Batu Gong Nenek Betung, Bukti Manusia Purba di Sungai Penuh

Kamis kemarin saya, Poppy dan Maya mengunjungi sebuah situs prasejarah di Sungai Penuh.  Namanya batu silindrik Kumun, tetapi masyarakat setempat lebih mengenal dengan nama batu gong Nenek Betung. Letaknya di desa Koto Beringin, kecamatan Kumun Debai. Saya naik motor sendirian sedangkan Poppy dan Maya berboncengan. Setelah bertanya sana-sini, akhirnya kami menemukan papan petunjuk arah menuju batu gong. Papannya kecil sekali jadi kurang mencolok perhatian. Tepat di simpang tiga setelah SMK Negeri 4 Sungai Penuh, dekat terminal lama Kumun jika datang dari arah kota.

 

Kami masuk sebuah lorong yang jalannya masih tanah. Sekitar beberapa ratus meter kami memasuki lorong belum terdapat petunjuk dimana batu gong. Jalan yang kami lalui menanjak, turun, lalu menanjak lagi. Batu-batu kecil dan adanya tikungan membuat kami harus ekstra hati-hati. Sampai akhirnya kami tiba di sebuah tepi sawah. Masyaalloh, bagus banget. Poppy yang orang Kerinci saja sampai terbengong-bengong melihatnya lebay. 

Ini adalah sawah paling bagus di Sungai Penuh dan Kerinci yang pernah saya lihat. Konturnya berundak-undak dengan bentuk sawah yang melingkar mirip racun nyamuk. Hm..pikiran saya melayang ke sebuah daerah persawahan di Bali, Ubud! 😀 Bedanya kalo sawah di Ubud sudah terkenal dan ramai dikunjungi orang, kalau sawah yang ini sangat sepi. Saat kami foto-foto disini, lewat beberapa orang petani yang hendak berangkat ke sawah. Rupanya kami telah melewatkan batu gong. Batu tersebut terletak dua ratus ratus meter dari persawahan ini.

Kembali ke bawah, kami menjumpai sebuah kebun kopi. Kata seorang petani di kebun kopi yang kami temui. Pintu masuknya berupa jalan setapak dari tanah di tengah-tengah kebun kopi.

 

Hanya masuk beberapa langkah, kami sampai di sebuah bangunan berpagar keliling warna hijau cerah. Nama yang terbaca pada papan adalah situs Kumun. Situs ini berada di tengah-tengah perkebunan kopi. Sangat sunyi karena jauh dari pemukiman warga.

 

Situs batu silindrik ini masih dibiarkan di tempat aslinya. Di sekelilingnya telah dibangun beton permanen dan pagar tinggi untuk mencegah tangan-tangan jahil merusak tempat ini. Batunya sendiri berwarna cokelat terang. Berbentuk bulat sepanjang kira-kira dua meter. Dihiasi banyak motif menyerupai gong. Di salah satu sisi terdapat relief sederhana bergambar manusia yang seperti sedang berdoa atau mengangkat kedua tangan.

   

Batu ini akan bercerita kepada kita sepenggal sejarah masa lalu kota Sungai Penuh. Datanglah kesini dan lihatlah ia berbicara kepada Anda …

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s