Melongok Situs Prasejarah Pondok

Dari Muak, saya melanjutkan perjalanan menuju desa Pondok. Seorang bapak penggembala kerbau di desa Muak mengatakan bahwa ada sebuah batu gong di dekat jalan raya di desa Pondok dan sebuah batu kuno di pulau Sangkar.

Saya melajukan motor menuju ke arah Pondok. Sampai simpang tiga Lempur, saya belok kiri. Saya menemukan papan kecil seperti di bawah ini. Di sebelah kiri jalan sebelum tikungan. Motor saya belokkan ke kiri.


Saya membelah jalan kecil dari beton di tengah-tengah kebun kopi. Jalannya sempit dan sangat sepi. Lama-lama jalannya berubah menjadi jalan setapak dari tanah. Medan semakin lama semakin susah. Berupa jalan dari tanah liat yang licin. Jalan tersebut berupa tanah liat yang membentuk cekungan yang hanya muat untuk satu motor. Saya harus ekstra hati-hati. Motor stuck lalu akhirnya saya terpaks menuntun motor.

Di dekat kebun kopi, saya bertanya kepada seorang abang petani kopi. Katanya saya harus belok kiri lalu belok kanan menuju batu gong. Motor saya lalu berhenti di tepi jurang. Saya menyeberangi sunagi. Akhirnya saya menemukan sebuh pondok. Ada seorang gadis yang keluar dari pondok. Rupanya jalan yang saya tempuh salah. Saya harus kembali ke simpang tiga kebun kopi, lurus lalu belok kanan.

Setelah menapai jalan setapak dan melewati sebuah pondok, saya sampai di depan situs batu silindrik Pondok. Situs ini dikelilingi pagar tinggi dan berada di tengah-tengah kebun cabai. Cabai-cabai tampak sedang berbuah dan sebentar lagi bisa dipanen.

Pintu pagar situs terkunci rapat. Rasa keingintahuan saya lebih besar daripada rasa kesopanan saya. Saya nekat memanjat pagar untuk bisa masuk ke dalam situs. Tentu, tidak lupa sebelumnya saya mengucapkan salam dan permisi dulu 🙂

Di dalam situs ini terdapat lubang yang cukup besar. Di dasar lubang terdapat sebuah batu besar berbentuk elips menyerupai butir peluru yang dipahat dan diberi relief. Panjang batu sekitar dua meter dengan diameter sisi depan satu meter. Batu ini kabarnya peninggalan manusia purba Kerinci.

Pada bagian depan dan belakang batu terdapat pahatan relief matahari. Konon manusia purba Kerinci memuja matahari. Awalnya saya menduga ini adalah motif gong atau gelombang air. Namun, seorang kawan pemerhati benda prasejarah dari komunitas Bol Brutu menyatakan bahwa ini adalah motif matahari.

Sedangkan pada sisi samping masing-masing terdapat relief tiga buah matahari. Berikutnya pada bagian atas batu terdapat relief dua orang manusia sedang mengangkat kedua tangan dengan posisi bertolak belakang. Sedangkan di antara kedua kaki terdapat gambar lingkaran.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s