Berjuta Cerita dari Museum Kerinci

Iskandar Zakaria, demikian nama lengkap bapak itu. Akhrab disapa pak Kandar. Kecintaannya terhadap sejarah, seni dan budaya Kerinci telah mendapat apresiasi dari berbagai pihak dari dalam dan luar negeri bahkan Presiden. Miris di tengah minimnya perhatian dari pemerintah daerah.

Bapak berkacamata tebal itu menyambut kami dengan senyum. Menyalami saya, Poppy dan kawan-kawan yang hari itu berkunjung ke rumahnya yang dijadikannya museum di kawasan Dusun Baru, kota Sungai Penuh. Kami lalu duduk lesehan di ruang tamu rumahnya yang sederhana.

Saya dan Poppy memang menyukai sejarah dan arsitektur. Sehingga kunjungan ke rumah pak Kandar ini terasa istimewa bagi kami.

Ini adalah kunjungan kali ketiga ke rumah pak Kandar. Kali pertama kami bertamu saat beliau hendak sholat Jumat. Kami membuat kesepakatan kami akan datang ke rumahnya hari Selasa. Selasa pagi kami datang pak Kandar masih lalok sehingga kami membatalkan kunjungan.

Pak Kandar adalah pensiunan pegawai dinas pariwisata, seni dan budaya kabupaten Kerinci. Selepas pensiun beliau menjadi koordinator Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi untuk wilayah Kerinci dan Sungai Penuh sampai saat ini. Tidak heran, meski telah berusia lanjut, beliau masih semangat blusukan untuk meneliti benda-benda purbakala di seantero Kerinci.

Nama Iskandar Zakaria mencuat ke ranah nasional ketika beliau berhasil menyelesaikan mushaf Al Qur’an terpanjang di dunia yang dicatat dalam rekor MURI tahun 2006. Mushaf tersebut dilukis di atas kain sutera sepanjang 1919 meter dengan teknik membatik. Perlu delapan tahun untuk membuat mushaf tersebut. Al Quran tersebut kini disimpan di museum BKMT di Bekasi.


penghargaan dari MURI dan dari presiden PKS kala itu, Luthfi Hasan Ishaq

Kegemaran pak Kandar mengumpulkan benda antik dan bernilai sejarah diakuinya telah berlangsung lama. Sebagian dari gaji dan uang pensiun dipakai untuk berburu barang antik ke seluruh penjuru Kerinci. Namun, tidak jarang ada warga yang menitipkan barangnya secara sukarela.

 Di rumahnya yang kecil pak Kandar menyimpan semua koleksi benda antiknya. Semua di taruh dalam lemari-lemari kaca di ruang tamu. Ruang tamu yang tidak seberapa luas itu disesaki dengan ratusan koleksi museum pribadinya.

Sebagian besar koleksinya berupa keramik kuno dengan berbagai bentuk mulai dari piring, mangkuk, asbak kuno dan guci beraneka ukuran. Mereka umumnya berasal dari dinasti Ming di Cina. Selain itu ada keramik dari jaman Islam yang bermotif kaligrafi dan keramik zaman VOC. Saya juga melihat pecahan guci yang belum direkonstruksi.


 Piring kuno bermotif naga dari Cina

Pak Kandar mengijinkan kami untuk memotret bahkan menyentuh hampir semua koleksinya. Namun, demi alasan keamanan saya tidak melakukan itu. Untuk menyentuh koleksinya bahkan saya memakai sarung tangan bedah agar tidak merusak koleksi.

Dari ekskavasi di berbagai tempat, pak Kandar menemukan berbagai artefak. Diantaranya kapak batu, batu lumpang, mikrolit, aneka monolit dan  kapak genggam. Koleksi tertua yang dimiliki pak Kandar adalah kapak genggam berusia 12.000 tahun.

Dari berbagai koleksi geologis tersebut, beberapa yang unik adalah sebuah batu mikrolit berbentuk hati, kapak genggam mirip di serial Flinstones dan sepasang batu magnetis yang saling tarik-menarik.


mikrolit berbentuk hati, kapak Flinstones dan batu magnetis (Sumber : Poppy)

Untuk pertama kalinya saya melihat tulisan incung Kerinci yang diukir di sebuah tanduk kerbau. Tanduk ini dihiasi dengan bulu-bulu, ukiran naga dan  hiasan mote menyerupai mata.

tulisan incung di tanduk kerbau

Disini saya melihat kuluk, hiasan pengantin wanita Kerinci yang dihiasi batu permata dan emas murni. Selain itu ada koleksi baju-baju adat Kerinci, aneka perhiasan dari emas, tikar dari pandan, lepek atau alas kaki, carano atau tempat sirih, hingga ornamen masjid dan tiang rumah.


kuluk kuno

Peradaban Kerinci prakolonial juga mengenal thermos dan gelas. Thermos kuno ini dibuat dari tabung bambu dan ditutup dengan ijuk. Untuk gelas masyarakat Kerinci menggunakan batok kelapa.


 carano, gelas, wadah kopi, kendi

Pak Kandar juga mempunyai koleksi uang kuno. Bukan uang sembarang uang, Melainkan uang berbentuk cincin yang dipakai masyarakat Kerinci zaman Hindu Buddha. Nilai nominalnya ditentukan dari ukuran uang. Semakin besar ukurannya nilai nominalnya semakin besar.


uang kuno Kerinci

Untuk benda peninggalan kolonial, disini saya melihat setrika yang memakai tenaga listrik dan serpihan batu bata dari jaman Belanda, Lalu ada peralatan makan berupa gelas dan sendok kuningan. Saya agak kaget ketika menemukan rautan pensil kuno bermerk Staedtler.  Rupanya merk ini sudah ada sejak tahun 1835.

setrika listrik kuno

Selain koleksi etnis dan historis, pak Kandar juga memiliki koleksi biologis seperti awetan sarang lebah, gigi babi hutan dan gigi harimau.

Tidak hanya melihat-lihat koleksi, hari itu kami berdiskusi banyak hal dengan pak Kandar.  Sejumlah pertanyaan dari saya mengapa masjid di Kerinci berwarna-warni, apa maksud relief di batu gong, mengapa banyak dialek bahasa di Kerinci dan lain-lain semua dijelaskan oleh pak Kandar dengan sangat jelas dan detail.


terlibat diskusi hangat dengan pak Kandar (Sumber : Poppy)

Pak Kandar juga bercerita bahwa seluruh koleksinya pernah ditawar seorang kolektor seharga dua puluh lima miliar. Namun, beliau menolaknya karena beliau tidak ingin ada satupun benda pusaka keluar dari Kerinci. Keinginan beliau hanyalah mewariskan seluruh koleksi miliknya untuk dijadikan museum. Keinginan yang sampai sekarang hanya dianggap angin lalu oleh pemerintah daerah. Kegundahan neliau sangat beralasan karena usia beliau sekarang 70 tahun dan kesehatannya tidak sebagus dulu lagi.

Selanjutnya baru kami tahu bahwa apa yang kami lihat baru sepertiganya. Pak Kandar masih mempunyai dua ruangan lagi di rumahnya yang juga dipakai sebagai museum. Koleksi yang disimpan di antaranya senjata kuno seperti keris, tombak dan pedang. Wah, kami harus berkunjung lagi ke rumah pak Kandar. 🙂


berfoto bersama di depan rumah (Sumber : Poppy)

Waktu dua jam di rumah pak Kandar terasa begitu cepat. Dalam rinai hujan kami berpamitan dan berjanji akan datang kembali.

Iklan

12 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s