Museum Wayang Indonesia

Sama-sama berada di kawasan Taman Fatahillah, kota tua Jakarta, nasib museum ini tidak seberuntung ‘tetangganya’ museum sejarah Jakarta atau sering disebut museum Fatahillah. Museum wayang kelihatan sepi pengunjung. Padahal jaraknya hanya selemparan batu dari museum Fatahillah.

Rasa keingintahuan yang membawa saya mengunjungi museum ini. Setelah membayar tiket dan menitipkan tas, saya segera mengeksplorasi museum ini. Sebenarnya ada larangan memotret isi museum, akan tetapi saya nekat saja karena ibu-ibu petugas museum cuek saja ketika saya sibuk jeprat-jepret koleksi museum.

Di dalam museum terdapat sebuah taman kecil yang didedikasikan untuk Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC yang merebut Sunda Kelapa dari Pangeran Jayakarta tahun 1619. Sunda Kelapa lalu diubah menjadi Batavia Air.

 

Gedung dua lantai ini bergaya arsitektur Neo Reinaissance. Awalnya dibangun sebagai gereja tahun 1640. Pada tahun 1808 gereja ini hancur diguncang gempa besar. Setelah dibangun kembali, bekas gereja ini dipakai sebagai gudang. Pada masa kemerdekaan, gedung ini dipakai sebagai museum Sejarah Jakarta. Terakhir diresmikan sebagai museum wayang pada tahun 1975.

 Namanya saja museum wayang, disini dipamerkan aneka jenis wayang dari seluruh Indonesia. Yang pertama ada wayang kulit. dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Cirebon, Bali, Nusa Tenggara Barat, Palembang dan Kalimantan Selatan. Wayang di Palembang dan Kalimantan Selatan menurut sejarah dibawa oleh utusan kerajaan dari Jawa Tengah. Satu set gamelan lengkap dari Jawa dan Betawi juga ada disini.

Menurut jenisnya, wayang kulit terbagi menjadi wayang purwa yang menceritakan kisah klasik Mahabarata dan Ramayana, wayang wahyu yang bercerita tentang kehidupan Yesus, wayang revolusi yang menceritakan jaman penjajahan Belanda, wayang suluh tentang kehidupan sehari-hari masyarakat dan lain-lain.

 

Jika di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta wayang kulit tumbuh subur. Di Jawa Barat wayang golek lebih disukai masyarakat. Disini dipamerkan koleksi wayang dari berbagai daerah di Jawa Barat. Namun, wayang golek juga bisa ditemukan di Jakarta dengan sebutan wayang golek Lenong dan di Kebumen, Jawa Tengah disebut wayang golek Menak.

 

Disamping wayang kulit dan wayang golek yang sudah populer. Indonesia juga memiliki jenis-jenis wayang lain seperti wayang klithik (wayang dari kayu tetapi tangannya dari kulit), wayang potehi /  po the hie (wayang boneka dari Cina selatan), wayang rumput, wayang janur dan lain-lain. Banyak sekali sampai saya lupa satu persatu hehehe. Yang tidak ada disini adalah wayang orang 🙂 Hahahaha

Selain wayang dipamerkan juga aneka topeng dari berbagai daerah di Indonesia. Dari Sumatera Utara ada topeng Gundala gundala dari Karo dan patung Sigale-gale dari danau Toba.

Eh..disini ada Unyil juga lo. Buat yang hidup di tahun 80 dan 90-an pasti mengenal boneka ini. Unyil, Usro dan Pak Raden adalah salah satu tontonan favorit saya di tv jaman dulu. Hm..sepertinya museum ini perlu diubah namanya menjadi museum Wayang dan Boneka 🙂

Selain wayang dan boneka dari Indonesia, disini juga ada wayang dari negara lain. Wayang berikut ini dari Malaysia, Vietnam dan Kamboja. Wayang kulit Malaysia rupanya ada gunungan juga. Namun warnanya hanya hijau dan ukirannya lebih sederhana. Wayang Vietnam mirip wayang potehi. Sedangkan wayang Kamboja ukirannya sangat detail

 

Di negara asalnya, India juga ada wayang boneka dan wayang kulit. Sama dengan Indonesia tetapi wayang India lebih sederhana. Wayang Thailand juga berbentuk boneka. Namun, baik wayang India maupun Thailand digerakkan dalang dari atas. Bukan dari bawah seperti di Indonesia.

 

Di Eropa dan Amerika, boneka juga dimainkan sebagai hiburan seperti wayang di Indonesia. Boneka ini ada yang digerakkan dari atas menggunakan tali atau digerakkan dengan tangan langsung.

 Whuaa..pengetahuan saya tentang wayang manjadi bertambah setelah mengunjungi museum ini. Selamat menikmati dunia pewayangan dan selamat bersenang-senang 😀

 

Museum ini menggelar acara pergelaran wayang setiap minggu kedua dan minggu ketiga setiap bulannya. Ayo, tunggu apalagi. Siapa yang akan melestarikan seni budaya tradisional jika bukan kita 🙂 .

Museum Wayang
Jl. Pintu Besar Utara No. 27 Jakarta Barat (samping museum Fatahillah)
Buka : Selasa – Minggu
Jam : 09.00 – 17.00
Tiket :
Dewasa : Rp 2.000,-
Pelajar / Mahasiswa : Rp 1.000,-
Anak-anak : Rp 600,-
Situs Web : http://www.museumwayang.com/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s