Museum Prangko yang Menjual Kartu Pos Mahal

Museum Prangko berlokasi di tengah-tengah Taman Tionghoa dan Museum Komodo di kompleks Taman Mini Indonesia Indah. Menempati bangunan berarsitektur Jawa. Dilengkapi monumen burung merpati yang sedang membawa surat di atas sebuah bola dunia. Saya ingin ke museum ini hanya untuk membeli kartu pos saja pada awalnya.

Setelah membayar tiket masuk seharga Rp 2.500,- saya dipersilakan melihat-lihat koleksi museum. Namun, petugas tidak memberi saya karcis bukti masuk. Sebelum masuk ke museum saya disambut oleh sebuah bis surat kuno yang sudah tidak terpakai. Berukuran besar, antik dan memakai bahasa Belanda.

Museum ini terbilang sangat kecil. Begitu masuk saya melihata ada sebuah stand yang khusus menjual perangko dan kartu pos. Di dekatnya ada manekin yang melukiskan petugas pos lengkap dengan seragamnya.

Museum ini menerangkan sejarah perangko, Pos Indonesia dan memamerkana aneka perangko dari dalm dan luar negeri. Sebelum mengenal perangko, orang Indonesia mengirim surat dengan lontar dan dikirim lewat kurir. Prangko, berasal kata Latin franco yang bermakna jujur.

Prangko pertama di dunia muncul di Inggris tahun 1840 oleh Rowland Hill dengan gambar Penny Black. Pada tahun 1746 berdiri kantor pos pertama di Indonesia tepatnya di Batavia / Jakarta. Sedangkan prangko pertama di Indonesia terbit tahun 1864 dengan gambar Raja Willem II.


diorama menulis surat di Lontar dan Penny Black

Selanjutnya saya melihat bagaimana proses pembuatan perangko. Mulai dari membuat sketsa, mencetak sampai mendistribusikan perangko ke kantor pos. Proses pembuatan prangko dilakukan oleh Perum Peruri.

Beralih ke galeri berikutnya ditampilkan koleksi perangko mulai dari zaman penjajahan Belanda, Jepang, kemerdekaan hingga masa pembangunan. Setiap era memunculkan perangko dengan aneka ragam jenis dan tema.

Prangko juga dibuat jika ada peristiwa penting seperti perangko peringatan PON pertama di Solo dan prangko Jambore Nasional di Jakarta di bawah ini.
Berikutnya saya melihat diorama kegiatan mengumpulkan prangko (filateli) yang ternyata masih diminati sebagian kalangan dewasa ini. Lalu ada manekin petugas pos yang bertugas mengirimkan surat memakai sepeda antik.  
Di tempat lain saya menemukan koleksi aneka peralatan di kantor pos.seperti aneka martil. Entah untuk kegiatan apa saja. Yang jelas banyak sekali martil yang dipakai.
Koleksi andalan museum ini yaitu prangko dari emas pada peringatan setahun meninggalnya ibu negara Tien Soeharto pada tahun 1997.
Ketika selesai mengelilingi museum yang tidak seberapa luas ini saya ditawari untuk membeli perangko dan kartu pos. Harga yang ditawarkan untuk selembar kartu pos adalah Rp 15.000,- Jelas harga di luar kewajaran! Namun, karena koleksi yang ditawarkan adalah jenis maxi card favorit,  dengan terpaksa saya membeli tiga buah kartu pos tersebut. 😦
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s