Kincir Air dan Pacu Perahu Tanjung Pauh Hilir

Alam Kerinci memberi saya banyak inspirasi. Alamnya indah, penduduknya ramah dan makanannya lezat. Seakan tidak habis alam ini untuk digali keindahannya.

Hari Minggu kemarin saya dan Iip dari komunitas fotografi Asjeki menuju desa Tanjung Pauh Hilir di kawasan Keliling Danau Kerinci. Rencananya kami ingin merekam keindahan persawahan dan sungai Batang Merao.

 Di desa ini mengalir sungai Batang Merao yang membelah desa menjadi dua bagian. Tidak ada yang istimewa dari Batang Merao. Airnya keruh dan sering meluap ketika hujan. Namun, warga desa sangat bergantung kepada aliran sungai ini. Mereka mengalirkan air dari sungai menuju persawahan di tepi sungai. 

kincir air dan perahu bertutup ala Cina

Uniknya untuk menyalurkan air sungai menuju persawahan para warga memakai kincir air. Alat ini dibuat secara tradisional dari kayu dengan mata kincir terbuat dari anyaman bambu dan pengumpul air dari tabung bambu. Aliran sungai membuat kincir bergerak. Pergerakan ini membuat tabung bambu terisi air dan menyalurkan air ke buluh bambu langsung menuju sawah. Suara gerakan kincir menimbulkan bunyi ngik ngok ngik ngok secara terus menerus. Sangat menarik.

sepasang kincir air

 Biasanya hanya sebuah kincir air yang dipasang. Namun, ada juga warga yang  membuat sepasang kincir air sekaligus. Hal ini agar makin banyak air sungai yang bisa terambil.

persawahan di Tanjung Pauh Hilir

Tidak jauh dari kincir air ini saya melihat jembatan dari kayu. Meski sepintas agak rapuh, jembatan ini bisa dilalui oleh motor. Warga desa memanfaatkan jembatan ini untuk duduk-duduk, bersosialisasi atau memancing ikan dari atas jembatan.

 
jembatan kayu Tanjung Pauh Hilir

 
sampah kulit kerang di dekat jembatan; warga memancing ikan di tepi sungai 

Motor saya bawa melintas ke atas jembatan. Saya melihat ada titik keramaian di salah satu sudut di tepian sungai. Rupanya sedang ada lomba desa yaitu pacu perahu. Dua perahu biduk yang masing-masing diisi tiga orang peserta akan saling berpacu menuju garis finis. Panjang lintasan sendiri hanya sekitar seratus meter.

Karena terlalu bersemangat mengayuh perahu, sebagian peserta gagal mencapai finis karena perahu mereka oleng. Akibatnya para peserta berjatuhan ke sungai. Para penonton spontan tertawa.

 pacu perahu

 perahu lewat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s