Bukit Tengah Ibukota Kerinci

Kerinci adalah salah satu kabupaten di provinsi Jambi. Letaknya paling jauh dari kota Jambi, ibukota provinsi Jambi. Kondisi geografisnya bergunung-gunung. Pusat pemukiman di sepanjang lembah Kerinci. Membujur dari utara di kaki gunung Kerinci, lewat kota Sungai Penuh, danau Kerinci sampai dengan perbatasan dengan kabupaten Merangin.

Sampai dengan tahun 2008, ibukota Kerinci adalah Sungai Penuh. Pada perkembangannya, Sungai Penuh dimekarkan menjadi kota otonom tahun 2008. Sesuai undang-undang, ibukota Kerinci harus dipindahkan dari Sungai Penuh. Semua kantor dan aset pemerintah kabupaten Kerinci di Sungai Penuh harus diberikan kepada pemerintah kota Sungai Penuh.

Sempat terjadi perdebatan cukup sengit di kalangan rakyat dan pejabat Kerinci tentang dimana akan dibangun pusat pemerintahan baru sebagai ibukota kabupaten Kerinci. Setelah melaui proses pembahasan yang cukup panjang, akhirnya terpilih kawasan Bukit Tengah di kecamatan Siulak sebagai ibukota Kerinci.

Bukit Tengah adalah sebuah bukit yang terlantar dan tidak dihuni oleh manusia. Luasnya sekitar 300 hektar. Cukup memadai untuk dibangun berbagai kantor pemerintah.

Pagi tadi saya mencoba menyambangi Bukit Tengah. Kabarnya pemandangan dari puncak Bukit Tengah bagus. Saya naik motor dari rumah di Sungai Penuh. Dari rumah saya menuju ke arah Padang. Melewati Semurup lurus melewati Siulak Gedang.

Setelah bertanya kepada dua orang nenek, saya harus memutar arah ke Siulak Gedang untuk menuju Bukit Tengah. Ada beberapa jalur menuju Bukit Tengah. Diantaranya adalah lewat Lubuk Nagodang dan Siulak Mukai. Jalur yang paling mudah adalah lewat Siulak Mukai.

Saya kembali ke pasar Siulak Gedang. Lalu belok kiri di simpang tiga tepat di seberang tugu pahlawan pasar Siulak Gedang. Setelah melewati jembatan, saya melihat sebuah banner bertuliskan ucapan selamat datang di Siulak Mukai. Saya tinggal lurus mengikuti jalan yang tidak seberapa lebar.

Melewati pemukiman penduduk yang padat, saya melihat kulit kayu manis yang dijemur di tepi jalan. Baunya, hmmm…harum menusuk hidung. Rumah-rumah tradisional khas Kerinci masih banyak terlihat di kiri dan kanan jalan. Masyarakat disini sepertinya mengandalkan penghasilan dari kayu manis, selain bertanam padi

Semakin lama rumah semakin jarang. Yang ada hanyalah persawahan yang luas sejauh mata memandang. Diselingi sungai kecil yang jernih, dikepung perbukitan tinggi, sedap sekali dipandang mata. Ingatan akan masa kecil kembali memenuhi pikiran. Gunung, sawah, sungai dan jalan yang berkelok-kelok.

Selanjutnya saya melewati desa Mukai Tinggi dan desa Talang Tinggi. Penduduk desa ini juga banyak yang bertanam kayu manis dan padi. Di ujung desa Talang Tinggi, terdapat sebuah tanjakan dari pasir dan batu di sebelah kanan jalan. Kata seorang uni yang saya tanyai, ini adalah jalan menuju Bukit Tengah. Jalan ini dibuat dari tepian bukit yang dipotong dengan alat berat.

Jalannya belum terlalu bagus. Masih berupa pasir dan batu yang dipadatkan dengan alat berat. Di beberapa lokasi, jalanan menanjak agak curam sekitar 40 derajat. Perlu kewaspadaan ekstra saat naik. Apalagi jika membawa kendaraan roda dua seperti saya.

Sekitar lima belas menit saya sampai di sebuah pelataran. Disini tampak tiga buah gedung yang telah selesai dibangun tapi belum sempurna. Ketiga bangunan ini berlokasi di tiga tempat yang berbeda tetapi berdekatan. Salah satu gedung nampak mencolok berwarna biru dan merah. Sepi dan tidak terlihat orang sama sekali.

Saya turun dari motor dan berjalan ke sekeliling gedung. Nampak pemandangan bukit dan sawah. Sedikit terlihat juga jalanan yang tadi saya lalui. Sungai yang tadi saya lewati tampakĀ  berkelok-kelok seperti liukan ular. Rumah-rumah tampak sangat kecil.

Karena masih ada satu puncak lagi, saya meneruskan perjalanan menuju puncak bukit

Sya lihat beberapa pekerja tampak sibuk menyelesaikan pekerjaan. Yang lain sedang beristirahat dari teriknya matahari. Sepertinya di puncak bukit ini akan dibuat taman. Jalur-jalur pejalan kaki dibuat cukup lebar. Dilengkapi lintasan untuk pijat refleksi, taman bunga dan air mancur yang semuanya belum jadi. Sebuah pintu gerbang bergaya arsitektur Kerinci sedang dibuat oleh para pekerja. Di ujung taman, saya melihat bangunan mirip amphitheatre. Mungkin dipakai untuk menyaksikan pemandangan dibawahnya.

Pemandangan dari atas sini saya akui sangat indah. Dengan langit biru, saya melihat kota Siulak Gedang di bawah sana, dikelilingi sawah hijau dan dikepung perbukitan yang membentang. Di ujung sebelah selatan, nampak kota Sungai Penuh. Sedang di ujung yang lain danau Kerinci nampak seperti sebuah untaian benang berwarna putih.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s