Masjid Raya Al Mashun, Ikon Medan

Mengunjungi kota Medan, kurang lengkap rasanya tanpa menjejakkan kaki di masjid Raya Al Mashun yang megah. Sering disebut masjid Raya Medan oleh warga. Letaknya di jalan Masjid Raya, hanya berjarak dua ratus meter dari ikon kota Medan lainnya yaitu istana Maimun. Saya sengaja menginap di hotel Zakia yang berjarak hanya beberapa langkah dari masjid. Dari lantai dua hotel, tampak bagian belakang masjid.

 https://fbcdn-sphotos-a-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/41066_1247684451595_2067226_n.jpg 

Masjid ini dibangun oleh Sultan Deli Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam pada tahuin 1906 dan selesai tahun 1909. Biaya pembangunannya cukup fantastis untuk ukuran saat itu yaitu satu juta gulden, sekitar lima koma delapan miliar rupiah. 😀 Wihhh. Semuanya konon diambil dari kocek pribadi sultan. Namun, kabarnya sebagian dana ditanggung oleh Tjong A Fie, saudagar Medan terkaya saat itu. Biaya pembangunan masjid yang selangit karena sebagian besar diimpor dari luar negeri.

Rancangan masjid ini dibuat oleh van Erp dan Tingdeman. Menggabungkan berbagai gaya arsitektur seperti Arab, India dan Eropa.

Gerbang masuk masjid yang berukuran besar adalah bangunan pertama yang saya masuki. Menggunakan ciri arsitektur Maroko. Bentuknya solid berbentuk persegi panjang dengan diapit oleh dua persegi panjang yang lebih kecil. Pintu masuknya berupa lengkungan dengan dihiasi dua pilar di tepinya.

  

Tempat wudhunya juga sangat megah. Berhias kubah hitam di puncaknya. Lantai dan dinding serta pancuran untuk berwudhu terbuat dari marmer. Marmer ini didatangkan langsung dari Italia.

   

Bangunan utama masjid berwarna kontras dengan pondasi dan kubah berwarna hitam. Sedangkan dindingnya didominasi warna putih pucat dan biru keabu-abuan. 😀 Keunikan masjid ini adalah bentuknya yang segi delapan.

 

Masuk ke bagian dalam, saya menjumpai beranda yang dihiasi pilar-pilar bergaya Spanyol. Daun pintu masjid bergaya India. Sedangkan jendela di dalam dihiasi kaca patri yang kabarnya didatangkan langsung dari Cina. Hiasan pada jendela bermotif tanaman dan bunga. Namun, sebagian hiasan telah rusak dan diganti dengan kaca baru yang berbeda motif dengan kaca aslinya.

   

Menara masjid Al Mashun terletak agak jauh dari bangunan utama masjid. Terlihat menara masjid saya lihat saat berada di beranda.

   

Melangkah ke ruang sholat, saya melihat delapan pilar bergaya Spanyol yang dihiasi lengkungan bergaya Arab. Sedangkan atapnya berbentuk segi delapan bergaya India. Terdapat juga sebuah anjungan yang terdapat di belakang ruang sholat. Mungkin dipakai untuk mengumandangkan azan. Saat saya berada di masjid, bagian dalam masjid sedang dipersiapkan untuk dipakai sebagai tempat melangsungkan pernikahan.

 Sedangkan bagian mihrab masjid bergaya Arab. Di samping mihrab terdapat panggung kecil yang dipakai untuk mengumandangkan khotbah. Tempat khotbah ini berupa menara kecil berarsitektur India yang dilengkapi dengan tangga marmer berciri Spanyol. Seluruh bangunan dalam masjid dihiasi dengan ornamen yang sangat detail. Uniknya, tidak terdapat kaligrafi Arab sebagaimana masjid pada umumnya. 🙂

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s