Ada Sisa Candi di Pusat Kota Jambi

 Papan penunjuk arah bertuliskan candi Solok Sipin ini saya lihat secara tidak sengaja. Ketika itu saya naik mobil dari Telanaipura menuju Pasar.  Daripada penasaran, saya memutuskan untuk datang melihat candi Solok Sipin.

Dari arah pasar Angso Duo, saya naik angkot kuning jurusan Simpang Kawat lalu turun di depan taman pemakaman dekat museum Perjuangan. Pemakaman ini tepatnya berada di jalan Slamet Riyadi. Pemakaman yang tidak saya ketahui namanya ini warna pagarnya biru muda.

Dari makam, saya tinggal menyeberang jalan. Papan petunjuk ini berada di tepi sebuah lorong kecil. Di sebelah kiri terdapat sebuah sekolah yang bernama Al Falah dan di sebelah kanan terdapat sebuah kedai tekwan dan model.

SD Al Falah

Dari papan yang saya baca, jarak dari tepi jalan menuju situs candi ada;ah 500 meter. Saya berjalan menyusuri lorong perkampungan. Rumah-rumah disini tidak terlalu bagus. Kecil dan sangat sederhana.

Hanya berjalan sepuluh menit, saya sudah sampai di situs Solok Sipin. Kira-kira jarak dari jalan ke situs ini hanya dua ratus meter. Papan nama penanda situs sudah pudar dimakan usia,. Namun, masih bisa sedikit terbaca.

Berbeda dengan situs Muaro Jambi yang sudah dipugar, situs ini hanya menyisakan pondasi dan sisa batu bata kuno. Kabarnya, dulu pertama kali ditemukan situs ini tertutup semak tebal. Bukti yang menguatkan bahwa situs ini dulunya adalah candi adalah ditemukannya arca Buddha dari batu, stupa Buddha dan empat buah makara (ornamen berwujud raksasa). Artefak tersebut kini disimpan di Museum Nasional di Jakarta.

Situs seluas hanya beberapa puluh meter ini dikepung rumah warga. Kabarnya situs yang sebenarnya lebih luas dari yang kelihatan sekarang. Ketamakan manusia membuat mereka tinggal di lahan yang seharusnya bisa dilestarikan untuk kepentingan generasi mendatang.

 

Sekarang yang terlihat hanyalah tumpukan pondasi candi yang terbuat dari batu bata kuno. Batu bata ini berukuran lebih besar dari batu bata modern. Siapapun bisa masuk kesini untuk mengambil batu bata yang ada. Pintu pagar yang ada sama sekali tidak dikunci.

Suatu saat nanti, boleh jadi situs candi ini tinggal nama saja.

Iklan

4 comments

  1. Pemerintah biasanya memang cenderung menaruh perhatian lebih pada politik dan ekonomi, sampai2 melupakan pelestarian situs sejarah. Padahal mereka juga ada berkat masa lalu. Ditambah lagi kepedulian masyarakat yang juga minim. Masyarakat kebanyakan juga lebih peduli bagaimana menghidupi diri mereka sendiri, dan bagaimana cara meningkatkan kualitas hidup. Kalau saya mengunjungi Candi Borobudur saya juga sedih. Kadang2 saya bisa menemukan coretan tangan yg tidak bertanggung jawab di batu2nya… Seandainya ada oknum pemerintah yang peduli yang baca situs blog anda…

    Btw content blog anda bagus2. Saya menikmati artikel2 anda. Tetap semangat menulis 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s