Jatuh Bangun Mengejar Lolo Gedang

Diantara belasan hingga mungkin puluhan situs megalitik di Sungai Penuh dan Kerinci, bisa dibilang situs batu gong di Lolo Gedang ini yang sangat susah dijangkau.

Dari Sungai Penuh, saya naik motor menuju desa Jujun. Sekitar setengah jam perjalanan. lalu belok kanan ke arah Lempur. Melintasi desa Lolo Kecil terus lurus menuju desa Lolo Gedang. Sampai di desa Lolo Gedang, saya harus bertanya ke beberapa orang warga sebelum akhirnya menemukan arah menuju batu gong.

Masjid Lolo Gedang yang sedang dibangun

Saya harus masuk lewat sebuah jalan kecil tepat di samping masjid Lolo Gedang yang sedang dibangun. Melalui jalan desa yang naik turun, saya akhirnya menemukan papan petunjuk menuju batu gong. Di sebelah kanan jalan. Disitu tertulis nama batu silindrik Lolo Gedang.


Nah lho…

Jalan menuju situs batru gong terendam air sehingga tidak bisa dilalui kendaraan. Konsidinya juga berupa jalan tanah yang becek kalau hujan. Oleh sepasang suami istri yang saya temui, saya dianjurkan untuk memilih jalan lain. Saya harus lurus mengikuti jalan yang menanjak sekitar satu kilometer lalu belok kanan sekitar 300m.


Jalan tanah dan jalan setapak

Jalan semakin menanjak dan masih dari tanah liat yang licin. Selain itu juga berlubang dan tidak rata. Saya harus sangat ekstra hati-hati. Salah pilih jalan bisa membuat saya tergelincir dan jatuh. Sekitar satu kilometer kemudian saya menemukan sebuah persimpangan jalan setapak. Tepat di samping perkebunan kopi.

Kemudian saya melewati sebuah pondok dari kayu. Melewati perladangan yang sunyi.

Jalan semakin sempit dan berubah menjadi jalan tanah yang licin. Namun, sepertinya jalan ini sering dilalui oleh motor. Semak di kiri dan kanan semakin lebat. Saya semakin masuk ke dalam ladang. Sekitar sepuluh menit waktu berjalan saya belum menemukan situs yang saya maksud. Beberapa kali saya bersabar dan berharap situs tersebut saya temukan di depan. Nihil. Saya putus asa. Perjalanan baliknya saya jatuh dari motor T.T Jalanan yang menurun dan licin membuat saya kurang bisa mengendalikan motor. Syukurlah saya tidak kenapa-kenapa. Namun, saya tidak bisa berbohong bahwa kaki ini sedikit memar terkena hantaman motor.

Sampai di simpang tiga jalan setapak, saya lurus mengikuti jalan yang menanjak. Pikir saya siapa tahu jalan yang saya tempuh salah. Hasilnya nihil juga. Saya tidak menemukan tempat yang saya mau.

Beruntung, saya menemukan seorang peladang yang baru saja datang ke ladng. Baiknya, beliau mau mengantar saya menuju situs batu gong. Rupanya jalan menuju batu gong adalah benar lewat simpang tiga jalan setapak, lewat bawah pondok lalu lurus mengikuti jalan hingga sampai di puncak bukit. Sebelum si bapak turun ke ladang, saya mengucapkan terimakasih kepada pak Dodi, nama bapak itu.

Saya sangat bersyukur bertemu dengan pak Dodi. Karena jasa beliau saya bisa ke situs batu gong ini. Letaknya yang berada di tengah-tengah kebun kacang sulit untuk dijangkau.

Sepintas situs batu ini sama dengan situs  batu silindrik lain di Kerinci.  Berupa batu tunggal yang dipahat dan dihiasi relief motif matahari. Matahari adalah sesembahan manusia purba Kerinci. Namun, batu gong di Lolo Gedang ini relatif kecil ukurannya. Hanya sekitar satu setengah meter panjangnya.

Di luar pagar keliling situs saya menemukan pecahan keramik. Entah kenapa ada keramik disini.

Batu Silindrik Lolo Gedang
Bukit Lolo Gedang, Bukit kerman, Kab. Kerinci

Iklan

10 comments

  1. Menyembah matahari… seperti Jepang masa silam ya 🙂 Walaupun anda jungkir balik mencari situsnya, anda mendapatkan gambar2 pemandangan yg bagus loh. Hijau sekali… Saya suka photo2 yg anda dapatkan.

    • terimakasih atas apresisasinya, saya spesialis wisata sejaarh hehehe … hampir sama dgn manusia purba Mesir yang menyembah Amon Ra (dewa matahari)

      • Iya, Amon Ra… 🙂 Saya suka sejarah sih… Blog saya mengulas science, sejarah, dan budaya. Tapi tidak seperti anda, saya tidak jalan2, karena memang tidak ada waktu sih. Kerjaan saya dan aktivitas lainnya menyita sebagian besar waktu saya hehehe… Jadi kalau saya membuat ulasan biasanya based on apa yg saya ketahui dan riset internet dan buku2 🙂 Semangat menulis terus!

        • yuhuu… tinggal dimana mas? menurut penelitian, batu gong berfungsi sbg kuburan kepala suku dan batu pemujaan kpd matahari .. setiap ada kepala suku yg dimakamkan, akan ada manusia yang dikorbankan untuk dikubur hidup2 bersama kepala suku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s