Belajar Minang di Museum Adityawarman

Museum ini pertamakali saya kunjungi tahun 2010. Bersama-sama dengan kawan-kawan di Kanwil Sumbar Jambi. Setahun setelah gempa besar menimpa Sumatera Barat. Saat itu kami hanya bisa sampai tangga depan museum Adityawarman yang berwujud rumah gadang. Gempa membuat sebagian bangunan museum rusak dan tidak bisa dimasuki oleh pengunjung.

Adityawarman merupakan raja pertama kerajaan Pagaruyung di Tanah Datar. Dia berkuasa pada tahun 1347-1375.


bersama Crio, Yudi, Rian di tangga masuk museum

Kenangan bersama kawan-kawan terus membekas hingga akhirnya saya kembali ke Padang tahun lalu. Maka, saya sempatkan untuk berkunjung ke museum ini. Letaknya sangat startegis di pusat kota. Setelah naik oto jurusan Pasar Raya, cukup berjalan kaki sepuluh menit saya sudah sampai di Taman Melati. Museum ini berada di tengah-tengah Taman Melati.

Taman ini dilengkapi dengan aneka permainan anak dan patung-patung berpakaian adat Minang. Pohon-pohon juga cukup rimbun di tengah panasnya udara kota Padang. Ramai sekali dikunjungi warga. Sebuah tugu perjuangan berdiri gagah di depan gedung museum.


taman asri di sekitar museum Adityawarman

Kesan pertama yang saya tangkap adalah museum ini lebih banyak bercerita tetang budaya Minangkabau. Etnis mayoritas di Sumatera Barat. Pertama dipamerkan replika aneka makanan yang dibuat sebagai hantaran pernikahan adat Minang. Setiap daerah di Sumbar memiliki tradisi masing-masing tentang apa yang dihidangkan saat baralek atau hajatan. Namun, hampir semua menyediakan aneka nasi, kue, sayur, lauk dan terkadang buah-buahan. Makanan ini dibuat mirip aslinya sehingga membuat saya cukup tergoda untuk bisa mencicipinya hahaha šŸ˜€

Di ujung ruangan terpampang indah pelaminan khas Minangkabau dilengkapi dengan sepasang pengantin. Di sebelahnya terdapat sebuah kamar pengantin. Sesuai adat, kamar hanya dipakai oleh anak perempuan atau perempuan dewasa yang telah menikah beserta suaminya. Anak laki-laki harus tidur di surau sepulang sekolah dan mengaji.


gambar agak buram, diambil pakai hp :p

Di ruangan lain ditampilkan aneka suntiang atau tutup kepala pengantin khas Minang. Meski sekarang suntiang yang lebih populer adalah dari kawasan Pesisir Selatan dan Padang. Dilengkapi dengan aneka macam perhiasan dan keris sebagai pelengkap pakaian untuk laki-laki.


model suntiang dari Matur (Agam), Payakumbuh, Lintau Buo dan Padang Magek (Tanah Datar)

Selanjutnya saya melihat aneka alat musik tradisional Sumbar seperti talempong dan saluang. Talempong mirip alat musik bonang di Jawa sedangkan saluang mirip seruling. Lalu saya beralih ke ruangan yang menghadirkan aneka tekstil tradisional Minang seperti batik bermotif kaligrafi, bordir, hingga songket Silungkang dan Songket Pandai Sikek.


batik kaligrafi dan kain bordir

Jika ditanya tentang rahasia dibalik kelezatan masakan Minang, disinilah jawabannya. Perampuan Minang harus bisa memasak aneka jenis masakan. Bahan-bahan yang dipakai dipilih dari bahan terbaik. Alat-alat masaknya juga sangat lengkap dan ribet. Seperti di bawah ini contohnya.


alat cetakan kue, cobek dan penyaring santan

Di ruangan lain saya bisa melihat model-model rumah adat Minangkabau dan masjid atau surau. Dilengkapi dengan aneka pahat untuk membuat ukiran.

Di ruangan terakhir saya melihat lukisan pahlawan nasional asal Sumatera Barat. Di antara mereka ada sosok Proklamator RI Mohammad Hatta, Agus Salim dan Moh Yamin. Mereka masing-masing kelahiran Bukittinggi, Agam dan Sawahlunto.


Bung Hatta, Agus Salim, dan M Yamin.

Beranjak ke belakang museum saya melihat arca Bhairawa yang menggambarkan sosok Adityawarman. Arca yang asli ada di museum nasional Jakarta. Yang disini adalah replikanya. Arca ini setinggi empat meter. Pertama kali ditemukan di situs candi Padang Roco di Darmasraya.

Museum Adityawarman
Jl Diponegoro No.10 Padang
Buka :
Selasa-Minggu
Senin & Hari Libur Nasional Tutup
Tiket :
Dewasa : Rp 3.000,-
Anak : Rp 1.000,-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s