Museum Tanah Bogor

Sebuah brosur terbitan pemko Bogor menuntun saya dan kawan saya Indra menuju museum ini. Letaknya hanya beberapa ratus meter dari kebun raya Bogor. Awalnya kami ragu untuk masuk ke dalam karena tidak terdapat papan penunjuk museum. Namun, karena bentuk gedung ini  sama dengan brosur yang saya pegang, kami masuk ke halaman. Belum sampai pintu masuk, seorang petugas keamanan menanyakan maksud kedatangan kami. Setelah menjelaskan maksud kunjungan, kami dipersilakan masuk ke dalam gedung.

Begitu masuk, kami tidak bisa langsung mengujungi museum. Bagian depan gedung ini rupanya dipakai sebagai kantor Balai Penelitian Tanah (Balittanah), sebuah badan pemerintah di bawah Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat Kementerian Pertanian RI. Museum tanah tidak terbuka untuk umum, jadi siapapun yang kesini harus membuat reservasi terlebih dahulu. Kami lalu diminta menghadap seorang ibu-ibu yang sepertinya kepala bagian museum. Alhamdulillah melihat kami datang jauh-jauh dari Jakarta untuk berwisata ke Bogor. Akhirnya kami diijinkan melihat museum tanah. Bahkan kami ditemani untuk melihat koleksi museum. Museumnya sendiri menempati sebuah ruangan kecil di bagian belakang gedung Balittanah.

Gedung ini dibangun tahun 1905 oleh pemerintah Belanda sebagai Laboratorium Penelitian Tanah dan Agrogeologi sebagai bagian dari kebun raya Bogor. Namanya diubah berkali-kali hingga akhirnya pada tahun 2002 bernama Balai Penelitian Tanah (Balittanah). Balittanah bertugas  melakukan penelitian dan pelayanan kepada masyarakat di bidang informasi dan teknologi menyangkut pertanahan, air, tanaman, dan pupuk. Museum tanah sendiri hadir di gedung ini  tahun 1988 untuk memperkenalkan jenis-jenis tanah yang tujuan akhirnya adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat sehingga produksi pertanian meningkat.

Di dalam museum yang tidak seberapa luas ini dipamerkan beraneka jenis sampel tanah dari berbagai tempat di Indonesia. Mulai dari tanah gambut, tanah liat, tanah pertanian, sampai tanah di Aceh setelah diterjang tsunami. Sampel-sampel tanah disajikan dalam bentuk makromonolit. Yaitu penampang berdiri sebuah sampel tanah yang utuh dan berdimensi 150 x 25 x 4 cm. Makromonolit diambil dengan penggalian tanah. Setiap makromonolit dilengkapi dengan klasifikasi tanah, topografi / kemiringan, bahan utama, drainase, pemakaian tanah, dan lokasi dimana sampel tanah diambil.

makromonolit

Selain aneka jenis tanah, disini juga dipamerkan beranaka macam batuan, pupuk, peta pertanahan di Indonesia, maket pemakaian dan konservasi tanah dan lain-lain.

maket konservasi tanah

Well, museum tanah sepertinya tidak akan terlalu menarik perhatian masyarakat umum, apalagi saya sebagai orang yang awam tentang tanah. Namun, akan sangat membantu bagi mereka yang sedang serius belajar atau meneliti tentang pertanahan 🙂 Terakhir, saya sangat terkesan dengan keramahan kepala museum ini yang turun langsung menemani kami berkeliling 🙂

Museum Tanah
Jalan Ir. H. Juanda No.98, Bogor
Buka : Senin-Jumat (dengan reservasi terlebih dahulu)
Telp. (0251) 323012
Situs Web : http://balittanah.litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=20&Itemid=34
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s