Gunung Padang dan Misteri Makam Siti Nurbaya

Saya pertama kali mendengar nama Siti Nurbaya waktu masih di bangku SMP. Materi pelajaran bahasa Indonesia saat itu menceritakan  fragmen novel Siti Nurbaya. Novelnya sendiri baru saya baca saat SMA. Sebuah tugas dari guru Bahasa dan Satra Indonesia mengharuskan saya memilih salah satu novel lama untuk dibuat resensi. Saya memilih novel Sitti Nurbaya, Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli.

Novel ini pertama kali diterbitkan tahun 1922 oleh penerbit Balai Pustaka. Menceritakan kisah cinta antara Siti Nurbaya dengan kekasihnya Samsulbahri. Cinta mereka kandas karena Siti dipaksa menikah dengan Datuk Maringgih. Saudagar kaya yang hobi poligami. Di akhir cerita, Siti tewas diracun oleh Datuk Maringgih karena ia masih mencintai Samsulbahri. Samsul lalu membalas dendam dengan membunuh Datuk Maringgih. Datuk tewas di tangan Samsul. Namun, Samsul juga akhirnya meninggal karena luka-lukanya cukup parah. Baik Siti Nurbaya dan Samsul dimakamkan di puncak gunung Padang.

Kisah Siti Nurbaya pernah diangkat ke layar kaca dengan pemain utamanya adalah Nia Ramadhani berperan sebagai Siti Nurbaya. Cerita dan latarnya telah disesuaikan dengan era kekinian. Siti adalah siswa SMA yang hidup di masa modern.

Ketika tahun 2010 saya pergi ke Padang untuk pertama kali, saya hanya bisa main ke jembatan Siti Nurbaya karena minimnya waktu. Saya bertekad dalam hati jika ke Padang lagi saya akan mendaki puncak gunung Padang untuk melihat makam Siti Nurbaya.

Kesempatan akhirnya datang. Mulai tahun 2012 saya pindah tugas ke Sungai Penuh, kota kecil berjarak enam jam perjalanan dari Padang. Saya sering mendapat tugas kantor ke Padang. Namun baru awal tahun 2013 kemarin saya berhasil mencapai puncak gunung Padang. Sendirian!

Saya sengaja menginap di hotel Brigite’s House di jalan Nipah. Tepat di kaki jembatan Siti Nurbaya agar mudah mencapai gunung Padang. Saya berencana ke gunung Padang pagi hari karena jika siang udara kota Padang sangat terik. Dari jalan Nipah, saya berjalan kaki menaiki jembatan Siti Nurbaya lalu berjalan memutar hingga tiba di kaki jembatan Siti Nurbaya di seberang.

Dari bawah jembatan saya berjalan lurus menyusuri tepian sungai Batang Arau menuju arah gunung Padang di muara sungai. Gunung Padang sudah tampak dari kejauhan. Perahu para nelayan tertambat di pelabuhan Muaro. Udara pagi menyambut segar. Permukaan sungai yang tenang memantulkan bayangan benda di atasnya dengan sempurna. Warga sekitar menikmati pagi dengan mengobrol dengan tetangga atau sarapan pagi di kedai-kedai yang menjual makan pagi.

Setelah berjalan kaki sepanjang satu kilometer, saya sampai di lapangan Siti Nurbaya. Di ujung lapangan terdapat gapura bertuliskan Objek Wisata Gunuang Padang; istilah gunung Padang dalam bahasa Minang. Saya bertanya kepada seorang uni dimana arah ke puncak, lalu saya belok ke kanan. Tidak terdapat pungutan tiket masuk menuju puncak gunung Padang. Jalan menuju puncak telah disemen sehingga mudah dan aman dilalui.

Gunung Padang atau disebut taman Siti Nurbaya merupakan sebuah bukit kecil setinggi 400 meter adri permukaan air laut. Penyebutan gunuang oleh masyarakat Padang mungkin karena kota Padang tidak memiliki gunung, sehingga bukitpun disebut gunung.

Dalam perjalanan menuju puncak saya melihat beberapa bangunan mirip bunker pertahanan. Bunker ini dibuat semasa penjajahan Jepang di Padang.

Bunker pertama ternyata dihuni oleh warga. Bagian dalam dipakai untuk tidur-tiduran. Bunker kedua yang saya lihat kosong. Mulai dari sini tidak tampak lagi rumah warga. Yang ada hanyalah bukit yang penuh semak di sisi kiri dan muara sungai Padang di sebelah kanan.

Bunker ketiga berukuran lebih besar. Di dalamnya terdapat sebuah meriam dengan ukuran besar. Meriam ini dulu dipakai untuk menghalau musuh yang mencoba masuk ke Padang.

