dari suku Batak Simalungun di daerah Pematang Purba. Dari depan rumah ini tampak simetris dengan hiasan berupa cicak dan kepala kerbau di atap rumah.

Ada empat marga induk Batak Simalungun yaitu Saragih, Sinaga, Damanik dan Purba. Di Sumut kebanyakan tinggal di kabupaten Simalungun dan kota Pematang Siantar.

 
rumah bolon Simalungun dari depan dan samping

Di atas pintu rumah terdapat tulisan Simalungun Habonaron do Bona yang bermakna kebenaran adalah utama. Ruang bagian depan disebut lopou. Dipakai oleh raja beserta tamunya. Sedangkan ruang belakang untuk keluarga raja. Warna hitam, putih dan merah dalam rumah adat Batak melukiskan hubungan antara Tuhan, manusia dan alam. Sedangkan cicak melambangkan kebijaksanaan. Kerbau perlambang keberanian, kebenaran, dan untuk menangkal roh-roh jahat.

Di Taman Mini, anjungan Simalungun dipakai untuk memamerkan pakaian adat Simalungun. Kadang dipakai untuk berlatih kesenian.


pengantin Simalungun

Di belakang rumah adat Simalungun terdapat bangunan mushola berciri arsitektur Mandailing. Mandailing merupakan sub suku Batak yang menghuni Sumatera Utara bagian selatan dan tenggara. Marga yang terkenal antara lain Nasution dan Lubis.


mushola khas Mandailing

Di belakang mushola Mandailing terdapat bangunan besar bertingkat tiga yaitu rumah adat Batak Karo yang bernama Siwaluh Jabu. Merga yang tergabung dalam Batak Karo yaitu Sembiring, Perangin-angin, Karo, Ginting dan Tarigan.

Siwaluh Jabu

Ada tiga tingkatan atap rumah siwaluh jabu dengan atap kedua dan ketiga berbentuk segitiga. Unsur angka tiga dalam masyarakat Karo melambangkan tiga kelompok keluarga yaitu Kalimbubu, Senina atau Sembuyak dan Anak Beru. Warna dominan kuning melambangkan matahari. Seperti halnya jabu bolon Simalungun, siwaluh jabu juga dilengkapi dengan ornamen berupa cicak dan kepala kerbau.

Rumah ini di bagian bawah dipakai sebagai kantor dan galeri foto Sumatera Utara. Sedangkan di lantai atas dipamerkan aneka kain khas Sumatera Utara seperti uis dari Karo, hiou dari Simalungun, ulos dari Toba dan oles dari Pakpak. Selain itu terdapat koleksi perhiasan, miniatur rumah adat, foto pakaian adat dari berbagai suku di Sumut.


petani jeruk di Brastagi dan petani kopi di Sidikalang


dari kiri ke kanan, atas bawah :
Pakaian adat Melayu, Batak Toba, Batak Karo, Pesisir
Pakaian adat Pakpak, Nias, Mandailing, Simalungun


rumah adat Karo


bagas godang, rumah adat Mandailing

Tepat di samping rumah adat Karo ada susunan batu yang dipakai untuk acara lompat batu, olahraga tradisional Nias yang sudah mendunia. Di dekatnya terdapat rumah adat Nias dari kawasan Nias Selatan.

 
lompat batu Nias

Rumah ini disebut Si Ulu. Dibangun setengah dari ukuran aslinya. Bentuknya menyerupai perahu dengan tiang dari kayu utuh. Sayang rumah Nias ini ditutup sehingga saya tidak bisa mengetahui apa isi di dalamnya.

Di sebelah rumah adat Nias ada rumah adat Pakpak Dairi yang dibangun juga lebih kecil dari aslinya. Mengambil bentuk balai adat suku Batak Pakpak. Rumah ini berwarna dominan hitam dan juga dihiasi ornamen berbentuk cicak dan kerbau.

Selanjutnya adalah rumah tertua di anjungan Sumut yaitu ruma bolon Batak Toba. Dibangun dua kali lipat dari ukuran sebenarnya. Rumah ini masih berwarna campuran hitam, merah dan putih. Dihiasi dengan ukiran flora yang disebut gorga. Dilengkapi dengan ukiran payudara, cicak dan gajah dompak. Payudara melambangkan kesuburan dan penghormatan kepada perempuan dan gajah dompak sebagai penolak bala.

Eksterior rumah dihiasi dengan gambaran kehidupan masyarakat tradisional. Ada juga diorama upacara-upacara adat di Sumatera Utara.  Di dalam rumah ditampilkan berbagai boneka pakaian adat delapan suku di Sumatera Utara, berbagai peralatan dapur dan alat musik tradisional.

Di depan rumah adat Batak Toba adalah rumah adat Melayu atau sering disebut Melayu Deli. Ciri khasnya adalah hiasan lisplang bermotif lebah menggantung berwarna kuning menyala yang melambangkan keagungan.

Rumah ini lebih banyak dipakai untuk panggung pertunjukan.

Sebenarnya masih ada satu suku lagi yaitu suku Pesisir yang mendiami pesisir barat Sumatera Utara. Namun, kita tidak akan bisa menemukan rumah adat Pesisir disini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s