5D4N CouchSurfer Perancis di Bulusari

Saya tidak menyangka akhirnya Paul dan Sarah menepati janjinya untuk singgah di rumah orang tua saya. Sungguh tidak percaya mereka mau datang untuk menghadiri arisan di rumah-sebuah acara yang kadang saya hiraukan karena saya lebih banyak tinggal di Sumatera alihalih di Jawa.

Pertama kali mengenal Paul dan Sarah ketika mereka singgah beberapa hari di rumah di Sungai Penuh. Mereka adalah sepasang backpacker dari Kanada yang mempunyai cita-cita berkeliling Asia dan Eropa. Sungai Penuh hanyalah satu dari sekian kota yang mereka jelajahi di Sumatera.

Saat mereka meninggalkan Sungai Penuh, saya berpesan jika mereka di Jawa jangan segan untuk singgah di rumah orang tua saya di Bulusari, di kaki gunung Merbabu. Di rumah akan ada arisan. Mereka berjanji jika ada waktu mereka akan singgah di rumah. Saya juga memerlukan pulang ke Jawa untuk melihat istri yang sedang hamil empat bulan. Sehingga mungkin saja kami bisa bertemu kembali di rumah.

Ketika saya kabarkan kedatangan Paul dan Sarah ke ibu dan ayah di rumah. Ibu saya takut mereka tidak menyukai masakan Indonesia. Saya jelaskan bahwa mereka menyukai masakan Indonesia, tetapi tidak suka cabe. Bagi keluarga kami, ini adalah pertama kalinya ada turis asing yang singgah dan menginap ke rumah.

Akhirnya ketika saya sampai di rumah, Paul dan Sarah sedang di Jogja. Mereka baru akan ke Solo esok harinya dan menuju ke rumah naik bus.

Keesokan harinya, Paul dan Sarah mengirim pesan bahwa mereka naik kereta dari Jogja ke Solo lalu naik bus dari Solo ke rumah. Panduan cara memilih bus dan dimana turun saya kirimkan lewat pesan ke ponsel mereka. Mereka turun di pasar Ampel dan saya dan ayah menjemput mereka pakai motor.

Rencana mereka akan tinggal di rumah selama empat hari. Hanya saya yang aktif ngobrol dengan mereka. Ayah hanya sepatah berbicara dengan mereka. Ibu dan dan adik-adik lebih sering mendengarkan obrolan kami. Jika ada tetangga atau saudara yang datang, Paul antusias untuk berkenalan.

Hari Jumat pagi Paul dan Sarah ikut ibu saya ke Selo untuk melihat panorama gunung Merapi dan Merbabu. Ibu saya mengajar di sebuah SD di lereng gunung Merbabu di Selo. Mereka naik bus menuju Selo lewat Cepogo. Saat pulang ibu mentraktir mereka bakso pak Rin di pasar Ampel. Cerita ibu, ibu hanya menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa isyarat saat berkomunikasi dengan mereka.

Malamnya istri saya datang ke rumah. Istri saya yang memang pernah menjadi guru bahasa Inggris langsung terlibat dalam obrolan hangat. Apalagi ketika Paul mengeluarkan kartu Uno, kami larut dalam keakhraban. Permainan ini sama menariknya dengan kartu Remi. Adik-adik dan sepupu saya sangat antusias mengikuti permainan ini. Ayah saya menantang Paul bermain catur dan ayah beberapa kali memenangkan permainan. Untuk makan malam, ayah membeli mie rebus Sabar Menanti yang terkenal enak di Sruwen. Keluarga kami telah berlangganan mie ini sejak ayah masih remaja.


bermain UNO dan catur

Sabtu paginya Paul Sarah di rumah saja seharian. Mereka membantu ibu memasak dan mempersiapkan bahan masakan karena esok akan ada arisan di rumah. Seluruh keluarga dari pihak ayah dan ibu dan keluarga dari mertua akan datang ke rumah.

Hari Minggu pagi saudara-saudara mulai berdatangan ke rumah. Acara yang kami sebut arisan tersebut sebenarnya lebih tepat disebut pengajian. Tiap bulan keluarga dari pihak ayah mengadakan silaturahmi dengan tuan rumah dimulai dari saudara ayah yang paling tua hingga saudara paling muda.

Setelah acara selesai, Paul dan Sarah menjadi selebritis dadakan hari itu. Banyak saudara saya yang ingin berfoto dengan mereka. Mereka menikmati ‘peran’ mereka sebagai seleb.

Sorenya saya mengajak mereka ke Candi Klero. Sebuah candi Hindu yang terletak di desa Klero, Tengaran kabupaten Semarang. Hanya sepuluh menit dari rumah. Saya memboncengkan Sarah dan adik saya memboncengkan Paul. Kami menuju rumah Shodiq, kawan saya yang rumahnya di dekat candi Klero. Lalu menuju rumah Jaswanto kawan saya juga.

Total kami berenam berjalan kaki menuju candi. Jalan pintas lewat sungai Serang tidak bisa ditempuh karena sungai Serang sedang meluap. Kami ke candi lewat jembatan Tengaran lalu belok kanan di pasar labu Ngentak. Candi ini hanya berjarak dua ratus meter dari pasar.


papan petunjuk candi; prasasti pendirian candi
 
foto bersama Paul dan Sarah; arca wanita

Meski telah tiga kali ke candi Klero, masih ada pernak pernik kecil yang luput dari mata saya. Setelah membaca blog Tarabuwana, baru saya tahu bahwa candi ini dilengkapi dengan prasasti pembangunan yang dipahat di salah satu dinding candi. Terdapat juga arca wanita di salah satu sudut candi.

Pulang dari candi, kami berfoto bersama sekeluarga. Esok pagi Paul dan Sarah akan pergi meninggalkan sejuta kenangan menuju Bali lewat Solo. 🙂 Merci beaucoup …

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s