Melihat Jakarta Masa Lalu di Museum Fatahillah

Ramai dan selalu penuh pengunjung. Itulah yang selalu tampak di halaman taman Fatahillah.  Sebuah ruang terbuka di kawasan Kota Tua Jakarta Barat. Terletak tidak jauh dari stasiun Jakartakota (Beos). 

Di kawasan Kota Tua tepatnya di dekat Taman Fatahillah berdiri megah Museum Sejarah Jakarta yang dulunya merupakan Balaikota Batavia. Balaikota merupakan kantor gubernur jenderal Hindia Belanda di Batavia. Museum ini sering disebut museum Fatahillah.

Di sebelah kiri museum Fatahillah terdapat museum Seni Rupa dan Keramik yang dulu merupakan gedung pengadilan. Sedangkan gedung museum Wayang di sebelah kanan museum Fatahillah dulu adalah gereja. 

Balaikota mulai dibangun pada tahun 1620 oleh Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen.  Bentuk bangunan yang tampak seperti sekarang merupakan hasil renovasi besar-besaran pada tahun 1707-1710. Pada masa kemerdekaan gedung ini pernah dipakai sebagai kantor pemerintah provinsi Jawa Barat. Dijadikan museum dengan nama Museum Sejarah Jakarta pada tahun 1974. 

https://fbcdn-sphotos-f-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/734010_3849554616723_48814036_n.jpg 

Dari luar museum Fatahillah terdiri dari dua lantai meski sebenarnya terdiri dari tiga lantai. Sebuah lantai bawah tanah bisa dilihat dari halaman belakang museum. Dipakai sebagai penjara.

Ciri arsitektur kolonial sangat kental terlihat. Di atap museum terdapat menara yang dipuncaknya terdapat hiasan berbentuk penunjuk mata angin dan dulunya dihiasi ornamen ayam jantan. Daun jendela yang superbesar berwarna hijau tua dan pintu berukuran tak kalah besar. Kusen pintu dan jendela terbuat dari kayu jati tua. Di halaman museum yang luas dihiasi pohon tua dan air mancur yang sudah tidak berfungsi.

https://fbcdn-sphotos-e-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn1/11729_3849635618748_365285644_n.jpg
ke museum bareng adek 🙂

Selalu ada yang baru di museum Fatahillah. Itu karena koleksi museum yang berjumlah 23.000 tidak bisa ditampilkan semua. Hanya sekitar 500 buah yang bisa dilihat pengunjung. Tiga kali saya mengunjungi museum ini tiga kali saya merasakan perubahan susunan koleksi museum.

 

Seperti di atas ini. Saya bisa melihat sejarah perubahan lambang provinsi DKI Jakarta mulai dari zaman masih bernama Batavia sampai bernama Jakarta.

Jangan heran jika  menemukan becak di museum ini. Alat transportasi ini sudah dilarang beroperasi di Jakarta sejak beberapa tahun yang lalu.

Sejarah Jakarta dimulai jauh saat masa prasejarah. Pemukiman pertama di Jakarta berada di sekitar sungai Ciliwung. Penemuan yang ditemukan adalah kapak batu dan gerabah kuno. Selanjutnya Jakarta berada dalam kekuasaan kerajaan Hindu Buddha Tarumanegara dan Pajajaran. Pada masa kerajaan Pajajaran dipakai nama Sunda Kelapa untuk Jakarta.


Replika prasasti Ciaruteun dan Kebon Kopi dari kerajaan Tarumanegara 

Secara singkat, Pelabuhan Sunda Kelapa yang ramai mulai didatangi penjelajah Eropa. Sempat berubah nama menjadi Jayakarta oleh Fatahillah, Batavia oleh Belanda lalu terakhir menjadi Jakarta.

Salah satu koleksi andalan museum ini adalah mebel antik dari abad ke-18 dan 19 seperti kursi, meja, lemari, bufet dan ranjang kayu. Semuanya dibuat dari kayu jati pilihan. Besar, indah dan ukirannya sangat detail.

Di dinding dipajang lukisan Gubernur Jendral VOC yang pernah berkuasa di Hindia Belanda mulai abad ke-17 sampai tahun 1942. Patung dada Thomas stamford Raffles juga bisa dilihat disini.


JP Coen, Raffles dan Daendels

Di salah satu ruangan terdapat lukisan raksasa berukuran 3 x 10 meter hasil karya maestro S. Sujoyono. Menceritakan perang antara pasukan Sultan Agung dari Mataram ke Batavia tahun 1628 dan 1629. Ada tiga kolase dalam sebuah lukisan tersebut. Pertama melukiskan sosok Sultan Agung, jalannya perang di Batavia dan diplomasi antara wakil Sultan Agung dengan JP Coen gubernur jenderal VOC saat itu.

 

Tidak melulu sejarah, di museum ini ditampilkan juga galeri etnik dari suku Betawi dan Baduy. Di bawah ini adalah model pakaian adat dan ruangan dapur suku Baduy Dalam (orang Kanekes), di kabupaten Lebak. Sekarang masuk provinsi Banten.

 

Disalah satu sudut dipamerkan model pakaian adat Betawi dan alat musik tradisionalnya. Pakaian ini sendiri merupakan campuran dari unsur budaya Cina, Arab, Melayu dan Sunda.

 

Tidak ketinggalan ada ondel-ondel. Boneka khas Betawi yang selalu tampil saat ada upacara adat dan keramaian.

Taman Fatahillah dari lantai dua museum. Tampak kantor pos besar.

Di halama belakang museum yang asri saya menemukan patung dewa Hermes dan meriam Si Jagur. Hermes dalam mitologi Yunani merupakan dewa keberuntungan dan perlindungan bagi kaum pedagang. Patung ini dulu berada di Harmoni. Patung yang di Harmoni sekarang adalah replikanya.


Hermes dan Jagur

Sedangkan Jagur adalah meriam peninggalan Portugis dari abad ke-16. Awalnya dibuat di Makau dan ditempatkan di Melaka lalu dipindah ke Batavia. Meriam ini dulu dipercaya banyak orang bisa mendatangkan kesuburan bagi pasangan yang belum memiliki anak.

 

Tidak jauh dari patung Hermes terdapat penjara bawah tanah yang kondisinya gelap dan pengap. Masih dilengkapi dengan bola besi untuk mengikat kaki tahanan. Kabarnya pangeran Diponegoro dan Untung Suropati pernah ditawan disini.

Museum Sejarah Jakarta
Jl. Taman Fatahillah No. 1, Jakarta Barat
http://www.museumsejarahjakarta.com/
Buka : Selasa – Minggu 09.00 – 15.00

Senin tutup
Tiket :
Dewasa : Rp 2.000
Mahasiswa/pelajar : Rp 1.000
Anak : Rp 600

Iklan

6 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s