Berselimut Sepi di Stasiun Bedono

Saya tertarik untuk menyinggahi stasiun ini saat menuju Temanggung dari Ambarawa. Terletak tidak jauh dari jalan raya Semarang-Yogyakarta. Tepatnya di desa Bedono, Jambu, kabupaten Semarang. Di seberang pondok pesantren yang dikelola Syekh Puji. Seorang pengusaha yang sempat heboh di media massa karena kasus pernikahannya beberapa tahun silam.

Stasiun pada ketinggian 699 mdpl ini merupakan stasiun terakhir dari jalur wisata kereta uap Ambarawa-Bedono lewat Jambu. Nama Bedono mendunia berkat kereta uap menggunakan kayu  yang cuma ada satu di dunia. Tarif kereta ini kabarnya cukup mahal dan hanya beroperasi saat musim liburan sekolah.


Sunyi, kesan itu masih kuat melekat di ingatan saya. Tidak ada seorangpun yang saya temui disini. Letaknya yang cukup jauh dari pemukiman warga, ditambah nuansa rimbun pepohonan di sekeliling bangunan menambah kesan sepi.

 

Sepintas tidak ada yang istimewa dari gedung stasiun ini. Bangunannya cukup kecil. Berwarna putih dengan tiang mungil berwarna hijau. Keramiknya jadul berwarna cokelat pucat.


Di dekat pintu utama stasiun terdapat sebuah alat berupa besi tua berbentuk lingkaran. Ditopang dua kaki dan dilengkapi dua buah engkol tangan. Saya tidak memahami fungsi alat ini. Semua ruangan terkunci. Makin sunyi.


Tak ada pesta yang tak berakhir. Begitu juga tak ada rel yang tak berujung juga…

Di depan halaman stasiun terdapat alat yang berfungsi untuk memutar lokomotif. Sepertinya dulu digerakkan secara manual dengan tenaga manusia. Namun, alat ini sudah tidak bisa dipakai.

   

Toilet yang terkunci, sunyi …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s