Bunker terakhir yang saya lihat adalah sebuah dinding tebal dengan tulisan DOW di atasnya. Di belakangnya terdapat sebuah ruangan yang disekat menjadi dua. Ruangan ini tanpa atap sehingga saya bingung ruangan ini dulu dipakai untuk apa.

Selepas melihat bunker, jalanan mulai sempit dan menanjak. Pepohonan semakin rimbun. Beberapa kawanan monyet liar terlihat menghindar ketika saya lewat. Namun, saya tidak menurunkan kewaspadaan. takut sewaktu-waktu monyet itu mencuri barang bawaan saat saya lengah.

Semakin ke atas, jalanan semakin menanjak. Suara burung dan serangga hutan membuat saya merinding. pemandangan berganti menjadi seperti di hutan rimba. Pegangan tangga di sisi kanan sebagian mulai rusak sehingga saya harus berhati-hati melangkah. Nafas saya mulai tersengal-sengal. Sesekali saya berhenti sejenak.

Saya tidak patah semangat, setelah mengumpulkan tenaga saya kembali menyusuri satu demi satu anak tangga menuju puncak. Setelah melewati dua buah batu seukuran rumah, akhirnya saya sampai di puncak gunung Padang. Total watu yang saya perlukan untuk mendaki dari gapura masuk ke puncak adalah dua puluh menit. Puncak gunung Padang inilah yang disebut sebagai Taman Siti Nurbaya.

Tidak lupa saya bersyukur telah samapi di puncak gunung Padang. Perasaan lelah, kesepian dan merinding saat mendaki gunung menguap begitu saja. Dari atas puncak tampak pemandangan sebagian pesisir kota Padang, tepi laut dan gunung Talang.

Di sisi yang lain terbentang samudera Hindia dan pantai air Manis. Di depan pantai air Manis terdapat dua buah pulau yang dikenal dengan nama pulau Pisang Ketek (kecil) dan pulau Pisang Gadang (besar).

 

Pepohonan yang rindang, angin sepoi-sepoi dan panorama yang indah membuat saya betah berlama-lama disini.  Fasilitas penunjang disini juga cukup lengkap. Ada toilet umum yang cukup bersih, gardu pandang yang cukup terawat dan terdapat beberapa kedai makanan. Karena saya datang terlalu pagi, belum ada satupun kedai yang buka. Saat saya di puncak, tampak seorang petugas kebersihan sedang membersihkan sampah di pelataran puncak. Di puncak ini juga terdapat dua buah bunker pertahanan peninggalan Jepang.

 

Puas menikmati pemandangan, saya segera turun menuju makam Siti Nurbaya. Untuk menuju makam saya harus melewati sebuah lubang berupa celah sempit di antar dua buah batu besar. Saya harus membungkuk untuk melewatinya. Makam Siti Nurbaya berada di bawah lindungan batu sangat besar yang berfungsi sebagai dinding dan atap makam.

Makamnya sendiri berupa batu nisan berwarna putih dan ditutupi kain berwarna putih dan biru. Kondisi sekitar makam cukup remang-remang karena minim cahaya matahari. Suasananya cukup mistik. Saya tidak berlama-lama disini. Makam ini dilarang untuk dipotret jadi saya tidak berani memotretnya.

Makam ini sampai sekarang masih diperdebatkan masyarakat Padang. Banyak yang tidak mempercayai kebenaran makam di puncak gunung Padang adalah makam Siti Nurbaya karena cerita Siti Nurbaya adalah kisah fiksi. Sementara yang lainnya yakin bahwa kisah Siti Nurbaya diangkat dari kisah nyata. Wallahu a’lam.


Menurut beberapa sumber yang saya dapat di internet, makam Siti Nurbaya sering dikunjungi oleh kalangan tertentu untuk memperoleh kekayaan secara instan. Pengunjung dilarang berbuat kurang terpuji dan berkata kotor di sekitar makam ini karena kabarnya Makam ini konon ditunggui oleh beberapa makhluk halus yang perwujudannya sangat menyeramkan Hiiiiii 😦

Terlepas dari kisah mistiknya, masyarakat sekitar gunung Padang menganggap gunung Padang memiliki tuah. Gunung ini tidak mengalami kerusakan sama sekali setiap bencana alam menghantam kota Padang. Seperti saat gempa dan tsunami tahun 1696 dan terakhir gempa besar tahun 2009.

Foto nisan makam Siti Nurbaya dipinjam dari sini. Foto skyview Padang dari sini.

Iklan

4 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s