Berkunjung ke Batu Gong Jujun

Saya menemukan papan penunjuk bertuliskan batu silindrik Jujun ini secara tidak sengaja. Berawal dari acara jalan-jalan naik motor santai keliling danau Kerinci. Papan ini terletak sebelum jembatan sungai Jujun dari arah Pulau Tengah. Sedangkan dari arah Sanggaran Agung setelah jembatan sungai Jujun. Dari Sungai Penuh sendiri menuju Jujun baik lewat Sanggaran Agung maupun Pulau Tengah sekitar tiga puluh menit.

 

Jalan menuju situs ini masih tanah. Seratus meter pertama berupa jalan tanah liat yang becek. Lalu berubah menjadi tanah merah. Medan semakin lama semakin menanjak. Cukup menantang meski tidak berbahaya. Di kiri dan kanan yang ada hanyalah ladang. Tidak ada satupun rumah penduduk. Setelah speedometer motor menunjukkan jarak dua setengah kilometer dari papan petunjuk, saya hampir tiba di puncak bukit. Tampak kebun dan ladang penduduk. Beberapa ratus meter di depan saya tampak sebuah jalanan yang menurun dan menikung tajam.

Saya kemudian bertanya kepada seorang nenek yang sedang duduk di sebuah pondok. Rupanya saya sudah dekat dengan situs batu silindrik atau akrab dengan sebutan batu gong oleh warga sekitar. Saya tinggal belok kanan, masuk sedikit lalu belok kanan. Jalan menuju situs sangat menantang. Berupa lorong kecil berupa tanjakan dari tanah liat yang licin dan becek. Saya harus sangat berhati-hati. Alhamdulillah saya berhasil melewati tanjakan. Yiiihaa 😀

 

Pintu masuk situs ini masih sederhana. Berupa jalinan kayu dan bambu. Jalan masuknya sudah permanen. Tanaman hias tertata cukup rapi di kiri kanan jalan.

  

Seperti situs prasejarah pada umumnya, pagar permanen dibangun di sekelilingnya. Namuh, pintu pagar dalam keadaan tidak terkunci. Sarung dan sajadah tergeletak di sudut batu.

  

Tidak berapa lama datang nenek yang tadi saya temui di pondok di tepi jalan. Beliau yang bernama nenek Marsilus sering mendirikan sholat di dalam batu gong. Saya lihat memang terdapat sebuah dirigen di sudut luar pagar yang rupanya dipakai sebagai tempat berwudhu. Perlahan nenek Marsilus menurunkan jangki dan   topi capingnya lalu melangkah mengambil air wudhu. Jangki adalah wadah terbuat dari rotan serta diberi tali sebagai wadah untuk mengangkut hasil pertanian ke ladang atau sawah. Saya lihat isi jangki nenek ada parang, botol minum dan beberapa bungkus plastik yang kemungkinan berisi makanan.

   

Selesai sholat, saya meminta nenek untuk mengambil foto saya. Meski awalnya sempat ragu, akhirnya nenek Marsilus berhasil melaksanakan permintaan saya dengan hasil foto cukup bagus.

Batu gong disini cukup istimewa di mata saya. Ukurannya cukup besar dengan panjang sekitar tiga meter. Di samping karena letaknya berada di puncak bukit. Saya membayangkan bagaimana manusia purba jaman dulu menggotong batu tunggal yang beratnya berton-ton ke puncak bukit. Selain itu relief situs ini tidak bisa dijumpai di tempat lain. Relief di bagian depan bergambar manusia yang memegang benda seperti tongkat atau parang. Sedangkan sisi belakang bergambar manusia yang mungkin sedang menari. Bagian kepala sudah hilang karena tangan jahil oknum tidak bertanggungjawab.

 

Sayangnya meski lokasi situs ini cukup tersembunyi, tangan jahil merusak bagian samping sisi ini. Siapa yang usil menoreh nama di situs ini ?!

 Selain batu gong, di tempat ini juga bisa ditemui batu-batu besar lainnya yang menurut tebakan saya  adalah dolmen. Batu besar yang dipakai sebagai meja atau altar persembahan kepada leluhur atau dewa. Wallahu a’lam.

  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s