Sumur Tujuh Hiang Tinggi dan Pungut Mudik

Hari Minggu kemarin saya dan Padli main-main ke Pungut naik motor. Kami janjian untuk ketemuan di bandara Depati Parbo. Rumah Padli di Angkasa Pura dekat bandara. Awalnya kawan saya Poppy dan Maya mau ikut, tetapi mereka akhirnya batal. Rencananya kami berempat akan ke air terjun tiga tingkat di Kumun. Namun, karena malam sebelumnya hujan deras mengguyur Kerinci, rencana trip kami ubah ke Pungut. Kebetulan saya belum pernah ke Pungut. Saya berboncengan dengan Padli.

Dari rumah Padli, kami tidak langsung ke Pungut. Melainkan singgah dulu ke bukit tujuh di desa Hiang Tinggi. Sepeda motor bisa naik sampai ke atas bukit lho. Dari atas nampak pemandangan rumah-rumah kuno di Hiang Tinggi dan lebih jauh lagi tampak kota Hiang, ibukota kecamatan Sitinjau Laut. Rumah-rumah terlihat simetris dan sama persis, seperti kompleks perumahan tetapi berarsitektur tradisional. Angin bertiup sepoi-sepoi. Asik 🙂

 

Terdapat juga makam nenek Jaburiah. Beliau adalah nenek moyang masyarakat Hiang . Makamnya berupa tumpukan batu berukuran kepala manusia dengan nisan berupa batu panjang mirip menhir. Makam kuno ini dinaungi oleh sebuah pohon kamboja.

 

Di samping makam terdapat sebuah bangunan Gedung Pemuda bernama gedung Depati Atur Bumi yang sedang dibangun. Menurut Padli, tanah yang sekarang dibangun gedung pemuda dulunya adalah sebuah rumah kuno berarsitektur Kerinci yang ditinggalkan pemiliknya. Sayang sekali.

Berjalan ke puncak bukit terdapat tujuh lubang yang dipenuhi air menyerupai sumur. Masyarakat menyebutnya sumur tujuh. Kedalamannya sekitar setengah meter. Meski musim kemarau panjang, air sumur ini kabarnya tidak pernah kering.

Menurut legenda sumur ini tidak dibuat oleh manusia, melainkan terjadi karena peristiwa alam. Bukit ini dulunya merupakan sebuah gunung yang bernama gunung Jelatang. Gunung ini dikelilingi oleh danau Kerinci purba yang saat itu masih berupa lautan. Inilah asal nama Sitinjau Laut, yaitu tempat untuk ‘meninjau laut’. Suatu ketika, bencana gempa meruntuhkan puncak gunung Jelatang dan membuat danau Kerinci surut seketika dan luasnya hanya seperti sekarang ini. Entah benar atau tidak, wallahu a’lam 🙂

Di dekat sumur tujuh terdapat sebuah instalasi PDAM yang mengambil air dari mata air sumur tujuh. Air dari puncak bukit dialirkan untuk disalurkan ke seluruh wilayah Sitinjau Laut.

Dari bukit Hiang Tinggi kami turun ke bawah. Menuju ke tempat selanjutnya menuju Pungut. Menyusuri jalanan di sepanjang tepian sungai Batang Sangkir. Di kiri dan kanan sawah membentang. Sebagian mulai panen, yang lainnya menguning siap dipanen.

  

Jalanan menuju Pungut ini tidak selamanya bagus. Kami menemui sebuah jalanan tepat di tepi sungai yang  badannya telah tergerus lebih dari separuh. Separuh badan jalan telah longsor terkena arus sungai. Hanya muat dilalui oleh satu buah motor. Sepertinya mobil tidak bisa lewat di atasnya. Was-was kami lewat diatasnya. Kurang hati-hati sedikit bisa membuat kami terjatuh ke air.

 Semakin mendekati Pungut, jalanan semakin buruk saja. Naik, turun dan berkelok-kelok. Sering kali kami harus melalui jalan yang tergenang air. Untung saja air tidak masuk ke knalpot. Suasana sangat sepi seperti di tepi hutan. Kami jarang berpapasan dengan pengguna motor yang lain.

 

Pungut adalah salah satu kawasan terpencil di Kerinci. Letaknya di balik bukit Guntung, sebuah bukit di balik kota Sungai Tutung, ibukota kecamatan Air Hangat Timur. Untuk mencapai Pungut paling umum adalah lewat Hiang. Kabarnya, jalan baru juga sedang dibangun dari Sungai Tutung menuju Pungut.

Ada tiga desa di Pungut. Masing-masing bernama Pungut Hilir, Pungut Tengah dan Pungut Mudik. Sarana pendidikan di Pungut hanya ada sampai setaraf SMP. Untuk bersekolah ke tingkat atas masyarakat harus menyekolahkan anaknya ke Hiang. Jika mempunyai uang lebih, anak-anak akan disuruh untuk indekos di Sungai Penuh. Sebagian besar anak-anak di Pungut akan berladang selepas lulus sekolah.

Di Pungut juga tidak ada pasar. Warga akan pergi ke Hiang untuk menjual hasil pertanian. Fasilitas kesehatan yang ada hanya puskesmas pembantu (pustu).

Minyak (bensin) motor kami menipis ketika sampai di Pungut Tengah. Kami tidak melihat ada kedai yang menjual minyak di jalan. Syukurlah kami menemukan sebuah kedai di tengah-tengah pemukiman warga yang menjual minyak.

TNKS

Motor kami terus melaju menuju desa terakhir yaitu Pungut Mudik. Jalanan makin buruk saja. Tidak ada aspal. Yang ada hanya lapisan batu dan pasir. Medan semakin menanjak. Setelah melewati rumah terakhir, kami mulai memasuki wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat.


Kami memutuskan untuk berbalik arah menuju perkampungan Pungut Hilir. Perjalanan tidak mungkin kami teruskan. Di sebuah jembatan kami berhenti. Menikmati pemandangan berupa persawahan yang bersusun-susun. Namun, tidak sebagus sawah di Kumun.


Jika perjalanan menuju Pungut Mudik adalah menanjak. Perjalanan sebaliknya adalah menurun. Kami bertukar posisi. Padli berada di depan sedangkan saya dibonceng di belakang.


Padli mengajak saya untuk singgah di sebuah pintu air di Hiang Tinggi. Di atasnya berdiri dengan kokoh jembatan kecil di atas sungai Batang Sangkir. Padli sering kesini untuk mengajak kemenakannya bermain air.


Saya baru tahu jika di Kerinci ada pintu air seperti ini. Memori membawa saya ke masa lalu. Dulu, ayah sering membawa saya menuju pintu air di dekat rumahnya di tepi Bengawan Solo. Saya sering membuat kapal-kapalan lalu saya hanyutkan di sungai. Kenangan yang sangat indah 🙂

 

Masyarakat sekitar memanfaatkan sungai ini untuk memancing atau mengambil pasir sungai. Mereka naik perahu kayu lalu terjun ke sungai. Dengan cangkul mereka mengeruk pasir dari dasar sungai.

 

Dari Hiang Tinggi, saya meminta Padli untuk kembali ke Betung Kuning. Saya ingin mengambil gambar saluran irigasi yang saat berangkat belum sempat saya potret. Perjalanan yang sangat berkesan. Terimakasih Padli 🙂 Sampai bertemu lagi …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s