Menelusuri Jejak Pahlawan Depati Parbo

https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/307216_3544976402458_1282618270_n.jpgPatung Depati Parbo di jalan Depati Parbo, Sungai Penuh

Dalam benak masyarakat Kerinci, nama Depati Parbo amat terkenal. Meski bukan pahlawan nasional, ia adalah pahlawan Kerinci yang turut berjuang melawan penjajah Belanda. Namanya diabadikan menjadi nama jalan protokol yang menghubungkan kota Sungai Penuh dengan kecamatan Danau Kerinci kabupaten Kerinci. Lalu dipakai sebagai nama bandara perintis di Kerinci dan nama salah satu perguruan tinggi di Sungai Penuh.

Selain itu patung Depati Parbo bisa dijumpai di halaman kantor DPRD Kerinci dan di simpang tiga jalan RE Martadinata, jalan Pancasila dan jalan Depati Parbo di kota Sungai Penuh. Berdiri gagah berani mengenakan baju adat depati dan menghunus keris.

Namun, saya kira tidak semua orang di Kerinci mengenal sejarah Depati Parbo. Di ranah maya, sangat sedikit sumber yang menjelaskan sejarah putra asli Kerinci ini. Berbekal informasi yang minim, saya berangkat ke tiga situs bersejarah yang terkait dengan kehidupan Depati Parbo. Rumah kelahiran dan makamnya di Lolo Kecil dan benteng pertahannya di Manjuto Lempur.

Parkir motor di depan rumah Depati Parbo

Rumah kelahiran Depati Parbo terletak di desa Lolo Kecil, kecamatan Bukit Kerman kabupaten Kerinci. Sekitar 45 menit dari kota Sungai Penuh. Tidak jauh dari jalan raya Jujun-Lempur.

Di rumah ini Depati Parbo dilahirkan pada tahun 1839 dengan nama Mohammad Kasib. Beliau menuntut ilmu dan menghabiskan masa kecilnya di desa ini. Depati Parbo adalah gelar yang disandangnya ketika dewasa karena kecakapannya dalam pendidikan dan adat.

Rumah ini dalam keadaan pagar terkunci dan rumah juga tertutup. Rumah ini mungkin telah dipugar dari bentuk aslinya. Wujudnya panggung dengan pilar terbuat dari beton dan dinding kayu. Dihiasi dengan ornamen flora dan lengkungan khas Kerinci.


Menjemur baju di pagar rumah Depati Parbo

Masih di desa yang sama saya bisa menjumpai kompleks pemakaman Depati Parbo. Letaknya tidak jauh dari masjid raya Lolo Kecil. Hanya berjarak sepuluh menit dari rumahnya.

Makam Depati Parbo cukup unik. Berupa nisan berwarna putih yang dilengkapi dengan sebuah batu menhir dan tugu berbentuk obelisk. Beliau gugur tahun 1929 pada umur 89 tahun. Di dekat makam beliau dimakamkan juga putra putri beliau yaitu Hj. Hasnah dan H. Taher. Selain itu beberapa pusara di kompleks pemakaman ini juga dilengkapi dengan tugu mirip obelisk.

Selain rumah dan makam di Lolo Kecil, bukti perjuangan Depati Parbo yang lain ada di desa Manjuto Lempur, kecamatan Gunung Raya. Sekitar tiga puluh menit dari desa Lolo Kecil. Kabarnya disana terdapat benteng peninggalan Depati Parbo melawan Belanda.

Untuk menuju Manjuto Lempur, saya harus menuju desa Lempur Mudik. Jalan dari Lolo Kecil menuju Lempur Mudik cukup lancar dan mulus. Sedangkan jalan dari Lempur Mudik ke Manjuto Lempur sepanjang tiga kilometer rusak parah. Satu kilometer terakhir jalan menanjak sehingga harus ekstra hati-hati. Namun, pemandangan persawahan dan bukit di kiri kanan jalan sangat menyejukkan mata loh 😀

Jalan rusak …

Sampai di ujung desa Manjuto Lempur, saya menjumpai sebuah monumen yang sudah rusak dan terbengkalai. Rumput dan ilalang menutupi bagian bawah tugu. Hiasan bambu runcing mengelilingi atas tugu. Di puncak terdapat patung tangan yang mencengkeram keris. Lambang keberanian Depati Parbo mengusir penjajah Belanda dari ranah Kerinci.

Menurut penjelasan seorang ibu yang sedang bekerja di ladang, inilah benteng yang saya cari. Tugu inilah benteng Depati Parbo. Pikir saya dulu disinilah tempat pertempuran laskar Depati Parbo melawan Belanda pada tahun 1903. Karena menurut sumber yang saya baca, benteng yang sebenarnya adalah berupa parit. Namun, saya tidak kecewa tidak menemukan benteng. Yang penting saya sudah menjejakkan kaki di tempat ini.

Menurut sejarah, Belanda masuk ke Kerinci lewat Mukomuko (Bengkulu) pada tahun 1900. Mereka menyusuri sungai Manjuto lalu membangun posko di puncak bukit Gunung Raya. Tindakan ini memicu kemarahan rakyat Kerinci. Pertempuran pertama antara rakyat Kerinci melawan Belanda dipimpin oleh Depati Parbo pecah di Manjuto Lempur. Korban banyak berjatuhan di pihak Belanda.

Beberapa kali berperang, akhirnya Belanda berhasil menguasai seluruh wilayah Kerinci pada tahun 1903. Untuk melemahkan perjuangan rakyat, Belanda menipu Depati Parbo dengan membujuknya untuk mengikuti perundingan. Nyatanya beliau ditangkap lalu diasingkan ke Ternate, Maluku Utara. Pada tahun 1927 Depati Parbo dibawa pulang ke Kerinci atas permohonan depati-depati mengingat usianya sudah lanjut. Saat itu pergolakan rakyat Kerinci melawan Belanda sudah padam sama sekali.

Meski belum ditetapkan sebagai pahlawan nasional, kisah perjuangannya akan selalu dikenang rakyat Kerinci.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s