Gorengan Unik

Ternyata masing-masing daerah di Indonesia mempunyai kekhasan, termasuk kulinernya. Salah satunya adalah gorengan. Makanan rakyat ini begitu populer di Indonesia. Dijajakan di pinggir jalan, di sekolah, kampus bahkan di lingkungan perkantoran. Harganya yang murah meriah menjadikan gorengan disukai semua kalangan.

Saya mengenal gorengan sejak kanak-kanak. Jika ibu tidak sempat membuat sarapan ketika saya akan berangkat sekolah, ibu akan pergi ke warung mbah Tuminah di dekat rumah untuk membeli bubur atau nasi jagung. Untuk lauknya adalah gorengan. Diantaranya ada tempe goreng, bakwan, tahu isi, dan kadang ada pisang goreng, bayam goreng, gandos dan klenyem. Bakwan di kampung kami ada dua. Bakwan putih berisi kol, tauge dan wortel. Bakwan hitam berisi potongan daun ubi yang dicampur parutan kelapa. Rasanya gurih dan teksturnya sangat renyah. Gorengan favorit saya yang lain adalah gandos. Gandos adalah gorengan dari ketan bercampur nasi. Rasanya gurih dan agak lengket. Rasanya, wah ngangenin. Nagih pokoknya. 😀 Setelah mbah Tuminah tukang bubur langganan ibu tidak berjualan karena sakit tua, ibu membeli sarapan di kedai mbokde Tiyam. Namun, tetap bakwan daun ubi mbah Tuminah tetap tidak tergantikan. Sampai sekarang.

Ketika pulang apel dari rumah pacar saya di Salatiga, saya selalu menyempatkan diri membeli tahu petis di sudut lapangan  Pancasila. Tahu petis adalah tahu goreng yang diisi petis udang. Wihh..rasanya perpaduan antara gurih tahu dan manisnya petis sangat sempurna. Saya seringnya memborong banyak makanan khas Semarang ini.

Waktu saya bertugas di Tanjung Batu, Kepri, saya sering membeli goreng, istilah warga lokal untuk gorengan di kedai mak Iyah, tante kawan saya. Kedai mak Iyah menjual aneka gorengan pada umumnya. Selain itu ada juga roti goreng dan epek-epek, sejenis pastel mirip risol berisi potongan wortel. Gorengan yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Cara menikmati gorengan di Kepri cukup unik. Gorengan biasa dimakan dicocol dengan saus cabe dan potongan cabe rawit. Huh hah … pedas. 😀

Saat saya kuliah di Jakarta, gorengan favorit saya adalah cireng. Akronim dari “aci digoreng”. Bukan cireng yang isinya macam-macam. Namun, cireng biasa yang rasanya asin gurih. Saya suka sensasi saat makan cireng. Luarnya renyah tetapi dalamnya lengket karena tepung kanji (aci). Oya, saya pertama kali tahu ada makanan bernama cireng setelah tidak sengaja melihat tayangan infotainment di tv. Ceritanya saat itu ada liputan tentang penyanyi Mulan Kwok yang sering membuat cireng untuk anak semata wayangnya.

Setelah saya pindah ke kota Sungai Penuh di Jambi, saya menemukan gorengan jenis baru. Namanya sala lauak atau sering hanya disebut sala. Sebenarnya gorengan ini berasal dari ranah Minang. Bentuknya bulat mirip bola golf. Sala dibuat dari tepung beras. Sala dicampur rempah-rempah dan potongan daun kunyit sebelum digoreng. Rasanya asin dan agak pedas. Teksturnya renyah di luar, tetapi cukup lembut di dalam. Sala banyak ditemukan di daerah yang banyak warga keturunan Minang. Indonesia memang kaya dengan kulinernya 🙂

Foto sala dipinjam dari sini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s