Menguak Situs Prasejarah Muak

Berada di jalan raya Kerinci-Jambi, batuan-batuan ini selalu mengungkit rasa penasaran saya untuk mengunjunginya. Baru minggu kemarin saya ke desa Muak untuk melihat batu disini lebih dekat.

Muak adalah sebuah desa di kecamatan Bukit Kerman. Kecamatan baru hasil pemekaran dari kecamatan Batang Merangin. Disini ditemukan tiga batu peninggalan prasejarah manusia purba Kerinci. Dari Sungai Penuh ke Muak bisa dijangkau sekitar 40 menit. Dari Sungai Penuh, saya memilih lewat jalur Sanggaran Agung. Dari Sanggaran Agung saya belok kanan ke arah desa Tanjung Batu. Lalu dari Tanjung Batu, belok kiri ke arah Pulau Sangkar.


Lokasi pertama yang saya tuju adalah situs batu berelief dan batu lumpang. Lokasinya tepat di samping kantor kepala desa Muak. Di tepi jalan raya Kerinci-Jambi. Ada dua lapis pagar mengelilingi situs dengan pagar pertama tidak terkunci. Saya masuk untuk melihat-lihat dari tepi pagar kedua.

 

Dari sumber di internet yang pernah saya baca, batu-batu ini dulu ditemukan di tengah hutan sebelum akhirnya dipindah ke tepi jalan. Batu yang pertama adalah batu berelief. Ukuran garis tengahnya kira-kira hanya 40 cm. Kabarnya batu ini dihiasi relief manusia, gajah, ular dan anjing. Namun, setelah saya lihat dengan seksama, motif yang tertangkap indera adalah motif pahatan manusia menunggang gajah dan motif sepasang kuda.


relief gajah, manusia dan sepasang kuda

Hm..saya membayangkan jika hidup di jaman dulu. Pergi kemana-mana naik kuda atau gajah. 🙂 Sekarang, kuda masih sering ditemui di Sungai Penuh sebagai alat angkut. Namun, gajah sudah tidak terlihat lagi. Hanya bisa ditemukan di Bengkulu, di pelatihan gajah Seblat.

Tepat di belakang batu berelief diletakkan batu lumpang. Batu ini berbeda dengan lumpang yang biasa dipakai ibu-ibu di kampung untuk menumbuk padi. Lubang di batu lumpang ini hanya berukuran sekitar 10 cm.

Batu prasejarah yang ketiga adalah batu patah. Letaknya sekitar dua kilometer dari kantor desa Muak ke arah Pulau Sangkar. Situs ini juga terletak di tepi jalan raya.

Pagar tinggi dua lapis mengelilingi situs. Dinamakan batu patah karena saat ditemukan batu ini terbelah dua pada tengah-tengah batu. Batu yang berbentuk bulat panjang ini mempunyai dua ujung yang berukuran tidak sama besar. Motif gong atau matahari menghiasi kedua sisi. Konon, batu ini dipakai sebagai pemujaan kepada matahari. Bentuk kepercayaan masyarakat Kerinci tertua sebelum masuknya agama.


Sayangnya,saya tidak bisa mendekat untuk melihat situs ini dari dekat. Cukup dari luar pagar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s