Reuni di Kampus Salemba (1)

Tidak ada pesta yang tak berakhir. Namun, jangan pernah bersedih. Setiap perpisahan pasti akan ada pertemuan.

Gambar seorang wanita Vietnam menyambut saya dan Fakh. Dia mengenakan baju tradisional Vietnam dengan krah tinggi lengkap dengan topi caping. Do An : Vietnamese Experience, begitulah nama restoran yang saya baca.

Beberapa jam yang lalu saya masih di bandara Semarang. Menunggu pesawat penerbangan terakhir dari Semarang menuju Jakarta. Sebelumnya istri saya mengantar kepergian saya dengan bercucuran air mata dan tak rela saya pergi. Apalagi kami sedang menantikan anak pertama. Berat, namun saya harus kembali ke medan tugas.

Di Jakarta, saya dijemput Fakh di bandara Suta. Dia juga sekalian mengantar Adi kawannya yang akan pulang ke Surabaya. Adi tinggal beberapa hari di rumah Fakh.

Dari bandara kami naik Damri tujuan Lebak Bulus. Di perjalanan Fakh tidak terlalu banyak ngobrol dengan saya. Sampai Lebak Bulus kami naik mikrolet tujuan Cilandak untuk makan malam di sebuah mall disana. Kosan Fakh juga di bilangan Cilandak. Hujan mengiringi langkah kami. Kami segera bergegas masuk ke dalam mall.

Saya belum lama kenal Fakh. Dia seorang pekerja kantoran asal Bontang yang tinggal di Jakarta. Kami bertemu di dunia maya di salah satu grup traveling. Kebetulan minat kami sama yaitu tentang arsitektur dan bangunan bersejarah. Dari situ kami terlibat dalam obrolan menarik tentang wisata sejarah. Apalagi Fakh sudah sering ke luar negeri.

Fakh pernah berencana singgah ke rumah saya di Kerinci sewaktu dia berkunjung ke Padang. Apa lacur, jadwalnya berantakan sehingga dia batal ke Kerinci. Mungkin sebagai ucapan permintaan maaf dia mengirimi saya kartu pos dan souvenir dari berbagai negara di Asean. Meski tanpa kiriman itupun tentu saja saya memaklumi pembatalan rencananya berkunjung ke Kerinci. 

Malam itu kami santap malam di Do An. Sebuah gerai makanan cepat saji di sebuah mall di Cilandak. Bukan tanpa alasan kami makan disitu. Rasa sentimentil Fakh akan kenangan selama dia jalan-jalan di Vietnam membuat dia memilih tempat itu untuk kami. Awalnya dia mewanti-wanti saya yang belum pernah makan masakan Vietnam. Meski halal, rasa masakan Vietnam cenderung flat. Berbeda dengan masakan Indonesia yang penuh bumbu. Penasaran, saya ingin mencoba pengalaman baru.

 Karena masih bingung dengan menunya, Fakh membantu saya memilih menu. Saya memutuskan makan pho dengan bakso dan es teh leci. Sedang Fakh memilih memesan lumpia karena dia rupanya sudah makan malam.

Ruangan masakan ini terasa sangat hangat. Meski hanya kami berdua pengunjung restoran saat itu, dari foto-foto di dinding saya bisa merasakan bahwa restoran ini cukup ramai. Khususnya oleh kalangan ekspatriat Vietnam di Jakarta.

Warna merah menyala menghiasi seluruh ruangan. Foto-foto pemandangan negara Vietnam memenuhi hampir seluruh dinding. Lampion-lampion etnik tergantung di plafon. Sementara di salah  satu dinding dipajang sebuah tv yang memutar video pariwisata Vietnam secara terus menerus. Benar-benar strategi wisata yang cukup ampuh untuk menggaet wisatawan. 

 Tidak lama menunggu pesanan kami datang. Pho adalah semangkuk sup dalam mangkuk besar. Agak berlebihan porsinya untuk saya. Isinya mie sejenis soun, daging sapi, bakso dan daun mint. Rasanya agak hambar untuk lidah Indonesia seperti saya mengingat masakan Vietnam tidak memakai banyak bumbu. Namun, bau mint-nya sangat kuat di hidung. Sedangkan es teh lecinya sangat segar. 

Lepas makan malam, hujan masih turun. Kosan Fakh bisa ditempuh jalan kaki dari mall. Namun, hujan deras memaksa kami naik taksi menuju kos. Lima menit di mobil kami sudah sampai di kos.

Fakh menempati sebuah kamar sempit di kosan tersebut. Kamarnya cukup rapi untuk ukuran cowok. Beda dengan kamar saya di rumah haha. Di kamarnya dia mengoleksi beberapa majalah di antaranya tentang traveling seperti National Geographic dan National Geographic Traveler. Wah, ingin sekali saya bisa ‘merampok’ semua koleksi majalahnya hehehe. 

Sampai di kosan kami langsung merencanakan acara ngetrip untuk besok. Kami akhirnya berencana mengunjungi Ereveld di Menteng Pulo dan Museum Anatomi UI di kampus Salemba. Sekaligus saya ingin reuni dengan teman kampus saya Indra …

Iklan

3 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s