Hotel Rasa Apartemen

Menginap di hotel, tetapi fasilitas serupa apartemen bertingkat alih-alih hotel. Rupanya ada penginapan model gini. Ini adalah cerita saya tahun lalu.

Saya menginap di hotel ini atas undangan dari kantor pusat untuk sebuah acara di Jakarta. Biasanya kantor pusat akan memilih hotel di kawasan Jakarta. Namun, kali ini dipilih sebuah hotel di bilangan Serpong, Tangerang Selatan.

Meski alamat yang diberikan kantor pusat sudah cukup jelas, saya perlu untuk memastikan alamat tersebut di Google Map biar mudah mencapainya dari bandara Jakarta. Serta memastikan fasilitas apa saja yang ada di hotel tersebut.

Hari telah malam ketika pesawat saya sampai di Jakarta. Saya naik taksi dari bandara menuju hotel. “Lewat belakang, Pak? “, tanya sopir taksi ketika saya duduk di taksi. Saya melihat peta dan memutuskan lewat tol alih-alih mengikuti saran sopir. Rupanya keputusan saya salah. Lewat tol malah lebih lama. Saya harus mengeluarkan uang tiga kali lipat dari tarif biasanya. Ini adalah perjalanan dinas sehingga semua biaya perjalanan diganti kantor. Saya tidak harus ambil pusing 😉

Saya mendapat kamar di lantai 21. Kamar tertinggi yang pernah saya tempati. Konsepnya berupa apartemen. Ruangannya mungil. Terdiri dari dua kamar tidur dan satu kamar mandi. Dilengkapi dengan dapur bersih yang menyatu dengan ruangan untuk makan dan menonton tv.


pintu kamar, ruang nonton menyatu dengan meja makan

Dari balkon hotel, saya melihat lalu lintas di jalanan di bawah sana. Hotel ini terletak di tepi jalan tol Jakarta-Merak. Tepat di samping hotel mengalir sungai Cisadane, pemisah alam antara kota Tangerang dan kabupaten Tangerang. Saya lalu makan malam di sebuah kedai nasi goreng di luar hotel. Hotel baru mnyediakan sarapan besok pagi. Habis makan saya terlelap.

Sungai Cisadane

Pagi hari, saya disambut matahari terbit yang sangat indah. Muncul perlahan-lahan dari padatnya gedung-gedung lalu merangkak naik dan tenggelam di awan yang sudah muncul di pagi hari.

Kemudian saya sarapan pagi di restoran yang terletak di lantai dasar hotel. Tidak ada yang istimewa. Bubur ayam, nasi goreng dan buah-buahan. Ketika bercakap-cakap dengan kawan, rupanya hotel ini dulunya adalah apartemen lalu disulap menjadi hotel.

lampu restoran

Pulang ke atas, saya menyempatkan melihat pemandangan dari luar. Rupanya hotel  ini dilengkapi dengan waterboom dan kolam renang. Entah, apakah boleh dinikmati cuma-cuma oleh pengunjung hotel atau tidak.


panorama gunung Salak di kejauhan; waterboom; jalan tol Merak


tempat parkir dan atap hotel berwarna-warni

Hotel ini juga dilengkapi dengan mall. Namun, ketika saya melangkahkan kaki kedalamnya, tidak ada apa-apa. Sepi seperti kuburan. Sepertinya sudah tidak beroperasi lagi. Hampir semua toko tutup. Hanya tampak beberapa petugas keamanan berjaga-jaga di dalam lokasi mall.

Acara kantor saya berlangsung dari pagi sampai sore. Sorenya saya kembali ke kamar. Mengintip aktivitas warga urban Tangerang di sore hari. Bermacet-macet ria dari Jakarta demi perjalanan pulang menuju rumah.


perjalanan pulang; macet


macet sampai malam menjelang

Entah kenapa saya merasa bersyukur tidak tinggal di Jakarta atau kota-kota di sekitarnya. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s