Reuni di Kampus Salemba (2)

Rasa capek membuat saya malas untuk bangun pagi. Alhasil sekitar jam sembilan saya baru bangun dari kasur. Sementara Fakh yang tidur di kasur atas sudah bangun sejak Subuh. Setelah sarapan bubur ayam, kami segera berangkat naik metromini menuju terminal Kampung Rambutan. Dari Kampung Rambutan rencana sambung naik busway menuju kampus UI Salemba. Kami berencana mengunjungi museum anatomi di kampus UI Salemba.

Ketika kami masih menunggu bus di Kampung Rambutan, Indra mengatakan bahwa ia sudah sampai di Salemba. Maaf ya Nder, gara-gara  malas bangun pagi, kamu harus nunggu lama di Salemba. Karena lalu lintas padat termasuk di jalur busway, kami baru sampai di Salemba satu jam kemudian.

Indra adalah kawan kuliah saya dulu. Kami pertama kali bertemu di sebuah acara diklat di Palembang. Tidak disangka, kami bertemu lagi di Jakarta. Kesamaan hobi menyambangi bangunan  bersejarah dan museum membuat kami sering bepergian ke sejumlah museum di Jakarta saat libur akhir pekan. Selesai kuliah, kami belum pernah bertemu lagi.

Kampus Perjuangan, begitulah julukan yang diberikan kepada kampus UI Salemba. Kampus ini mulai dirintis tahun 1849 sebagai sekolah kedokteran yang didirikan Belanda dan merupakan cikal bakal STOVIA. Pada tanggal 20 Mei 1908 sejumlah mahasiswa STOVIA di antaranya Sutomo, Gunawan Mangukusumo dan Soeraji mendirikan sebuah organisasi sosial dan pendidikan bernama Budi Utomo. Sekarang setiap 20 Mei diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional. STOVIA menjadi cikal bakal Universitas Indonesia khususnya Fakultas Kedokteran. UI sendiri selanjutnya membangun kampus yang lebih luas di Depok, Jawa Barat.

lambang UI

Dari halte Salemba UI, saya, Indra dan Fakh segera menuju kampus UI. Kami sempat melewati halaman depan gedung Fakultas Kedokteran (FK) sebelum akhirnya Indra menyadari bahwa kami salah arah. Menurut gps, harusnya kami menuju bagian anatomi di belakang gedung FK.


Fakultas Kedokteran UI Salemba

Kami berjalan menyusuri bangunan tua FK hingga di bagian rumah duka RSCM. Mahasiswa UI akan praktik disini selama mereka kuliah. Suer, ini adalah pengalaman mengunjungi museum paling menegangkan. Belum lihat isi museumnya saja saya sudah membayangkan bagaimana jenazah-jenazah tersebut dimandikan, dimutilasi secara legal, diawetkan, lalu ditampilkan sebagai koleksi museum. Hiiiii….

baca aja udah syerem

Sampai di rumah duka kami kebingungan hendak kemana. Fakh bertanya ke beberapa mahasiswa kedokteran yang berpakaian jas putih. Kami lalu masuk gedung. Setelah bertanya dua kali akhirnya kami sampai di depan museum yang rupanya hanya sebuah ruangan sederhana. Pintu museum terkunci.


Indra dan Fakh; mbak CS dan Fakh

Saya tanya ke beberapa mahasiswa, mereka mengatakan kami harus minta ijin ke sekretariat untuk melihat isi museum. Museum ini hanya dibuka jika ada permintaan. Kami berusaha menuju sekretariat yang dimaksud. Namun, yang ada malah mutar-mutar kesana kemari.

Sewaktu kami bertanya kepada seorang mbak-mbak Cleaning Service, dia justru bilang bahwa museum ini tidak terletak disini. Kami diantarnya menuju sebuah ruangan yang saya baca namanya ‘bangsal potong’.

Ruangan yang kemungkinan untuk praktek anatomi tersebut  terkunci dari luar. Di tata tertib bangsal potong yang sempat saya baca, diantaranya adalah : berdoa sebelum praktek, memakai jas lab dan menghormati sediaan anatomi. Di dekat bangsal potong terdapat taman yang dihiasi patung manusia dalam keadaan tanpa kulit.

Di tengah kebingungan kami memutuskan untuk meninggalkan ruangan spooky tersebut. Rasa penasaran membuat saya mencari informasi di internet tentang bangsal potong dan aktivitas di dalamnya. Kalau berani bisa diintip disini.

Di dekat lobi gedung utama kami menemukan prasasti pendirian STOVIA dalam bahasa Belanda yang ditempel di dinding. Kesan tua nampak dari bangunan ini.

Dari Salemba kami berencana menuju Ereveld Menteng Pulo, sebuah kuburan perang Belanda. Dari halte UI kami naik busway menuju Matraman. Karena bus yang lewat Matraman tidak kunjung datang, kami naik bajaj. Sialnya sopir bajaj tidak tahu dimana lokasi Ereveld hingga saya kesal karena waktu kami habis di jalan.

Saya memutuskan untuk membatalkan acara ke Ereveld dan menuju stasiun Gambir untuk naik Damri ke bandara Suta. Saya harus mengejar pesawat menuju Jambi. Sebelum berpisah, kami sempat berfoto di depan Monas. Semoga kita bisa bertemu lagi, Nder..

Iklan

2 comments

  1. Halo,saya susi salam kenal. Membaca tulisan anda tentang artikel ini sungguh menarik. Selama hampir 5 tahun di jakarta dan sering juga lewat kampus salemba tapi belum pernah masuk ke museum ini malah baru tahu klo ada musium anatomi..he3. Setelah saya pindah ke luar pulau baru terasa bahwa ternyata jakarta memiliki banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi selain mall dan itc (saat itu lebih sering saya kunjungi). Terimakasih sudah sharing tempat-tempat menarik ini. Terutama tentang museum-museumnya dan tempat-tempat wisata di sumatera. Sukses selalu:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s