Dison Maradian, Kerkhof Makalam

Semua orang Jambi boleh jadi mengenal bangunan ini. Tugu ini berdiri di dekat jembatan Makalam, salah satu jembatan paling hits di Jambi. Namanya tugu selamat datang. Berwujud empat pasang pemuda dan pemudi berpakaian adat Jambi menghadap empat penjuru mata angin.

Di dekat tugu selamat datang terdapat taman yang cukup asri. Aneka tanaman hias berpadu dengan beberapa air mancur. Sejumlah anak tampak bermain air sambil sesekali bermain di sejumlah wahana permainan yang ada.

Perhatian saya lebih terfokus kepada dinding taman yang dihiasi kolase aneka gambar khas Jambi. Ada motif perahu angsa Kajanglako, rumah adat Jambi, dan panorama persawahan.

Saat melihat-lihat dinding taman, perhatian saya beralih ke sebuh tulisan di sebuah bukit kecil di atas taman. Inilah yang saya cari-cari. Papan nama bertuliskan kuburan Belanda (kerkhof).

Saya segera meninggalkan taman menuju arah jembatan Makalam. Kemudian saya mencari jalan menuju bukit kecil di atas jembatan. Akhirnya saya menemukan sebuah tangga naik tepat di samping tulisan Jembatan Makalam.

Saya melewati jalan setapak. Lewat di halaman sebuah rumah yang penuh dengan pepohonan dan tanaman hias. Di halaman depan terdapat ayunan sederhana.

Rumah tersebut rupanya bersebelahan dengan makam Belanda. Luasnya tidak seberapa. Namun, sepintas nisan yang ada berjumlah puluhan. Semak, pohon tinggi dan rumput liar menghiasi pemakaman. Tampak tidak terlalu terawat. Namun, susana disini saya rasa tidak terlalu seram jika dibandingkan dengan makam orang lokal.

Meskipun namanya kuburan Belanda, justru banyak orang pribumi yang dimakamkan disini. Mereka adalah dari kalangan etnis Batak Toba yang beragama Kristen. Kata-kata yang disematkan pada nisan juga khas Batak. Seperti digunakannya kata dison maradian yang berarti disini beristirahat.

 

Sedangkan beberapa nisan Belanda kondisinya cukup memprihatinkan. Ada yang nyaris rubuh karena longsor dan ada yang sengaja digali untuk keperluan tertentu. Tanaman pengganggu sedikit banyak menyebabkan beberapa nisan rusak dimakan usia.

Dari berbagai nisan, tampak bahwa jaman dulu warga Belanda menyebar di berbagai kota di provinsi Jambi seperti kota Jambi, Bajubang, Muara Bulian sampai Sarolangun. Namun, cuma ada satu kuburan Belanda se-Jambi.

 

Makam-makam Belanda terkenal dengan ciri khasnya berupa ciri arsitektur yang menawan. Namun, arsitektur yang dipakai di kuburan di Jambi tidak terlalu mencolok. Cukup sederhana dan tidak memiliki ragam hias. Tidak ada patung malaikat seperti di taman prasasti di Jakarta. Hiasan yang dominan adalah simbol salib.

Beberapa makam dilindungi oleh atap berbentuk persegi panjang. Ukurannya lebih besar daripada makam biasanya. Mungkin makam pejabat dan pembesar zaman dulu.

  

Selain orang Belanda, makam ini juga menampung berbagai warga asing yang pernah tinggal di Jambi. Di antaranya makam seorang misionaris keturunan Amerika yang meninggal di Jambi. Tulisan di makamnya menggunakan bahasa Inggris.

Ada juga makam dengan tulisan Cina dan Jepang.

Makam-makam ini seolah berbicara kepada kita. Puluhan tahun lalu, masyarakat dari berbagi negara pernah hidup dan membuat sejarahnya di kota Jambi.

 

Jambi, dison maradian

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s