Singgah di Aia Manih

   Pesawat saya akan segera mendarat di bandara Minangkabau di Padang. Di balik jendela saya melihat awan kecil, garis pantai, Samudera Hindia dan langit yang bertemu di cakrawala. 

Turun dari pesawat saya berasa benar-benar di ranah Minang. Tulisan, gambar, karikatur hampir semua bernuansa Sumatera Barat dan budaya Minangkabau.


jam gadang, rumah gadang, bahasa Minang 😀

Lepas mengambil bagasi kami tidak bisa langsung pulang ke Kerinci karena mobil jemputan dari kantor belum datang. “Ini masih macet di Indarung,” ucap Andri kawan kantor saya di telpon. Setelah menunggu sekitar beberapa lama kami naik mobil. Seafood di d’Cost Plaza Andalas menjadi pilihan makan siang kami. Gerai makan ini tidak pernah mengecewakan. Harganya lumayan terjangkau meski jika pengunjung banyak maka makanan akan lama sampai ke meja.

Lepas makan.pak Am, boss di kantor mengajak kami singgah sebentar di pantai Air Manis (Aia Manih dalam bahasa Minang). Sebuah pantai di Padang yang terkenal karena penemuan batu mirip orang bersujud yang kemudian dimitoskan menjadi batu Malin Kundang. Anak durhaka yang dikutuk ibunya menjadi batu.

Dari Plaza Andalas kami melintasi jembatan Siti Nurbaya di kawasan kota lama Padang. Setelah bertanya sana-sini kami sampai di pantai Air Manis. Meskipun pantai, untuk menuju tempat ini kami harus naik bukit lalu turun bukit dengan jalan berliku-liku. Ini adalah kunjungan saya yang kedua ke pantai Aia Manih.

Pantai Aia Manih

Sore hari banyak yang berkunjung ke pantai. Pantai ini berpasir cokelat dan banyak pohon rimbun. Tidak terlalu istimewa kecuali ombaknya yang bisa dipakai selancar. Namun, pantai-pantai di Padang selalu menyuguhkan panorama spektakuler saat matahari terbenam karena letaknya berhadapan langsung dengan lautan Hindia. Namun, kami hanya ingin menyaksikan batu Malin Kundang di pantai.

penjual topi

Di ujung pantai dekat penjual makanan dan souvenir dibangun tembok panjang yang dihiasi dengan relief berwarna keemasan tentang kisah si Malin Kundang.

https://fbcdn-sphotos-c-a.akamaihd.net/hphotos-ak-frc1/733767_3909933126148_1356026877_n.jpg
*Masa kecil Malin Kundang yang merupakan anak yatim
*Malin Kundang berpamitan kepada ibunya dan almarhum ayahnya
*Malin kundang merantau ke luar negeri, menjadi saudagar kaya dan menikah


*Rombongan Malin pulang ke Padang naik kapal, dia malu mengakui ibunya
*Ibunya mendoakan kapal Malin celaka karena terluka hatinya tidak diakui sebagai ibu
*Kapal Malin Kundang pecah dihantam badai. Seluruh rombongan tewas.

Dan inilah penampakan Malin yang berubah menjadi batu. Sayang, penyesalannya tidak ada arti. Ibunya sudah tidak ridho kepadanya.

jasa fotografer kilat

https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/580448_3910130771089_1292034584_n.jpg
menulis di atas pasir, meski tulisan ini akan lenyap disapu ombak

Puas berkeliling, kami langsung naik mobil untuk kembali ke Kerinci.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s