Jembatan Gus Dur Sungai Penuh

Hari Minggu kemarin menurut rencana saya, Poppy dan Maya akan jalan-jalan ke air terjun Talang Kemulun. Karena Maya dan Poppy tiba-tiba ada acara mendadak, saya merubah agenda menuju Rawang. Dari Sungai Penuh saya naik motor menuju arah Rawang. Saya belok kanan sebelum jembatan Simpang Tiga Rawang. Tepat di seberang masjid Simpang Tiga menyusuri jalan kecil di tepian sungai Batang Merao.

Jalan ini tidak terlalu lebar dan masih terbuat dari aspal lalu berganti menjadi tanah. Lurus berjalan hingga sampai di desa yang namanya Paling Serumpun. Masuk ke wilayah kecamatan Hamparan Rawang. Disini banyak jembatan-jembatan kayu yang melintas di atas sungai Batang Merao. Di dusun Air Nik saya menemukan sebuah jembatan yang dinamai menurut nama presiden ke-4 Ri Gus Dur. 😀

  

Selain sebagai tempat penyeberangan manusia, motor bisa lewat di atas jembatan. Sepertinya jembatan ini juga dijadikan tempat nongkrong dan pangkalan ojek hehe. Sebuah bangku panjang dari kayu terdapat di salah satu sisi jembatan. Jembatan ini dilengkapi dengan atap. Lebih mirip rumah panggung kecil daripada sebuah jembatan. 🙂

 pemandangan sungai Batang Merao berwarna keruh

 kerbau di salah satu sisi jalan

  

Melanjutkan perjalanan lurus ke arah Tanah Kampung, saya melintasi sebuah jembatan gantung. Warnanya cukup mencolok berwarna merah dan biru. Tali-tali dari baja mengikat badan jembatan. Jembatan beralas kayu ini hanya bisa dilalui oleh manusia. Bagaimana rasa melalui jembatan gantung? Hm..semakin berjalan ke tengah rasanya badan selalu bergoyang ke kanan dan ke kiri, serta ke atas dan ke bawah. Agak mirip trampolin! Harus dicoba.

 

Di ujung desa Paling Serumpun, saya menemukan sebuah jembatan lagi yang juga berwarna merah dan biru. Sangat mencolok dan bagus sekali untuk foto-foto.

 

Saya menyeberang sungai lewat atas jembatan lalu kembali ke arah Simpang Tiga Rawang. Tampak di kanan jalan sawah dan perumahan yang terendam banjir. Mirip telaga. Di kota Sungai Penuh banjir setiap tahun menggenangi wilayah kecamatan Tanah Kampung dan Hamparan Rawang karena sungai Batang Merao yang meluap. Kedua kecamatan ini memang lokasinya lebih rendah daripada enam kecamatan lain di Sungai Penuh.

  

Anak-anak yang tidak terlalu terbebani dengan banjir memilih untuk mandi dan berenang beramai-ramai di areal persawahan yang berubah menjadi telaga. 

Kawanan bebek di tepi sawah

Banjir di Rawang juga merendam sebuah sekolah. Untuk menuju ruang kelas, para guru dan murid sepertinya harus melewati deretan bangku kayu yang dijadikan jembatan darurat. Sungguh perjuangan yang membutuhkan usaha dan semangat.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s